Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
58. Cantik sekali


__ADS_3

Setelah do'a itu selesai dipanjatkan, mereka lantas bertukar cincin nikah. Ada kameramen juga di depan mereka yang sejak tadi sibuk mengabadikan momen. Dari mulai foto dan juga video.


Rama membuka kotak cincin di atas meja, cincin itu ada sepasang dan ada namanya masing-masing di dalamnya. Ukuran Sisil ada nama Rama, dan ukuran Rama ada nama Sisil.


Bentuk, ukuran dan modelnya Rama sendiri yang desain kemarin, hanya saja yang mengerjakannya anak buahnya yang toko. Masing-masing dari cincin itu ada berlian kecil di tengah-tengah.


"Kamu dulu Nak Sisil, yang pasangkan untuk Rama," ucap Yenny memberitahu dengan suara pelan. Sebab sejak tadi gadis itu diam saja.


Sisil mengangguk, dia lantas mengambil cincin ukuran yang besar kemudian meraih tangan Rama dan menautkannya pada jari manis. Setelah itu dia mencium punggung tangannya dan Rama langsung mengelus rambut Sisil sambil mengulas senyum.


"Terima kasih, Sayang," ucap Rama dengan lembut. Kemudian giliran dia yang memasangkan cincin untuk Sisil.


Berhubung sudah ada cincin tunangan dijari manisnya, jadi Rama memindahkan cincin itu ke jari tengah, biar nanti cincin nikah yang ada dijari manis.


"Jangan pernah dilepas, ya, kecuali memang sudah sempit. Nanti aku ganti," tegur Rama.


"Iya, Om, terima kasih," sahut Sisil pelan dengan anggukan kepala.


Rama perlahan menangkup kedua pipi Sisil dan seketika membuat jantung gadis itu berdebar kencang. Perlahan dia mendekat, Sisil sudah memejamkan matanya dengan bibir yang bergetar.


'Apa dia akan mengajakku ciuman? Tapi kenapa harus di depan banyak orang?! Aku malu,' batinnya.


Sejujurnya Sisil tidak mau dan ingin menolak, hanya saja dia menahan diri sebab takutnya tindakan yang dia lakukan membuat Rama atau mertuanya kecewa. Nasihat Gugun kemarin tentu sangat dia ingat dengan baik.


Cup~


Satu kecupan berhasil mendarat dan membuat kedua pipi itu merona. Hanya saja Sisil langsung membuka mata sebab yang Rama cium ternyata kening, bukan bibir yang dia pikirkan.


'Oh ya ampun, ternyata dia hanya cium kening. Jantungku sudah hampir mau copot karena sangking malunya dilihat orang,' batin Sisil sembari mengelus dada.


Dia berdusta. Padahal yang membuatnya berdebar karena dirinya mengira Rama ingin mengajaknya berciuman. Itu yang utama.


"Kamu cantik sekali, Dek, Mas cinta sama kamu." Rama melepaskan pipi sang istri yang masih memerah itu, kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


'Kan aku sudah bilang, jangan panggil Dek-Dek segala. Kenapa malah manggil Dek lagi, sih?' Sisil mendengkus dalam hati.


Setelah itu, mereka menyalami Mbah Yahya, Yenny dan Gugun. Meminta doa kepada mereka dan mereka langsung mendoakannya. Kemudian, Rama mengenalkan Mbak dan Kakak iparnya. Sekalian meminta do'a kepada mereka juga.

__ADS_1


"Dek, ini Mbakku. Namanya Rima," ucap Rama seraya menatap wanita yang umurnya lebih tua satu tahun darinya. Dia cantik, mirip seperti Yenny.


"Hai Mbak Rima," ucap Sisil lalu mencium punggung tangannya.


Rima tersenyum dan langsung memeluk tubuh Sisil, lalu mengelus punggungnya dengan lembut. "Hai juga, Sil. Mbak hanya ingin berpesan padamu, tolong jangan pernah sakiti Rama. Dia pria yang baik dan pasti setia," ucapnya lirih.


"Iya, Mbak." Sisil mengangguk lalu tersenyum. Perlahan pelukan itu terurai.


"Ini Kakak Iparku, namanya Panji." Kini Rama beralih mengenalkan seorang pria tampan berumur 44 tahun, suami dari Rima.


"Salam kenal Kak Panji." Sisil meraih tangannya, lalu mencium punggung tangan. Panji perlahan mengelus puncak rambut Sisil.


"Semoga kalian selalu bahagia dan cepat diberikan momongan," ucap Panji mendo'akan.


"Amin." Yang mengaminkan semua orang, kecuali Sisil yang diam dan hanya tersenyum.


