Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
40. Cuma aku yang bisa menerimamu


__ADS_3

Setelah dirasa cukup aman, tak melihat sosok Mbah Yahya di mana-mana, barulah Gisel melangkah cepat. Kemudian menarik kursi kosong di depan meja Rama.


"Malam Mas Rama," sapanya sambil tersenyum manis, lalu duduk dengan anggun.


Rama tersentak dari lamunannya, dan langsung menatap ke arah Gisel. "Ah kamu, Sel. Mau apa?"


"Aku samperin Mas karena aku lihat Mas sepertinya butuh teman." Tangan kanan Gisel menjulur, lalu meraih punggung tangan Rama di atas meja dan mengusapnya dengan lembut. "Mas sepertinya ada masalah, ya? Masalah apa?" tanyanya penasaran. Suaranya itu terdengar begitu mendayu-dayu.


"Nggak." Rama menggeleng cepat. Dia langsung menarik lengannya dari tangan Gisel sebab merasa risih. Secangkir kopi miliknya yang sudah dingin itu perlahan dia seruput.


"Nggak kenapa-kenapa kok kayak sedih gitu? Oh ya, aku minta maaf kalau selama ini aku punya salah, ya, sama Mas. Tapi aku mau hubungan kita dekat lagi seperti dulu," pinta Gisel.


"Perasaan dari dulu kita nggak pernah deket deh," ujar Rama dengan acuh tak acuh.


"Mas mau ke mana?" Gisel langsung mencekal lengan Rama saat pria itu baru saja berdiri. "Kita sudah lama bertemu lho. Aku kangen, Mas," rengeknya manja.


"Aku sibuk, Sel." Rama menepis tangan Gisel, kemudian melambaikan tangannya kepada pelayan yang berdiri di depan meja kasir yang kebetulan dia tengah menatap ke arahnya. Setelah perempuan berseragam itu mendekat, Rama langsung memberikan uang sejumlah 100 ribu ke tangannya. Tanpa meminta bilnya terlebih dahulu. "Aku duluan, ya?" pamit seraya tersenyum kecil kepada Gisel, kemudian melangkah cepat keluar dari sana.


Padahal Rama masih kurang melamunnya. Namun melihat kehadiran gadis itu, tentunya membuat acara lamunannya berantakan. Lebih baik, Rama melanjutkan lamunannya di rumah saja, sambil tiduran.


"Mas Rama! Tunggu!" teriak Gisel. Dia sebetulnya ingin sekali mengejar. Akan tetapi takut jika nantinya Rama merasa risih. Gisel tak mau sikap pria itu makin dingin kepadanya. 'Padahal Tari sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, tapi Mas masih terus saja dingin kepadaku. Sampai kapan, sih, pintu hati Mas Rama terbuka untuk Adek Gisel yang unyu ini?' Gisel mendengkus dengan dada yang bergemuruh. 'Padahal cuma aku yang bisa menerimamu, Mas. Hanya aku satu-satunya di dunia ini.'


"Haaahhh ...." Gisel mendeesah kesal lalu menyeruput sisa kopi yang diminum Rama, sebelum pelayan itu hendak mengambilnya. Setelah itu dia kembali duduk dan menelepon temannya.


***


Rama tiba di rumahnya. Langkah kakinya seketika terhenti di ruang tamu sebab melihat ada Mbah Yahya di sofa.


Pria tua itu tengah duduk dengan mulut yang menganga, matanya terpejam dan dia terlihat seperti belum mandi. Wajahnya berminyak sekali seperti wajan tempe mendoan.


Rama melihat, sudut bibir sebelah kirinya mengeluarkan air liur. Sudah biasa sebenarnya, dia melihat pemandangan seperti itu. Mbah Yahya juga orangnya suka ketiduran dengan tak mengenal tempat.


"Assalamualaikum. Daddy ngapain tidur di sini?" tanya Rama. Dia mendekat lalu meraih beberapa lembar tissue di atas meja, kemudian mengusap iler Daddynya dan menggoyangkan tubuhnya supaya dia terbangun. "Dad! Bangun!"

__ADS_1


Mbah Yahya tersentak dengan kedua bola mata yang terbuka secara paksa. "Aaakkhh!" pekiknya lalu mengusap dada sebab begitu berdebar.


"Maghrib-maghrib bukannya mandi terus sholat, ini malah tidur," tegur Rama.


"Siapa yang tidur?" omel Mbah Yahya seraya mengusap bibirnya dan mengucek kedua mata yang terlihat rabun dalam penglihatannya. Dia juga langsung memperhatikan wajah Rama yang tampak berbeda seperti biasanya. Jauh lebih tampan. "Habis potong rambut tambah mirip saja kamu dengan Daddy, Ram. Ganteng. Tapi kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Mbah Yahya penasaran.


