
"Kenapa nggak mau? Setelah berpisah kamu bisa bersama Arya. Dan aku yakin ... sebelumnya kalian pasti sudah punya rencana untuk masa depan, tapi rencana itu hancur karena aku. Jadi nanti kalian berdua bisa memulainya dari awal lagi, Dek," jelas Rama yang terlihat santai. Tapi ketahuilah, dia mengatakan hal itu sambil menahan rasa sakit hatinya.
"Hubunganku sama Kak Arya sudah berakhir, A. Begitu pun dengan semua rencana kami." Sisil melepaskan pelukan, lalu menyeka air mata yang membasahi pipinya. "Dan masa depanku hanya bersama Aa. Hanya Aa," tambahnya.
"Tapi kamu selamanya nggak akan bahagi—" Ucapan Rama terpotong kala Sisil tiba-tiba mengecup bibirnya secara singkat.
"Aku bahagia, A."
"Tapi kamu nggak mencintaiku, bagaimana bisa—" Kembali, ucapan Rama terpotong akibat Sisil mengecup bibirnya.
"Aku sudah katakan, kalau aku akan mencintai Aa! Kita nggak boleh berpisah! Selamanya Aa hanya milikku, begitu pun sebaliknya." Sisil langsung mendorong dada Rama, hingga membuat pria itu terlentang di atas kasur.
Rama sontak terkejut, dengan bola mata yang membulat kala Sisil sudah duduk di atas perutnya sambil membuka bajunya. "Dek, kamu mau apa?"
"Bercintalah, apa lagi?" Sisil membungkukkan badan dan langsung meraup kasar bibir Rama. Namun baru saja dimulai, pria itu sudah mendorong kedua bahunya hingga ciuman itu terlepas.
"Tapi aku mau puasa hari ini, Dek."
"Masih ada waktu." Sisil menunjuk jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul setengah 4, kemudian mencekal kedua pergelangan tangan Rama dan menekannya. Supaya pria itu tak kembali menghentikan aksinya. "Mari bergoyang, A, sebelum datang waktu imsak," tambahnya dan kembali menautkan bibir.
Cup~
Buang jauh-jauh dulu rasa gengsi ingin diajak bercinta. Biarkan sekarang dialah yang langsung mengajak. Sebab rasanya Sisil bisa gila, jika harus kembali menahan hasrat.
Mengingat kalau hari ini adalah bulan Ramadhan. Siang-siang dilarang berhubungan badan.
'Mungkin dengan mengajaknya bercinta, keinginan Aa untuk menceraikanku akan sirna. Aku nggak rela, kalau sampai Gisel atau Fuji datang untuk merebutnya,' batin Sisil.
Rama kali ini diam dan pasrah, sambil merasakan apa yang Sisil lakukan. Ciuman gadis itu terasa penuh nafsu, hanya saja masih begitu amatir.
'Kenapa kamu memilih mencoba mencintaiku, Dek? Ketimbang kita pisah? Dan apakah aku harus mempercayaimu?' batin Rama bingung.
Setelah beberapa menit cukup lama berciuman, sekarang Sisil mulai turun ke arah leher.
Pria itu kembali terkejut saat istrinya dengan berani menjil*ti kulit lehernya, juga mengigit kecil hingga membuat dirinya mendesaah pelan.
"Aahh ...." Mata Rama sudah mengerjap beberapa kali dengan tubuh yang ikut meremmang. Dan tak lama, miliknya dibalik celana mengeras sempurna. 'Tumben, dia melakukan ini padaku. Biasanya 'kan nggak pernah.'
Meski menikmati, nyatanya Rama bertanya-tanya sendiri. Sebab memang biasanya Sisil lebih dominan ingin dipuaskan, jadi berpasrah saja. Tapi sekarang jelas dialah yang memulai duluan.
__ADS_1
*
*
*
"Mommy kok sahur nggak bangunin Daddy? Tega amat?" Mbah Yahya melangkah menghampiri meja makan sambil menggerutu, menatap istrinya yang telah selesai makan.
Segera dia pun menarik kursi di samping Yenny, lalu menuangkan nasi sepiring penuh.
"Ngapain juga Mommy bangunin Daddy? Daddy 'kan nggak puasa." Yenny memutar bola matanya dengan malas, lalu menuangkan air minum ke dalam gelas dan menenggaknya sampai tandas.
"Ya nggak puasa juga 'kan Daddy mau ikut sahur, Mom," balas Mbah Yahya. Memang dia biasa begitu setiap tahun. Meskipun tidak berpuasa—sahur dan berbuka tetap ikut. Mungkin tidaknya kalau tarawih saja. "Oh ya ngomong-ngomong ... di mana Sisil dan Rama? Apa mereka belum bangun?" tanyanya seraya menatap sekeliling. Mencari keberadaan anak dan menantunya.
