Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
103. Dari segi rasa juga beda


__ADS_3

Beberapa menit kemudian. Mereka pun sampai di restoran yang letaknya di dekat pusat perbelanjaan kawasan Dongdaemun. Masih di Seoul juga, tapi ada banyak pedagang yang menjajakan dagangannya di sana.


Sisil dan Rama langsung turun bersama, kemudian berjalan menuju restoran. Sebelumnya masuk, gadis itu menatap sekitar dulu, melihat-melihat jajanan apa yang ada di sana.


"Apa ada yang kamu pengen, Dek?" Rama menghentikan langkahnya di pintu kaca. Barangkali saja Sisil berubah pikiran, jadi menginginkan makanan yang ada di sana ketimbang ketoprak yang menurutnya susah didapat.


"Nggak Om. Aku kepengennya ketoprak," jawab Sisil dengan gelengan kepala. Rupanya dia masih teguh pada pendirian.


Sisil pun yang ikut menjeda langkahnya tadi lantas melanjutkan, hingga keduanya sama-sama masuk ke dalam restoran yang cukup mewah itu.


"Welcome and please come in. What would you like to order Sir... Miss?" Seorang pelayan pria menyambut kedatangan mereka di dekat pintu. Di juga langsung menyodorkan buku menu yang dipegang.


Akan tetapi Rama menolak untuk mengambilnya, dan langsung bertanya tentang tujuannya datang. "Evening, sir. Does this restaurant sell ketoprak?"


"Sorry, no, sir. Could it be that you want something else?" Pelayan pria itu menggeleng. Dia mengatakan tidak ada tapi menawarkan menu yang lain.

__ADS_1


"If I don't have one, I won't order, sir." Rama menggeleng, tak menerima tawarannya. Setelah itu dia mengajak Sisil untuk keluar dan masuk lagi ke dalam mobil.


*


*


30 menit berlalu, mereka akhirnya berhenti di depan restoran ke 3. Lantas keduanya turun dari mobil dan masuk lewat pintu kaca.


"Welcome and please come in. What would you like to order Sir... Miss?" Seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat pintu menyambut kedatangan mereka. Dia adalah manager restoran di sana.


"Selamat malam, Pak. Apa di sini Bapak menjual ketoprak?" tanya Rama langsung ke inti.


"Wah ... ternyata Bapak dan Nona ini orang Indonesia, ya?" Pria itu pun menanggapi dengan bahasa Indonesia juga. Ternyata memang benar, dia orang Indonesia.


"Iya." Rama mengangguk. "Jadi di restoran ini ada nggak?"

__ADS_1


"Maaf banget, Pak. Di sini nggak ada menu ketoprak. Tapi ada yang lain kok dan nggak kalah enak dari ketoprak." Pria itu segera memberikan buku menu kepada Rama, yang dia ambil di atas meja.


Ada baso sapi dan ayam, berbagai macam sate. Ayam, usus, ati, sapi, kambing. Ikan bakar dan ayam bakar. Jelas juga, yang dia jual adalah makanan halal.


"Nih, Dek, mending sate saja. Pasti ada lontongnya," saran Rama. Dia tentu tau jika ketoprak menggunakan lontong, selain itu juga dengan bumbu kacang yang pastinya itu dimiliki oleh sate.


"Iya, satenya pakai lontong di sini, Nona," sahut pria paruh baya.


"Nggak mau." Sisil menggeleng. "Dari segi rasa juga beda."


"Kalau dibuat bumbu ketoprak bisa nggak, sih, Pak? Bumbu satenya? Kan bumbunya agak mirip," tanya Rama. Sebuah ide muncul di otaknya lantaran merasa lelah mencari, ditambah dia juga menahan ngantuk.


"Nggak bisa, Pak." Pria itu menggeleng. "Meskipun memang pakai bumbu kacang dan lontong ... tapi tetap ada banyak bumbu yang berbeda."


"Coba Bapak cari yang bedanya apa, terus minta chef di sini untuk bikinin ketoprak. Nanti aku bayar dua kali lipat atau lima kali lipat juga nggak apa-apa deh," pinta Rama. Daripada mencari ketempat lain, lebih baik meminta orang untuk membuatkannya. Tidak apalah kalau bayarnya mahal. Yang penting dia bisa cepat pulang dan melihat Sisil makan malam.

__ADS_1


...Enak banget, ya, jadi Sisil 🤣...


__ADS_2