"Nggak apa-apa kok, Dad," jawab Rama sambil tersenyum. Akan tetapi rona kesedihan diwajahnya masih terlihat jelas.


Alasan Rama tak cerita karena takut jika nantinya Mbah Yahya marah lalu mengirim pelet kepada Sisil. Jalur instan memang mudah, tetapi kita tak tahu akan bertahan berapa lama. Selain itu, memang dari awal Rama tak setuju.


Meskipun sudah dua kali ditolak, nyatanya Rama masih ingin berjuang untuk mendapatkan Sisil.


Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan hidupnya dari keterpurukan lantaran burungnya mati. Sebagai pria sejati dan bertanggung jawab, Rama tak akan mudah menyerah.


"Nggak apa-apa kok sedih gitu tampangmu? Kamu habis dari mana, sih? Daddy menunggumu daritadi tahu, sampai ketiduran di sofa."


"Aku tadi ngopi diluar sebentar," jawab Rama pelan.


"Oh ya, Daddy ada berita bagus untukmu. Ayok kemari, duduk." Mbah Yahya menepuk dudukan sofa di sampingnya.


"Sebentar saja." Mbah Yahya menarik lengan Rama. Anaknya itu akhirnya menurut. Perlahan dia duduk di samping Mbah Yahya sembari melepaskan jaket.


"Ada apa, Dad?"


Mbah Yahya meraih tangan Rama, lalu menggenggamnya dengan erat. "Kamu sebentar lagi akan menikah sama Sisil, Ram."


"Maksudnya?" Kening Rama mengernyit. Dia tampak heran.


"Ya kamu akan menikah sama Sisil. Tadi si Kumis Lele datang, dia bilang Sisil setuju untuk menikah denganmu."


"Kumis Lele itu siapa?"


"Si Gugun."

__ADS_1


"Masa sih, Kak Gugun datang ke sini?"


"Iya."


"Daddy bohong pasti." Rama tampak tak percaya.


"Serius. Masa Daddy bohong. Kalau nggak percaya kamu bisa tanya satpam depan, atau Mommy. Pas Gugun datang dia yang membukakan pintu."


Rama langsung berdiri kemudian melangkah menuju ruang keluarga. Di sana ada Yenny yang tengah berjoget di depan TV sambil menonton film India. Mbah Yahya juga ikut menyusul Rama.


"Mom, memangnya tadi ada Kak Gugun datang ke sini?" Pertanyaan dari Rama seketika membuat Yenny menghentikan gerakan pinggulnya, lalu dia pun menoleh.


"Siapa Kak Gugun?" Yenny berbalik tanya. Padahal Gugun tadi sudah menyebutkan nama, hanya saja mungkin Yenny lupa.


"Tamu yang tadi, Mom, yang kumisan." Yang menjawab Mbah Yahya.


"Oh. Namanya Gugun? Iya, dia tadi datang ke sini, kenapa memangnya?" Yenny menatap Rama.


"Emangnya bener, Kak Gugun bilang Sisil setuju menikah sama aku?" tanya Rama.


"Sisil siapa?" Yenny yang tak tahu apa-apa jelas bingung.


"Kamu kok nanya Mommymu, sih?" sahut Yahya seraya menepuk pundak kiri Rama. "Mana tahu dia, Ram. Pas Daddy ngobrol sama Gugun, kami hanya empat mata."


"Oh, tapi kenapa Mommy nggak Daddy ajak? Mommy juga 'kan musti dikasih tahu tentang apa yang telah terjadi pada hidupku," ujar Rama.


"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Yenny penasaran. Dia merasa bingung dan memang tak tahu apa-apa. Kedua manik matanya itu menatap anak dan suaminya. Dia memicing dengan penuh curiga. "Mommy ketinggalan sesuatu, ya? Kok kalian tega, sih?"


"Ayok, Daddy kasih tahu." Mbah Yahya menarik tangan sang istri lalu membawanya untuk sama-sama duduk di sofa panjang. Kemudian mematikan tv, supaya nantinya pembicaraan yang akan dia bahas dapat diterima dengan jelas. Rama pun ikut duduk, tetapi dia di kursi single di dekat Mbah Yahya.


"Biar aku saja yang cerita, Dad." Rama langsung membuka suara, tepat di mana Mbak Yahya sudah menganga hendak berucap.


"Ya sudah," sahut Mbah Yahya memberikan izin.

__ADS_1


"Beberapa hari yang lalu. Mungkin sudah ada seminggu. Aku nggak sengaja memperkosa seorang gadis, Mom," ucap Rama memberitahu. Hanya baru sedikit dia bercerita, akan tetapi Yenny langsung bergelak tawa. "Lho, kenapa Mommy ketawa?" tanyanya heran.


...Mau satu bab lagi, nggak? 🤭...


__ADS_2