
"Ya sudah deh, aku nggak jadi ke kantor." Rama akhirnya mengalah. Permintaan orang tua tak mungkin dia bantah apalagi itu demi kebaikannya.
"Nah, bagus itu. Kalau begini 'kan namanya anak Mommy yang paling ganteng." Yenny mengusap pipi Rama dan langsung menciumnya. Lipstik berwarna merah terang itu langsung menempel di sana.
"Ya sudah, tapi lepaskan dulu tanganku di ketek Mommy. Udah lebat, basah lagi." Rama menggoyangkan lengannya. Gegas Yenny membuka lipatan tangannya itu, dia memang saat ini memakai baju rajut tanpa lengan.
"Mommy sudah pakai deodoran itu, sudah mandi juga. Nggak bau kali." Yenny mendengkus kala Rama tengah mendekatkan tangannya ke area hidung. Seperti hendak menghirup bekas ketiaknya.
"Bau asem ah," kekeh Rama. Dia hanya bercanda. "Dipotong kek, Mom, bulunya. Lebat begitu apa nggak gatel?" Dia jadi memperhatikan buku ketiak Yenny yang cukup panjang itu, hingga terlihat meskipun tangannya mengapit. Mungkin sangking lebat dan panjangnya bisa untuk dikuncir.
"Nanti tumbuhnya gatel. Katanya juga nggak boleh cukur bulu ketek, nanti bisa buat ketek item, Ram."
"Aku sering cukur bulu ketek, tapi ketekku nggak item. Mitos itu mah, Mom," sahut Rama.
"Ketek Daddy buktinya item, kata dia itu karena habis dicukur." Yenny melirik ke arah Mbah Yahya yang kini tengah beralih makan kue nastar. Mulutnya itu begitu penuh. Dia duduk di sofa keluarga sambil menonton televisi.
"Tapi kulit Daddy 'kan memang sudah item, Mom. Masa iya, kulit item ketek putih? Nanti yang ada dikira kena panu." Rama bergelak tawa kala membayangkannya. Begitu pun dengan Yenny.
Tetapi untungnya Mbah Yahya tak mendengar ledekan dari Rama, bisa-bisa dia marah kalau sampai mendengarnya.
"Sudah ah, jangan ngeledekin Daddy mulu," tegur Yenny yang mengakhiri tertawa jahatnya. "Kasihan, jelek-jelek juga Bapakmu, Ram. Kamu sana masuk kamar dan olahraga," titahnya sambil menggerakkan dagu.
"Iya, Mom." Rama mengangguk, kemudian melangkah menaiki anak tangga.
__ADS_1
***
Ting~
[Kak, maaf sebelumnya. Tapi aku ingin kita putus. Mulai sekarang jangan pernah menggangguku lagi dan aku pun nggak akan mengganggu Kakak. Kita masing-masing saja, ya. Dan lusa aku akan menikah dengan Om Rama.]
Arya sontak terkejut dengan bola mata yang membulat sempurna, kala membaca isi chat yang baru saja dibuka dari Sisil.
Ponselnya baru diaktifkan sekarang, karena hampir dari kemarin dia yang begitu sibuk menemani Papanya di rumah sakit tak sempat pegang hape. Dia juga tak mengecek kalau baterainya sudah habis.
'Apa-apaan ini? Kenapa Sisil tiba-tiba meminta putus dan bilang mau menikah dengan Om Rama? Siapa Om Rama?' batin Arya bingung dan sekaligus tak terima. Dada dan bola matanya sontak terasa panas. Dia lantas berdiri dari duduknya, lalu melirik ke arah tempat tidur. Ada Arga yang masih tertidur pulas di atas sana.
Perlahan Arya pun melangkah keluar dari ruang VIP tersebut, berniat untuk menelepon Sisil.
"Bagaimana keadaan Papamu, Ar?" Pertanyaan itu sukse membuat Arya menoleh. Ternyata dia adalah Ganjar, yang baru saja datang dengan membawa plastik putih yang berisi beberapa buah apel.
"Papa sudah agak lebih baik, Opa. Tapi dadanya dia bilang masih sakit," jawab Arya.
Kemarin, dia betul-betul panik ketika mendapatkan kabar kalau Arga mengalami serangan jantung. Sebab saat itu sang Papa kerja dan kebetulan tengah melakukan rapat.
Pemicu utamanya Arya sendiri tidak tahu dan Arga sendiri tak cerita apa-apa.
"Oh ya, kebetulan ada Opa. Aku mau titip Papa dulu sebentar boleh, nggak? Aku mau pergi," pinta Arya.
__ADS_1
"Mamamu ke mana emang?"
"Mama tadi ada panggilan darurat dari rumah sakit. Jadi pergi," jelas Arya.
"Memang kamu mau pergi ke mana? Kuliah?" tebaknya.
"Aku mau ke tempat Sisil. Masa aku dapat chat yang berisi katanya dia minta putus sama aku, Opa, kan tega banget," gerutu Arya kesal. Akan tetapi wajahnya tampak begitu sendu.
"Lho, bukannya kamu sama Sisil memang sudah putus, ya?"
"Kata siapa?" tanya Arya dengan bola mata yang melebar sempurna. "Mana mungkin aku putus, kan aku sama dia mau menikah. Opa ini aneh deh."
"Tapi kemarin Opa ketemu sama Sisil, dia makan di Restoran Padang bersama pria lain, Ar. Seorang Om-om."
Arya terbelalak lantaran kaget. Jantungnya pun sontak berdebar kencang. "Siapa, Opa?"
"Rama, anaknya Mbah Dukun. Dia pria impoten tapi tajir melintir," jawab Ganjar dengan bibir yang menggeriting. "Sisil ini ternyata cewek matre, Arya. Dia nggak berhasil morotin kamu dan sekarang berniat morotin Rama," tambahnya membeberkan. Padahal semua itu hanya fitnah belaka. Hanya saja apa yang dia lihat kemarin membuatnya membenci Sisil.
"Aku nggak tahu siapa Om Rama anaknya Mbah Dukun. Dan dukun apa yang Opa maksud? Tapi yang jelas ... aku sendiri nggak percaya Sisil cewek matre. Dia cewek baik-baik." Arya langsung berlari cepat dari hadapan Ganjar.
Pria tua itu hendak mengejar sambil berteriak, akan tetapi takut dimarahi pihak rumah sakit. Alhasil dia hanya berdiri dalam diam.
'Punya pelet banyak itu si Sisil kayaknya. Si Arya masih kepincut eh si Rama kelihatan sangat ke pincuk. Cewek kayak begitu mah mending disantet, karena bisa buat sampah masyarakat,' batinnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
...Jangan main-main Opa, nanti malah situ yang disantet 😆...