Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
124. Pacar pertama


__ADS_3

...Karena ada kesalahan teknis, jadi yang belum baca ulang bab 123 silahkan baca ulang, ya! karena sudah aku revisi 😉...


*


*


*


*


*


*


*


"Saya ... eemm ... menerima Nona," jawab Gugun.


Meskipun masih ada keraguan untuk menerima, tapi nyatanya Gugun mencoba meyakini diri untuk menjalin hubungan dengan Gisel. Dan bisa dikatakan jika gadis itu menjadi pacar pertamanya, dengan harapan juga kalau dia dapat mencintainya.


"Eh, serius, Mas?!" Suara Gisel terdengar sumringah sekali.


"Iya, tapi sejujurnya saya belum mencintai Nona. Apa nggak apa-apa?" Gugun berucap apa adanya.


"Kalau masalah itu mah nggak apa-apa, Mas. Karena aku yakin, jika seiring berjalannya waktu ... bukan hanya aku yang mencintai, Mas, tapi kita bisa saling mencintai." Wajar kalau Gisel terlihat santai menanggapi perasaan Gugun. Sebab memang masalah itu tidak penting menurutnya, yang utama adalah mereka bisa berpacaran saja dulu.


"Amin, semoga saja ya, Nona. Saya juga berharap ... kalau hubungan kita nanti bisa kejenjang yang lebih serius, karena seumur-umur saya baru berpacaran dengan seorang gadis." Gugun beranggapan jika berpacaran dengan Gisel bisa menjadi tahap mereka saling mengenal, sebelum dirinya melepas masa lajang.


"Maksudnya, selama ini Mas Gugun pacaran dengan laki-laki?"


"Ya nggaklah, Nona," kekeh Gugun. "Maksudnya, Nona itu pacar pertama saya."


"Masa sih, Mas? Jadi Mas belum pernah pacaran sebelumnya?"


"Iya."


"Kenapa begitu? Mas 'kan ganteng dan baik hati. Aku sehari mengenal saja sudah jatuh hati."


"Sepertinya saya memang terlalu sibuk kerja dari dulu, sampai nggak ingat masalah pacaran."


"Tapi ada bagusnya juga, jadi aku adalah orang yang beruntung yang bisa jadi pacar pertama Mas Gugun," seru Gisel. "Dan sepertinya kita harus merayakan hari jadi kita, Mas. Eemm ... bagaimana kalau kita makan malam? Nanti malam?"


"Besok malam saja deh, ya, soalnya nanti malam saya sudah ada janji," tawar Gugun.


"Janji? Janji sama siapa? Jangan bilang sama perempuan berhijab itu?" tanya Gisel penuh curiga.


"Janji sama rekan bisnis saya, Nona, kebetulan nggak bisa dibatalkan karena janjiannya sudah jauh-jauh hari," jelas Gugun.

__ADS_1


"Tapi Mas nggak bohong sama aku, kan?"


"Nggak, ngapain saya bohong."


Gisel terdengar menghela napas. "Ya sudah, nggak apa-apa. Besok saja, nanti kita atur jamnya."


"Tapi ngomong-ngomong ... Nona ada di mana sekarang? Saya ada di rumah sakit nih. Nyari Nona tapi nggak ketemu."


"Aku sudah pulang, soalnya tadi ditelepon kepala sekolah katanya ada yang musti diurus."


"Kepala sekolah?!" Kening Gugun seketika mengernyit. "Memangnya Nona masih sekolah?"


"Nggak, Mas, tapi aku kerja jadi guru."


"Oh. Mulia sekali pekerjaan Nona." Gugun tersenyum.


"Iya, Mas," sahut Gisel. "Eh, tapi, Mas ... mulai sekarang jangan panggil Nona lagi dong, bicaranya juga jangan terlalu kaku. Kan kita udah jadian."


"Oke. Jadi saya, eh maksudnya aku, aku panggil Nona Gisel dengan sebutan apa?"


"Dedek, atau Adek," jawab Gisel.


"Oke. Dek Gisel, ya?"


"Iya. Ya sudah ya, Mas, aku mau masuk ke ruang kepala sekolah dulu. Mas pulang saja dari rumah sakit."


"Walaikum salam."


Jawaban dari Gisel mengakhiri panggilan. Setelah itu Gugun pun memutuskan untuk pergi dari rumah sakit, lalu kembali ke kantor.


***


Seol, Korea Selatan.


Sisil dan Rama menonton film dikursi paling belakang dan paling pojok, sebab itu semua memang atas permintaan Sisil sendiri.


Sebelum masuk ke dalam bioskop, Rama membeli popcorn berukuran besar dan dua jus mangga. Semua itu untuk menemani acara menonton mereka.


Tak lama, film berdurasi satu jam itu pun diputar dan beberapa lampu langsung dimatikan, supaya semua orang di sana hanya berfokus pada layar di depannya.


