Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
101. Pengen ketoprak


__ADS_3

"Ya jangan mati juga dong, Sel, nanti nangis keluargamu," sahut Olla menasehati. "Oh ya, ngomong-ngomong ... tadi sore kok kamu bisa pelukan sama Pak Gugun? Apa kamu nggak dimarahi dia, ya, kan sempat mengacaukan pesta."


"Siapa Pak Gugun? Dan pesta apa yang kamu maksud?" tanya Gisel bingung.


"Pria berkumis yang pelukan sama kamu di cafe itu Pak Gugun namanya. Masa kamu nggak inget?"


"Oh, jadi dia Pak Gugun namanya? Tapi aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, La. Aku kenal juga nggak."


"Aneh ya kamu, Sel, nggak kenal tapi bisa peluk-peluk sembarangan. Kayak perempuan gatal saja," cicit Olla.


"Enak saja kalau bicara!" berang Gisel marah. Matanya langsung melotot. "Aku bukan perempuan gatal, La. Aku hanya butuh pelukan saja karena lagi galau! Kan kamu tau itu!"


"Iya, sih, maaf kalau gitu. Tapi kamu sempat dimarahi dia nggak?"


"Nggak. Ngapain aku dimarahi!" ketus Gisel.


"Tapi kata suamiku dia itu kakak iparnya Pak Rama lho, Sel. Oh ... atau mungkin dia nggak tau pas kamu datang kali, ya?"


"Kakak ipar apaan sih kamu, La. Mas Rama itu hanya punya 1 kakak ipar dan namanya Panji. Aku juga tau dia." Gisel makin pusing dengan apa yang Olla bahas. Sebab menurutnya tidak nyambung.


"Bukan Kakak ipar yang itu, tapi Pak Gugun itu Kakaknya istri Pak Rama, Sel."


Gisel langsung terdiam. Hening sesaat dan beberapa menit kemudian dia pun berkata, "Serius nggak kamu, Pak Gugun kakak iparnya Mas Rama?"


"Seriuslah. Suamiku sendiri yang bilang, kebetulan dia juga katanya kenal karena pernah satu sekolah bareng."


"Bagus kalau begitu." Gisel langsung tersenyum menyeringai. Sebuah ide cemerlang seketika melintasi otaknya. Apalagi dia ingat, pria itu pernah mengungkapkan jika dirinya belum menikah.


"Bagus apa maksudmu?" tanya Olla heran.


"Ya bagus aja. Aku minta nomornya dong, kamu punya nggak?"


"Suamiku kayaknya punya. Tapi buat apa, sih?"


"Aku ada perlu. Kebetulan kemarin itu ada sapu tangan miliknya yang tertinggal sama aku, La," ucap Gisel beralasan.


"Oh. Ya sudah ... besok aku minta ke suamiku. Sudah dulu kalau begitu ya, Sel. Kamu jangan banyak pikiran dan besok harus masuk ngajar. Kasihan anak-anak."


"Iya. Selamat malam, La."


"Malam."

__ADS_1


Gisel menutup sambungan telepon. Kemudian menaruh benda pipih itu ke atas nakas. Setelahnya dia menarik selimut sebatas dada, lalu mulai memejamkan matanya lagi. 'Semoga aku bisa tidur. Aku ingin cepat ketemu sama Pak Gugun,' batinnya.


***


Seoul, Korea Selatan.


Setelah melewati hukuman yang begitu melelahkan, akhirnya mereka diizinkan pulang dan terbebas, tepat di mana Namsan Tower itu akan ditutup.


Ceklek~


Rama membuka pintu toilet pria bertepatan sekali dengan Sisil yang juga keluar dari toilet wanita. Keduanya sama-sama habis mengganti baju, sekarang sudah menggunakan pakaiannya yang semula.


"Kamu sekalian mandi, Dek?" tanya Rama yang melihat wajah Sisil begitu bersih tanpa make up. Beberapa rambut di dekat wajahnya pun terlihat basah.


"Nggak, Om, cuma cuci muka saja." Sisil menggeleng.


"Udah beres semuanya? Ada yang tertinggal sebelum pulang nggak?" tanya Rama. Dia pun mendekat lalu merangkul bahu sang istri.


"Nggak ada. Ayok kita pulang, Om, aku mau berendam air hangat. Capek banget badanku." Sisil menyentuh tengkuknya yang terasa sakit.


"Mau makan dulu nggak? Kamu pasti laper, tadi 'kan cuma makan roti." Rama mengajak Sisil melangkah pergi dari sana.


