
"Kamu kenapa, Sil? Sakit kepala?" tanya Rama yang baru saja menoleh. Dia merasa bingung dengan apa yang Sisil lakukan.
"Ah nggak." Sisil langsung menghentikan gelengan kepalanya, lalu langsung membuang wajahnya ke arah lain. Tak mau rasanya dia menatap Rama.
"Nak Sisil sakit? Kita ke dokter dulu saja kalau begitu," tawar Yenny.
"Nggak usah, Mom," jawab Sisil lembut. "Aku nggak kenapa-kenapa kok."
"Bener nggak apa-apa?" tanyanya memastikan.
"Iya." Sisil mengangguk cepat.
***
30 menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai di sebuah butik besar yang berada di dekat jalan raya. Mobil Rama pun masuk ke lahan parkirnya dan setelah berhenti mereka bertiga turun dari sana.
"Selamat siang Ibu Yenny, selamat datang di butik kami," ucap seorang perempuan muda yang menyambut kedatangan mereka. Dia adalah salah satu karyawan di butik tersebut.
"Siang," sapa Yenny lalu mendekati Sisil dan mengenggam tangannya. Setelah itu mengajaknya masuk lewat pintu kaca.
Rama tersenyum melihat sang Mommy yang tampak antusias, dia juga senang melihat sikapnya yang begitu manis terhadap Sisil. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. 'Sepertinya Mommy suka sama Sisil. Semoga saja mereka tetap akur. Nggak sia-sia aku perjuangin dia sampai dia setuju. Eh tapi, apa kira-kira alasan kuat Sisil mau sama aku, ya? Daddy juga nggak cerita,' batinnya penasaran.
"Ram, kok nggak masuk kamu?!" tegur Yenny. Rama yang berada di ambang pintu sontak terperanjat, cepat-cepat dia melangkah masuk ke dalam sana untuk menghampiri calon istri dan Mommynya.
Sisil mengedarkan manik matanya ke sekeliling butik besar dan mewah itu. Butik itu memiliki banyak ruangan, dan yang Sisil kunjungi sekarang adalah khusus untuk baju pengantin.
Berbagai gaun dari yang panjang sampai pendek, dari yang anggun hingga seksi, semuanya ada. Begitu pun dengan kebaya, banyak sekali pilihan. Sangat cantik dan mewah.
'Bagus-bagus banget dan kelihatan mahal. Tapi, apa cocok untukku?' batin Sisil menatap takjub. Ada beberapa orang juga di sana yang tengah mencoba baju pengantin bersama pasangannya. Akan tetapi tampak begitu bahagia dan girang.
Ada rasa sesak di dalam dada, kala melihat itu semua. Dibilang iri, itu memang ada. Sebab Sisil juga ingin menikah dengan orang yang dia cintai.
'Andai saja orang tua Kak Arya setuju dan menerimaku. Pasti sekarang aku bersama Kak Arya mencoba baju pengantin, bukan dengan Om Rama,' batin Sisil terenyuh. Perlahan air matanya itu menetes, akan tetapi cepat-cepat dia hapus.
"Bu Santinya ke mana, Mbak?" tanya Yenny menatap pelayan. Santi adalah pemilik butik itu. "Aku sudah pesan soalnya sama dia, dia tahu ukuran jasnya Rama jadi tinggal untuk istrinya saja."
__ADS_1
"Nama Ibu siapa?" Pelayan itu melangkah menuju kursi kerjanya. Dan Yenny ikut menghampiri.
"Yenny Ardiansyah."
"Saya cari dulu dibuku catatannya ya, Bu." Pelayan itu mengambil sebuah buku besar, lalu membuka dan mulai membacanya.
"Kamu mau gaun yang seperti apa, Dek?" Pertanyaan Rama sukses membuat Sisil menoleh kepadanya, membuyarkan lamunan yang terbayang dia memakai salah satu gaun pada manekin itu.
"Om tanya sama aku?" Sisil berbalik tanya. Dia merasa heran sebab Rama tidak memanggil namanya tadi.
"Iya, kan Adek yang jadi istri Mas. Adek mau yang mana?"
'Adek? Nggak salah dia panggil aku Adek? Pakai Mas segala lagi. Dia 'kan sudah om-om,' batin Sisil yang tampak tak habis pikir.
"Nak Sisil, ayok ikut Mommy ke ruang ganti." Yenny melangkah menghampiri mereka berdua, lalu mengenggam tangan calon menantu.
"Mau ngapain, Mom?" tanya Sisil heran. Tetapi kakinya ikut melangkah saat wanita paruh baya itu menariknya.
