Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
107. Tawaran makan siang


__ADS_3

Rama langsung berdecak kesal dan mau tidak mau dia melepaskan pagutan bibir yang terasa nikmat itu. Sebab jika diabaikan takutnya penting atau mendesak.


"Kok dilepas, Om?" Sisil tampak kesal dan kecewa. Padahal birahinya sudah menggebu, tapi sang suami justru tengah menggenggam ponselnya yang baru saja diambil di atas nakas.


"Kak Gugun telepon, Dek." Rama memperlihatkan layar benda pipihnya ke wajah Sisil, supaya gadis itu percaya dan tak marah. "Sebentar ... aku angkat dulu, takutnya penting."


Rama mengangkat tubuhnya untuk duduk di samping Sisil yang masih berbaring, kemudian mengusap layar ke atas seraya berkata, "Assalamualaikum, Kak."


"Walaikum salam. Apa Kakak ganggu kamu dan Sisil?"


"Nggak. Ada apa memangnya? Oh ya, kabar Kakak bagaimana?" Rama tak mungkin jujur kalau memang Gugun menganggu, meskipun sejujurnya miliknya sudah terasa sakit sekarang. Karena belum juga masuk ke dalam sarang.


"Kabar Kakak baik," sahut Gugun. "Ini, maaf sebelumnya bukan maksud Kakak ingin menggurui. Tapi Kakak cuma ingin berpesan supaya kamu menjaga jarak dengan Fuji." Sepertinya, Gugun ingin menasehati Rama. Mengingat ucapan Sisil yang kemarin memang memintanya.


Sebelum menjawab, Rama berpindah duduk di sofa kemudian berbicara dengan pelan sebab takut Sisil marah. "Kakak kok tau Fuji, dari siapa?"


Rama tahu sekali, jika sang istri sangat sensitif kepada wanita itu. Mangkanya dia takut untuk mengatakan nama Fuji di depannya.


Tapi sekarang, Sisil terlihat tengah memandanginya dengan tatapan ingin dibelai. Dan sepertinya dia tidak mendengar apa yang Rama katakan.


'Ngomongin apa sih? Dan Kakak kenapa gangguin segala? Nggak tau apa adeknya lagi kepengen,' batin Sisil kesal.


"Sisil pernah cerita," sahut Gugun. "Maaf ya, Ram, bukan maksud Kakak ingin mencampuri rumah tanggamu. Cuma Kakak ikut sedih kalau misalkan kamu dan Sisil berantem."


"Nggak masalah, Kak. Tapi Kakak tenang saja. Aku akan menjaga jarak dengannya dan eemmmpppt ...." Ucapan Rama langsung terhenti kala tiba-tiba saja Sisil mencium bibirnya dengan agresif. Dia juga baru sadar jika gadis itu sudah duduk di atas pangkuannya.


"Ram! Kamu kenapa?" tanya Gugun yang masih tersambung lewat panggilan.


"Eemmm ...." Rama kesusahan untuk menjawab, kepalanya saja seperti tertekan oleh Sisil yang sudah mendorongnya hingga membuatnya menempel pada penyangga sofa.


Namun, Sisil langsung meraih ponsel Rama, kemudian melepaskan ciumannya dan menempelkan benda pipih itu ke pipi kanan.

__ADS_1


"Kakak sudah dulu, aku sama Om Rama musti jalan-jalan," ucap Sisil dengan deru napas yang tersengal-sengal.


Segera, dia mematikan panggilan, lalu melemparkan benda pipih itu ke samping di mana posisi Rama duduk.


Setelah itu Sisil menangkup kedua pipi Rama, lalu meraup bibirnya kembali. Melummatnya dengan kasar dan penuh naffsu.


Melihat apa yang dilakukan Sisil terhadapnya, tentulah Rama senang. Cepat-cepat dia meremaas dada sang istri yang terlihat membusung di depannya.


Tak menunggu waktu yang lama, mereka pun akhirnya saling menyatu dan menyalurkan hasratnya masing-masing.


Dari mulai gaya tiduran, duduk, berjongkok, merangkak, berdiri sampai lompat-lompat. Semuanya dilakukan demi membuat aktivitas jalan-jalannya menjadi seru. Dan tentu dengan berkeringat juga supaya sehat.


***


Jakarta, Indonesia.


Ting~


Perempuan yang tengah berhias di depan cermin itu langsung merah benda pipinya, kemudian membuka isi chat yang ternyata dari Olla.


Teman sebayanya itu mengirimkan nomor Gugun.


Gisel pun seketika mengulum senyum. Dan gegas melakukan sambungan telepon dengan Gugun.


Satu panggilan lolos tak terjawab, dan kedua kalinya beberapa menit baru dijawab.


"Halo, maaf ini siapa, ya?" tanya seorang pria yang jelas dari suaranya saja itu Gugun. Tapi disini Gisel ingin berpura-pura.


"Selamat pagi. Apa ini Pak Gugun?" Suara Gisel dibuat selembut mungkin.


"Iya, tapi ini siapa?"

__ADS_1


"Aku Gisel, Pak. Perempuan cantik yang menangis di cafe kemarin sore, Bapak masih inget nggak?"


"Iya. Tapi kok kamu tau nomorku? Darimana?"


"Dari Olla, temanku, Pak."


"Siapa Olla?" Gugun mungkin terlihat kebingungan.


"Si Olla punya suami, namanya Oskar. Dan kata Olla ... suaminya itu dulunya teman satu sekolah dengan Bapak dan kalian saling mengenal. Jadi aku dapat nomor Bapak dari dia," jelas Gisel jujur.


"Oh, tapi ada urusan apa, Nona?"


"Aku ingin mengajak Bapak sarapan bareng, bisa nggak?"


"Maaf Nona, tapi pagi ini saya sangat sibuk ada meeting. Jadi saya sarapan di kantor," tolak Gugun.


"Eemm ... kalau begitu makan siang saja bagaimana, Pak?" tawar Gisel lagi, tak mau menyerah.


"Maaf sebelumnya, tapi Nona ada perlu apa sampai ingin mengajak kita bertemu? Kita 'kan nggak ada urusan apa-apa."


"Aku hanya ingin menambah teman saja, Pak. Aku juga merasa nyaman saat kemarin mengobrol sama Bapak," jawab Gisel berdusta. "Dan Bapak tau nggak ... setelah kita bertemu itu, aku akhirnya bisa tidur malam, Pak."


"Memangnya setiap malam kamu nggak bisa tidur?"


"Nggak bisa, Pak. Pokoknya semenjak aku patah hati itu."


"Ah lebay kamu, cuma gebetan nikah saja sampai galau," cibir Gugun.


"Ya gimana, namanya juga sudah terlanjur cinta. Eemmm ... terus bagaimana dengan makan siang barengnya? Jadi 'kan, Pak?" pinta Gisel penuh harap.


...Bohong Om jangan mau 😖...

__ADS_1


__ADS_2