"Memangnya ada, artis makan sambil merendam? Dan memangnya enak, Dek? Pasti makanannya basah dong." Rama mengerutkan keningnya, merasa heran.


"Makanannya nggak usah dicelupin ke air, Om. Pakai meja gitu. Aku pernah lihat ada yang kayak gitu."


"Oh. Oke deh, jadi berendam di bathtub sambil makan, ya? Kayaknya seru juga, sih." Rama manggut-manggut. Dia justru berkhayal jika dirinya juga ikut berendam berdua dengan Sisil. "Tapi nanti aku ikutan boleh, kan?"


"Sempit dong, Om. Mana muat." Wajah Sisil langsung memerah ketika membayangkan, tubuh keduanya polos di dalam satu bathtub yang terisi air penuh. Bisa-bisa dia juga akan tergoda, dan bukan hanya makan sambil berendam saja, tapi bercinta juga.


"Muatlah. Kan bathubnya besar, Dek."


"Ya terserah Om saja itu mah. Aku sih oke-oke aja," jawab Sisil dengan malu-malu. Rama yang melihat wajahnya itu langsung terkekeh lantaran merasa gemas.


"Lucu banget sih kamu, Dek." Rama langsung mencubit hidung mancungnya, juga mengecup pipi kanannya. "Terus mau makannya sama apa? Kita ke restoran tadi siang saja, ya?"


Sisil mengangguk pelan sambil tersenyum.


Setelah keluar dari Namsan, mereka menuju restoran yang letaknya tak jauh dari sana. Selain itu restorannya buka 24 jam. Jadi Rama yakin—makanannya pasti masih banyak yang fresh.


"Kepengen ketoprak aku kayaknya, Om." Sisil menyentuh perutnya yang tiba-tiba saja berbunyi. Dia dan Rama juga langsung menghentikan langkahnya di depan pintu kaca restoran.

__ADS_1


"Jangan ngaco kamu, Dek, di sini mana ada ketoprak," kekeh Rama.


"Tapi kepengen aku kayaknya, Om. Apalagi kalau tahu gorengnya itu masih anget-anget. Pasti enak banget terus cabenya banyak." Sisil langsung menghayal.


"Kita beli minum dulu saja deh, ya, nanti kalau makanan aku cari lewat internet."


"Kok lewat internet?!"


"Iya. Cari restoran yang ada menu Indonesianya. Siapa tahu 'kan ada, terus bisa delivery," saran Rama. Bagus juga idenya.


"Oke." Sisil mengangguk. Mereka pun langsung melanjutkan langkahnya masuk ke dalam sana, kemudian memesan minuman.


*


*


*


Sampainya di villa, Sisil langsung berendam air hangat di dalam bathtub. Tentu dengan tubuh yang sudah polos sambil menyeruput secangkir teh mint hangat yang mampu menghangatkan tenggorokan serta tubuhnya.


"Aahh ... nikmatnya," desaah Sisil dengan lega. Secangkir teh mint yang masih tersisa itu dia letakkan di atas meja kecil, yang berada di samping bathtub.


Dia pun langsung merilekskan otot-otot, supaya tidak kaku dan terhilang dari rasa pegal.


"Mana Om Rama? Kok belum datang sambil bawa ketoprak?" Sisil menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Sebelumnya, Rama mengatakan jika dia belum berhasil mendapatkan ketoprak. Maka dari itu saat sampai villa dia masih sibuk mencari di dalam kamar dan mengizinkan Sisil untuk berendam duluan.


Ceklek~


Pintu kamar mandi itu pun akhirnya dibuka, dan Rama yang ditunggu-tunggu masuk juga. Tapi sayangnya pria tampan itu hanya membawa ponsel genggam. Kemudian berjalan mendekat ke arah Sisil.


"Dek, aku sudah cari, ada banyak sih restoran yang isinya menu Indonesia. Tapi kalau ketoprak mah sayangnya nggak ada, Dek," ucap Rama memberitahu.


"Ah masa, sih, nggak ada?" Sisil tampak tak percaya.


"Serius. Ini lihat sendiri kalau nggak percaya." Rama memberikan ponselnya kepada Sisil.


Gadis itu langsung meraihnya, lalu menggeser-geserkan layar. Tak lama kemudian raut wajahnya seketika menjadi sedih dan kecewa. "Dih iya, kok nggak ada, ya, Om? Padahal aku kepengen banget," keluhnya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2