"Coba baju dong. Rencananya Mommy mau beli baju pengantinnya dua. Satunya kebaya untuk ijab kabul, satunya gaun untuk malamnya," ujar Yenny.
"Itu nggak banyak, kalau banyak itu sepuluh. Ayok masuk." Yenny menunjuk ruang ganti yang terbuka lebar pintunya. Ada pelayan tadi di dalam sana.
"Aku ikut masuk juga bareng Sisil, Mom?" tanya Rama yang berlari menghampiri.
"Kamu di ruang sebelah, Ram. Masa bareng? Aneh deh." Yenny menunjuk ruang ganti yang satunya, yang sudah ada pelayan pria berdiri sambil membuka pintu. Dia nanti akan membantu Rama mencoba stelan jas pengantinnya.
"Ya kirain bisa bareng, kan biar sekalian." Rama terkekeh kemudian melangkah menuju ruang yang Yenny maksud. 'Lumayan juga bisa lihat Sisil ganti baju, kan?' Hanya cuma membatin, tapi miliknya sudah menegang sekarang.
"Udah kebelet banget ya, kamu, mau sekamar sama Sisil. Sabar kenapa, sih?" goda Yenny sambil terkekeh.
*
*
Hampir dua jam Sisil mencoba beberapa gaun dan kebaya, hingga akhirnya selesai juga sesuai harapan. Hanya saja baik Sisil atau Rama, mereka tak saling melihat masing-masing yang mengenakan baju pengantin. Biarlah nanti saja keduanya melihat pada saat waktunya tiba.
__ADS_1
"Kamu pulangnya sama Rama saja, ya, kita berpisah di sini soalnya Mommy ada arisan," ucap Yenny saat ketiganya keluar dari butik itu.
"Iya, Mom." Sisil mengangguk.
"Bapak mau bawa mobil sendiri atau saya yang menyetir?" tanya Tuti yang baru saja turun dari mobil Rama, lalu menyodorkan sebuah kunci.
"Bawa sendiri. Kamu pulang naik taksi saja, ya?" Rama mengambil kunci mobilnya.
"Iya." Tuti mengangguk. "Bapak dan Nona Sisil hati-hati." Dia pun melambaikan tangannya ke arah taksi yang lewat untuk Yenny, setelah itu baru untuknya.
"Mommy hati-hati di jalan," ucap Rama.
"Iya, kalian juga." Yenny melambaikan tangan. Akan tetapi sebelum mobil itu melaju, Sisil lebih dulu masuk ke dalam sana hanya untuk mencium punggung tangan Yenny. Sebab dia teringat ucapan Kakaknya supaya bersikap sopan. "Kamu manis sekali, Nak." Yenny mengusap rambut gadis itu. Sisil turun dan tersenyum sambil melambaikan tangan.
Setelah Yenny dan Tuti berlalu pergi, sekarang giliran Rama dan Sisil yang masuk ke dalam mobil hitam itu berdua.
Suasana langsung berubah menjadi canggung dan getaran dada di dalam sana membuat Rama salah tingkah. Bahkan dahinya sampai berkeringat, terasa panas padahal suhu AC-nya cukup dingin.
"Eemm ... Dek, boleh Mas tanya sesuatu?" tanya Rama pelan tanpa menoleh.
"Panggil Sisil saja, Om. Nggak perlu pakai Adek-adek segala," jawab Sisil sembari memperhatikan wajah Rama yang berkeringat dari samping. Dia merasa ada yang aneh saat pria itu berkeringat. Sebab aura ketampanan itu seperti keluar bahkan kian bertambah. Hanya saja Sisil tak mau mengakuinya.
"Kenapa? Kamu nggak suka? Kita 'kan sebentar lagi akan menikah?"
"Nggak apa-apa, aku nggak mau saja. Terlalu lebay. Mending panggil Sisil saja."
"Oh ya sudah, nggak apa-apa kalau kamu nggak mau." Ada setitik rasa kecewa, akan tetapi Rama mencoba memahami keinginan Sisil. "Aku boleh tanya sesuatu padamu?"
"Katakan, Om."
"Kenapa kamu sekarang mau menikah denganku? Apa mungkin kamu sudah jatuh cinta sama aku, Sil?" Rama menoleh dan pandangan mata mereka langsung bertemu. Gadis itu pun segera membuang wajahnya ke arah lain, refleks karena kaget dan merasa malu.
'Uh, kenapa aku terus menerus ingin melihat wajahnya? Padahal Om Tua 'kan jelek!' Sisil membatin dengan penuh kekesalan. Dia sampai menutupi wajahnya sendiri yang sudah merona.
...Ganteng ah, Sil 🤣 kamu doang yang bilang dia jelek lho...
__ADS_1