
"Boleh aku tau, alasan Mas ingin menjadikanku pacar?"
Sebelum Tuti menjawab, dia lebih dulu bertanya, dan ini tentang hati. Dia tak mau, kalau Gugun hanya bermain-main dengan perasaannya, hingga membuatnya patah hati.
"Karena aku mencintai Nona, menyukai dan juga menyayangi," jawab Gugun dengan sungguh-sungguh. Terlihat dari bola matanya, dia sangat jujur dan bisa jadi apa yang terlontar dari mulutnya itu seratus persen dari hati.
"Apa yang buat Mas mencintaiku? Soalnya dulu saja Mas seperti membenciku?" Tentu Tuti tak akan melupakan apa yang terjadi sebelumnya bersama Gugun. Dan bagaimana sikapnya terhadap dirinya.
"Aku dari dulu nggak pernah membenci, Nona." Gugun menggeleng cepat. "Malah, dari awal bertemu aku sudah tertarik. Dan aku sangat yakin, jika Nona adalah jodohku."
"Kok bisa, Mas yakin aku adalah jodoh, Mas? Bahkan setiap kali bertemu saja kita selalu berantem."
"Kapan kita berantem? Nggak pernah perasaan. Kan dari awal, Nonanya saja yang salah paham kepadaku."
__ADS_1
Yang Gugun tahu, pertemuan pertama mereka adalah dipesta pernikahan Rama dan Sisil, saat dimana dirinya memberikan jas tapi Tuti justru marah-marah karena menganggap Gugun hendak melecehkannya di dalam mobil, yakni pertemuan pertama mereka.
Jelas bahwa di sini, Gugun belum merasa dua Tuti yang dia kenal adalah orang yang sama.
"Tapi alasan Mas yakin padaku itu apa? Aku saja nggak tau, siapa jodohku kelak."
"Banyak perempuan cantik dan baik diluar sana. Tapi Nona yang satu-satunya perempuan yang memikatku dalam sekali pertemuan. Bisa dibilang ... aku jatuh cinta pada pandangan pertama," jelas Gugun yang mana membuat wajah Tuti merona.
"Mas nggak bohong sama aku, kan?" tanya Tuti memastikan. Entahlah, dia merasa masih ragu dan tak percaya. Jika pria yang pernah berniat memenjarakannya sekarang telah jatuh hati kepadanya.
"Iya." Tuti mengangguk.
"Sama sekali nggak, Nona." Gugun menggelengkan kepalanya, lalu menarik tangan Tuti dan menempelkannya ke arah dada. Supaya gadis itu dapat merasakan secara langsung betapa berdebarnya jantungnya saat ini. "Nona pasti merasakan atau bahkan mendengar suara detak jantungku, kan?" Menatap lekat kepada Tuti dan gadis itu langsung mengangguk. "Itu karena memang aku sangat-sangat memiliki perasaan kepada Nona. Jadi bagaimana? Apakah aku diterima?"
__ADS_1
"Ya," jawab Tuti sambil mengangguk.
"Benarkah?" Gugun membulatkan matanya yang sudah berbinar. Secara refleks dia pun langsung memeluk tubuh gadis itu, kemudian menghirup dalam aroma tubuhnya yang begitu wangi dan membuatnya makin meleleh. "Terima kasih, Nona, terima kasih telah menerima cintaku. Aku akan berjanji untuk menjadi pria yang setia."
Setia katanya? Sepertinya pria berkumis tipis itu benar-benar sudah melupakan Gisel yang menjadi pacarnya. Sebab sejak bertemu Tuti, pikirannya hanya berpokus pada dirinya saja. Sampai tak ada celah untuk orang lain.
"Sama-sama, Mas." Tuti mendorong pelan tubuh Gugun dan secepatnya pria itu melepaskan pelukan.
"Maaf, Nona. Bukan maksud aku lancang. Tadi hanya refleks karena sangking senangnya. Aku benar-benar nggak ada maksud untuk bersikap kurang ajar dan—"
"Nggak apa-apa, Mas. Santai saja," potong Tuti cepat lalu tersenyum. Dilihat memang wajah Gugun tampak panik untuk mencoba menjelaskan, dia khawatir kalau Tuti berpikir macam-macam tentangnya. "Tapi, Mas. Kalau bisa, aku nggak mau pacaran lama-lama."
"Maksudnya, Nona ingin cepat menikah denganku?" tebak Gugun dengan bola mata yang berbinar. "Besok menikah pun aku siap, Nona. Apa Nona mau aku nikahi besok?" ajaknya tanpa banyak berpikir.
__ADS_1
...Walah kebelet bener 🤣 masa si Gisel langsung ditinggal nikah untuk kedua kalinya 😆...