"Udah. Tapi mereka ada di kamar."
"Ngapain dikamar? Kenapa nggak dipanggil suruh makan, Mom?" Mbah Yahya mulai menyuapi mulutnya dengan sepotong rendang.
"Mereka makan dikamar, Dad. Terus tadi, Sisil sempat nangis tau, Dad." Yenny memberitahu.
"Nangis?" Sebelah alis mata pria tua itu terangkat. "Kok bisaa nangis? Kenapa?"
"Masalah apa, Mom?"
"Ya Mommy nggak tau. Hanya menebak saja. Tapi menurut Daddy ... Sisil itu bahagia nggak, sih, menikah dengan Rama?" Yenny meminta pendapat.
"Ya bahagia lah, Mom. Rama ganteng, kaya raya, baik hati, penyabar, rajin sholat dan pintar menabung. Udah paket komplit, kenapa juga Sisil nggak bahagia?"
"Iya juga, sih." Yenny menganggukkan kepalanya. "Oh ya, gimana masalah cincin? Apa sudah ketemu?"
"Belum." Mbah Yahya menggelengkan kepalanya. "Rencananya pagi ini Daddy mau pergi sama Evan ke Banten, Mom. Tapi kayaknya Daddy bakal menginap di sana."
"Ke Banten mau apa? Dan kenapa pakai acara menginap segala?" tanya Yenny yang tampak curiga. "Jangan bilang Daddy punya istri baru!"
"Mana ada Daddy punya istri baru, Mom." Mbah Yahya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Cinta Daddy hanya untuk Mommy seorang. Sumpah."
"Terus alasan Daddy ke Banten mau apa?" tanya Yenny penasaran.
"Mau semedi di salah satu danaunya. Supaya cincin Daddy cepat ketemu."
__ADS_1
"Memangnya bisa, kalau kayak gitu?"
"Barang kali bisa. Mangkanya dicoba dulu." Malah Yahya mengangguk-angguk kepalanya.
"Oh gitu. Ya sudah nggak apa-apa. Tapi hanya sehari ya, Dad. Nggak boleh lebih."
"Pokoknya sampai Daddy menemukan petunjuk kalau cincin itu ketemu, Mom. Daddy baru pulang."
"Dih, janganlah, Dad. Mommy kesepian dong."
"Mommy puasa dulu," jawab Mbah Yahya, yang mengerti arti kesepian yang Yenny maksud. "Nanti setelah Daddy berhasil mendapatkan petunjuk ... tentang keberadaan itu cincin, baru deh Daddy pulang. Nanti sepuasnya kita bercinta."
"Ya sudah deh." Yenny merengut lesu. Sebenarnya dia tidak mau, hanya saja tak mungkin dia menolak apa yang diinginkan suaminya itu. "Nanti video call, ya, pas lagi semedinya, Dad."
"Mana ada orang semedi video callan, Mom. Yang ada ilmunya nggak sampai," kekeh Mbah Yahya sambil geleng-geleng kepala. "Aneh deh Mommy."
"Ah ya sudah deh," balas Yenny cemberut.
Dia pun berdiri dan langsung menuju dapur untuk mencuci tangan, sedangkan Mbah Yahya menambah kembali nasinya.
***
Ting, tong!
Ting, tong!
Evan berdiri di depan kamar apartemen Gisel, yang bertetanggaan dengannya. Kedatangannya tidak ada niat apa-apa sebenarnya, hanya ingin menyapa saja. Sebab dari semalam—dia tak melihat gadis itu keluar kamar.
"Pak Evan cari siapa?" tanya seseorang yang baru saja menghampiri. Dan saat Evan menoleh, ternyata itu adalah satpam apartemen.
"Cari Nona Gisel, Pak," jawab Evan sambil tersenyum.
"Nona Gisel sudah pindah, Pak."
"Pindah?!" Kening Evan mengerut. "Pindah ke mana, dan dari kapan, Pak?" tanyanya lagi dengan penasaran.
"Sore kayaknya, Pak. Tapi pindahnya saya sendiri nggak tau ke mana."
Evan langsung mengerucutkan bibirnya, terlihat tak senang mendengar gadis itu pindah tanpa tahu keberadaannya. 'Aku harus cari tau di mana dia pindah, pokoknya aku nggak mau Nona Gisel lepas dari pengawasanku,' batinnya sambil menggosok batu akik pada jari manisnya.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^