
"Bukan gatel, Dad. Dia itu kangen sama Rama," balas Yenny yang terdengar membela.
"Tapi kayak nggak sabaran gitu, Mom. Kasihan Ramanya."
"Rama pasti kuat, Dad, lagian wanita yang sedang hamil 'kan gampang capek. Pasti si Sisil minta juga cuma sekali."
"Masa, sih? Bukannya wanita hamil itu gede nafsu, ya?"
"Ih kata siapa? Enggaklah," kilah Yenny sambil menggelengkan kepala.
"Mommy dulu pas hamil Rima begitu? Lupa, apa, ya?"
"Opa sama Oma bahas apa, sih? Aku nggak ngerti deh," ucap Raisa bingung.
"Ah enggak, kami enggak bahas apa-apa kok, Nak." Yenny menggeleng, lalu tersenyum menatap cucunya. "Udah ... sekarang kalian lanjutkan makannya, ya? Atau mau nambah?"
*
*
*
Sampainya dikamar, Sisil langsung berjinjit dan menyambar bibir Rama. Padahal Rama sendiri baru menutup pintu.
Cepat-cepat Rama pun mengunci kamar, supaya tak lupa dan khawatir jika nanti ada yang masuk tanpa izin.
__ADS_1
"Dek ... tunggu dulu!" Rama mendorong pelan tubuh Sisil, saat perempuan itu hendak melummat bibirnya.
"Kenapa? Aa nggak suka aku cium, ya?!" sewot Sisil sambil melotot. Tentulah dia marah, sebab lagi birahi justru Rama seakan menolaknya.
"Aku suka, Dek, tapi kita musti sholat Magrib dulu."
"Nanti saja sholatnya, habis bercinta, A!" rengek Sisil.
Dia pun menarik kuat tubuh Rama ke arah kasur hingga pria itu kini terlentang di atas sana. Segera, dia pun naik ke atas tubuh Rama, tapi saat dirinya hendak melepaskan gaun—pria itu kembali mencegahnya.
"Waktu Magrib terlalu singkat, Dek. Jangan sampai karena hawa nafsu, kita sampai meninggalkannya. Ingat juga kalau tanpa Allah aku nggak akan bisa kembali sehat seperti sekarang," tegur Rama menasehati. Pikirannya masih waras meskipun dia juga sama-sama menginginkannya. "Sholat dulu, ya?" ajaknya lalu mengelus pipi kanan Sisil. Rama juga bangkit dan langsung mengecup bibirnya secara singkat.
Sisil mengangguk samar, lalu menangkup kedua pipi Rama. "Tapi Aa musti janji sama aku," pintanya dengan napas yang memburu. Dia betul-betul menahan hawa nafsu yang sudah bergejolak di dalam dada.
"Janji apa lagi, Dek?"
"Aku janji, Dek. Dan aku akan membuat kamu puas malam ini," jawab Rama, lalu mengendong Sisil dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Kalau puas berarti nggak cuma satu ronde, A."
"Hari ini satu dulu, besok baru lanjut lagi."
"Ah Aa!" Sisil mencebik.
*
__ADS_1
Setelah melaksanakan sholat berjamaah 3 raka'at dan berdo'a, Sisil pun buru-buru membereskan mukenahnya.
Tak hanya itu, untuk mempercepat waktu dia juga membantu Rama untuk melepaskan baju koko serta sarung. Barulah setelah itu dia menarik Rama untuk berbaring di atas kasur.
Cup~
Penyatuan bibir itu langsung dilakukan, saat dimana Sisil berada di atas tubuh Rama. Sisil juga menarik tangan Rama untuk menyentuh punggungnya yang terdapat resleting gaun, mengisyaratkan supaya pria itu membukakan pakaiannya.
Setelah tubuh keduanya sama-sama polos, Rama pun berguling, hingga sekarang posisinya berada di atas tubuh Sisil.
Langsung dia berikan kecupan mesra dileher dan dadanya, sampai-sampai membuat tubuh Sisil semakin bergejolak meminta lebih. Perempuan itu juga sejak tadi tak henti-hentinya untuk terus mendesaah.
"Langsung masukkin aja, A," pinta Sisil dengan tatapan sayu.
Rama yang sudah melebarkan paha istrinya hendak bermain di bawah sana akhirnya diurungkan, karena permintaan dari Sisil langsung.
"Apa kamu nggak mau dibelai dulu sama lidahku, Dek? Bukannya udah lama? Aku juga rindu dengan aromanya." Rama menelan saliva, lalu mengelus inti tubuh istrinya yang terasa sangat basah.
Sisil mengangguk sambil mengigit bibir. "Mau, A. Tapi aku takut nantinya keburu keluar. Aku maunya keluar pas kita saling menyatu."
"Oh ya sudah, kalau itu keinginanmu." Rama mengecup sebentar milik Sisil supaya dia dapat menghirup aromanya. Baru lah dia pun mengatur posisi dan berancang-ancang dengan miliknya.
"Nanti saja ya, A, pas ronde kedua. Nanti Aa bisa puas-pu ... Aahhh!" Ucapan Sisil pun terputus disaat Rama sudah memasukkan miliknya di dalam sana.
"Sempit banget, Dek, apa mungkin karena udah cukup lama, ya?" Mata Rama seketika berbinar dengan jantung yang berdebar, lalu dia pun mulai menggoyangkan pinggulnya. Sedangkan Sisil sudah menjerit kenikmatan.
__ADS_1
...Kasih Vote dan Hadiahnya dulu dong, Guys, biar Om Rama makin semangat goyangnya. Eh ralat! maksudnya, biar Author semangat nulisnya 🤣✌️...