"Dan yang terakhir ini, Dek." Rama mengarah tangannya kepada kedua gadis berusia 17 tahun. Rambutnya panjang sepunggung dan mereka begitu mirip, mungkin bedanya salah satu dari mereka memiliki tahi lalat di dagu bawah. Mereka memang kembar. "Yang ini Raisa dan ini Raina."


"Hai Raisa, Raina." Sisil tersenyum dan menjabat tangan mereka bergantian. Keduanya langsung memeluk tubuh Sisil.


"Hai Mbak. Eh, maksudnya Tante," ralat Raisa. Wajah dan umur Sisil memang masih pantas dipanggil dengan sebutan 'Mbak' untuknya, hanya saja dia harus menghormati Rama yang jadi Omnya.


"Terima kasih," ucap Sisil.


"Umur Tante berapa?" tanya Raisa seraya mengelus tangan Sisil.


"19."


"Wah, Om Rama dapat daun muda nih!" seru Raina menggoda Rama. Dia juga menoel lengannya.


"Iya, pasti Kakek ngasih pelet sama Tante Sisil, biar dia mau sama Om Rama." Raisa menimpali sambil terkekeh.


"Enak saja kalau bicara!" omel Mbah Yahya sambil melotot. Kedua gadis itu justru malah tertawa.


"Bercanda, Kek," balas Raina.


"Kan Opa sudah bilang, panggilnya Opa. Kenapa Kakek lagi?!" tanya Mbah Yahya marah. Sebenarnya sama saja, Opa dan Kakek maknanya. Hanya saja tidak keren menurutnya.

__ADS_1


"Iya, Opa," ucap Raina.


"Maaf, apa sudah selesai?" tanya seorang wanita yang memakai seragam berwarna merah. Dia salah satu tim WO yang mengurus acara pernikahan mereka.


Sisil dan Rama langsung menoleh ke arahnya dengan kening yang mengerenyit.


"Nona Sisil dan Pak Rama akan sesi foto dulu, setelah itu kalian berganti pakaian dan berdiri di pelaminan," ucapnya memberitahu.


"Nanti aku ganti pakai gaun, Mbak?" tanya Sisil.


"Betul, Nona." Wanita itu mengangguk.


"Tapi bukannya gaun untuk malam, kata Mommy?" Sisil menatap ke arah Yenny.


"Nggak apa-apa, Sayang, ganti sekarang saja," sahut Yenny sambil tersenyum.


"Oh ya sudah." Sisil mengangguk patuh.


"Mari Nona dan Pak Rama ikut saya," ajak wanita itu lalu melangkah pergi.


Rama langsung mengenggam tangan Sisil dan mengajaknya melangkah bersama. Kalau tidak dipegang khawatir kalau jatuh, sebab rok batiknya cukup panjang.


"Ayok, Dek," ajaknya. Sisil hanya mengangguk dan mereka melangkah bersama mengekori wanita WO tadi.


"Kamu makan dulu, Gun," tegur Mbah Yahya yang tak sengaja mendengar suara yang berasal dari perut Gugun. "Masa adiknya nikah kamu kelaparan? Oh apa kamu malu, mau aku temani?"


"Nggak usah, Pak. Aku sendiri saja." Gugun tersenyum. Kemudian melangkah menuju prasmanan.


Namun, seketika langkahnya itu terhenti kala melihat seorang gadis yang tengah makan dengan lahap duduk di kursi tamu. Dia sangat cantik. Rambutnya panjang dan agak ikal berwarna coklat. Kulitnya putih dan tubuhnya kurus namun seksi sebab dadanya terlihat besar.


Dia memakai dress brokat berwarna putih, model Sabrina dengan panjang selutut. Hanya saja terlihat sekali dia seperti tak nyaman dengan baju yang dikenakan. Itu bisa dilihat sebab berulang kali dia menarik kerah bajunya ke atas, lantaran punggung dan dadanya terekspos jelas.


'Siapa dia? Cantik sekali.' Gugun melanjutkan langkahnya sembari melepaskan jas. Setelah cukup dekat dengan gadis itu perlahan Gugun mengulurkan tangannya untuk memberikan jasnya. Niatnya ingin memberikan benda itu kepadanya. "Maaf menganggu, Nona. Nona bisa pakai jas ini, siapa tahu perlu," ucap Gugun pelan.


Gadis yang masih mengunyah nasi dan rendang itu perlahan mengangkat wajahnya untuk dapat melihat Gugun. Namun saat pandangan mereka bertemu, dia sontak terkejut dengan membelalakkan mata.


"Bapak ngapain di sini?! Jangan kurang ajar, ya!" teriaknya yang tiba-tiba marah.

__ADS_1


...Padahal niat Om Gugun baik, kok dikira dia kurang ajar 🤣 kecuali dia buka celana di depanmu, baru tuh kamu teriak-teriak 🤪...


__ADS_2