Tangan Sisil perlahan terulur ke arah Rama yang memegang popcorn di tangannya. Setelah itu dia mengambil beberapa dan menyuapi mulutnya sendiri.


Namun tiba-tiba, Rama sontak terbelalak saat ikut menyaksikan film dewasa itu, sebab baru mulai sudah ada adegan bercinta. Kedua pemeran itu bercinta di dalam mobil.


Sama halnya seperti Rama, Sisil juga ikut terkejut dibuatnya. Tapi itu bukan karena melihat adegan bercinta, melainkan dengan kedua pemain yang beradu akting tanpa sensor.


Memang tidak diperlihatkan dengan jelas pertemuan antara dua kel*amin itu, tapi kedua puncak dada sang aktris terekspos dengan jelas dan bentuknya begitu montok.

__ADS_1


Rasa-rasanya ini tidak bagus jika dilihat oleh Rama, sebab Sisil merasa tidak ikhlas. Dia hanya mau, tubuhnya saja satu-satunya yang dapat Rama lihat dengan kondisi tanpa benang. Selain itu siapa pun tidak boleh.


"Lho, Dek, kenapa mataku ditutup?!" tanya Rama heran saat tiba-tiba Sisil langsung menutup kedua matanya.


"Om nggak boleh nonton ini, ini sangat berbahaya!" tegur Sisil.


"Bahayanya kenapa?" tanya Rama heran.


"Pokoknya bahaya, nggak pakai kenapa. Om nggak boleh melihatnya!" tegasnya sekali lagi.


"Terus gimana dong? Apa kita keluar saja dari sini? Tapi mana boleh begitu, Dek."


"Kita nggak perlu keluar. Tapi Om harus merem sampai film ini selesai."


"Masa gitu?"


"Memang gitu. Atau kalau nggak, mending kita ...." Sisil perlahan menarik tubuhnya untuk mendekat ke arah Rama, lalu berbisik ke telinga kanannya. "Praktekkan adegan tadi di toilet."


Rama sontak tercengang. Dia membeku beberapa saat sampai akhir bertanya demi memastikannya, "Kamu serius, ngomong itu, Dek?"


"Seriuslah," sahut Sisil dengan semangat. "Om bukannya tadi bilang ... lebih baik kita saja yang berbuat mesum, daripada melihat orang berbuat mesum. Iya, kan?"


"Tapi masa sih kita harus bercinta di toilet lagi? Apa nggak dimarahi lagi kita nantinya?"


"Bukannya tempat ini khusus untuk pasangan, kan? Kan Om yang mencarinya di g*ogle."


"Iya, memang khusus untuk pasangan. Tapi nggak tau juga kalau boleh nggaknya bercinta di toilet." Rama rasanya takut untuk mengambil resiko. Permintaan Sisil juga terdengar konyol menurutnya. "Tapi menurutku, sih, lebih baik kita bercintanya pas sudah pulang dari sini saja, Dek. Biar puas. Kalau perlu nanti kita sewa hotel sekalian."


"Kalau Om nggak mau, mending nggak usah sekalian deh," balas Sisil dengan ketus, dia pun langsung menarik tangannya dari mata Rama lalu bersedekap.


Rama perlahan menoleh, bibir istrinya itu sudah mengerucut bagaikan bebek. Sudah bisa dipastikan jika dia tengah marah saat ini.


"Padahal kita 'kan liburannya sehari lagi. Masa aku minta begitu saja Om nggak mau? Tega banget," gerutunya sambil mengusap perut.


Rama menghela napasnya, lalu meraih punggung tangan sebelah kanan milik Sisil. "Ya sudah, ayok, tapi aku duluan yang ke toilet. Nanti kamu menyusul, biar nggak dicurigai orang."


"Nah, begitu dong." Sisil langsung mengulum senyum. Wajahnya pun terlihat berseri dengan kedua pipi yang merona.


Rama berdiri, lalu menaruh popcorn yang dia pegang pada kursinya. "Toilet pria saja ya, Dek, siapa tau kalau toilet pria lebih aman."


"Iya." Sisil mengangguk cepat. Rama mengelus rambutnya, lalu mengecup kening.


"Ya sudah, aku pergi sekarang, nanti sekitar dua menitan kamu susul aku." Setelah mengatakan hal itu, Rama pun melangkahkan kakinya pergi dari sana menuju toilet.


Sisil langsung menatap jam pada pergelangan tangan. Tapi hanya satu menit Rama pergi, dia pun segera berlari menyusulnya.


'Semoga kali ini kita sama-sama puas tanpa ada yang ganggu. Namanya juga bulan madu, kan? Pasti ya bercinta terus,' batin Sisil dengan riang gembira.

__ADS_1


...Dimohon untuk menikmati alur, tapi kalau masalah adegan bercinta akan aku skip karena lagi bulan puasa~...


__ADS_2