
Bugh!
Satu bogem mentah itu berhasil mendarat ke wajah. Hanya saja bukan Gugun yang menonjok Tuti, melainkan Tuti yang menonjok Gugun. Pria itu kalah cepat.
"Aakkhh!" teriak Gugun.
Tuti langsung menghentakkan tangannya, demi terlepas dari cekalan Gugun. Kakinya segera melangkah ke arah pintu lift yang baru saja terbuka, sedikit lagi dia hampir masuk tetapi pinggang rampingnya ditahan oleh Gugun.
"Mau pergi ke mana kau!" tekan Gugun. Meskipun wajahnya sakit, tapi Gugun tak akan menyerah begitu saja dan membiarkan Tuti pergi.
"Lepaskan aku mesum!" teriak Tuti yang kembali memberontak. Kali ini paper bag yang dia pegang digunakan untuk senjata memukulkan ke wajah Gugun.
Tak peduli kalau sepatu di dalamnya rusak, yang terpenting dia dapat meloloskan diri sebab menurutnya, Gugun akan mencoba melecehkannya kembali.
"Tolong! Ada pria mesum!" pekik Tuti meminta tolong. Akan tetapi seperti tak ada siapa pun di sana, semua pintu apartemen tertutup.
"Kau jangan ...." Ucapan Gugun seketika menggantung kala mendengar suara robekan yang berasal dari kemeja putih yang Tuti kenakan.
Itu adalah ulahnya yang sejak tadi menarik apa pun yang ada ditubuh gadis itu, supaya dia tak kabur. Hingga tak sadar jika kemejalah yang dia tarik dan cukup kuat.
Kreekk....
Tuti sontak terbelalak, kemejanya itu robek cukup panjang hingga bra berwarna putihnya terlihat.
Gugun langsung melepaskan kemeja itu dan menelan saliva, sebab sekilas dia melihat belahan dada yang begitu menantang. 'Kenapa montok sekali? Padahal hanya silikon?' batinnya bingung.
"Aku akan membunuhmu! Dasar pria mesum gila!" pekik Tuti.
Jika tadi dia berusaha kabur, sekarang dia justru seolah menantangnya. Sebab lama-lama, dia merasa geram dengan sikap pria itu.
Tanpa rasa takut, Tuti pun mendorong tubuh Gugun dengan kasar, hingga membuatnya terjatuh dengan posisi terlentang.
Bruk!!
Secepatnya, Tuti menghentakkan bokongnya di perut Gugun. Lalu mencekik leher pria itu dengan mata melotot.
__ADS_1
"Rasakan ini!" berangnya.
Gugun sontak mendelik, dia terkejut melihat apa yang dilakukan gadis itu. Namun, tubuh Tuti seperti ringan menurutnya, sebab dia langsung membalik tubuhnya dan sekarang posisi gadis itu berada di bawahnya.
Kedua tangan Gugun terangkat, niatnya ingin mencekik balik Tuti yang masih mencekik dirinya. Akan tetapi tindakannya itu urung terjadi sebab terdengar suara bariton seseorang yang baru saja keluar dari lift.
"Astaghfirullah! Apa yang kamu lakukan, Gun!" serunya yang tampak syok. Dia adalah Hersa. Teman Gugun dan kebetulan tinggal bertetanggaan juga di sana.
Segera dia menarik tubuh Gugun, lalu menghentikan aksi Tuti.
Plak!!
Satu tamparan keras Tuti layangkan ke pipi kanan Gugun secara tiba-tiba. Saat dia baru saja berdiri.
"Aku akan melaporkan semua tindakan Bapak ke Pak Rama! Biar Bapak dipecat jadi kakak iparnya!" ancamnya sambil melotot, kemudian berlari masuk ke dalam lift.
Gugun hendak melangkah, dia masih ingin menahan Tuti. Tapi lengannya segera dicekal oleh Hersa.
"Kamu ini gila atau gimana, sih? Walau jomblo ... tapi jangan homo dong, Gun!" tegur Hersa yang tak habis pikir. Dia pun memungut paper bag yang tersungkur di lantai, kemudian memberikan kepada Gugun.
"Mencekik kok pakai tindih-tindihan? Mana kemeja dia robek lagi," ucap Hersa yang masih tidak percaya. Dia curiga kalau Gugun ada kelainan.
"Itu aku asal pegang, nggak ada maksud mau merobek." Gugun duduk di sofa, lalu merogoh kantong celananya dan menelepon seseorang.
"Kamu mau nelepon siapa sekarang?" tanya Hersa.
"Pengacaraku. Aku akan melaporkan dia ke polisi!" sahut Gugun dengan napas yang masih memburu. Tak terima rasanya, sudah dua kali ditonjok dan sekarang mendapatkan bonus berupa tamparan.
*
*
"Ish, kenapa nomor Pak Rama nggak aktif?!" Monolog Tuti kesal sambil menatap layar ponselnya.
Seusai dari apartemen Gugun, dia langsung mengendarai mobilnya. Tapi hanya setengah dari perjalanan, dan sekarang berhenti disisi jalan karena ingin menelepon Rama. Meminta bantuan dan sejujurnya dia merasa ketakutan. Tubuhnya saja saat ini bergetar hebat, tapi dia tahan.
__ADS_1
"Bu Yenny!" Bola mata Tuti seketika berbinar kala melihat wanita yang dia kenali itu tengah menyebrang jalan bersama temannya. Entah dia mau ke mana, tapi arahnya ke posisi di mana mobil Tuti berada.
Gegas gadis itu menurunkan kaca mobilnya, lalu berteriak dengan lantang. "Bu Yenny! Tolong saya, Bu!"
Yenny langsung menoleh, matanya memicing sebentar memperhatikan Tuti. Terkadang kalau dari kejauhan, dia tak dapat melihat dengan jelas. "Tuti!" serunya saat sudah tahu.
Yenny berlari kecil menghampiri mobil, tapi sebelum berhasil sampai—Tuti lebih dulu turun dan berlari menghampiri.
Tanpa izin dia pun tiba-tiba memeluk tubuh wanita tua itu, dan membuatnya tersentak karena kaget. Mungkin bisa dikatakan Tuti untuk pertama kalinya berani memeluknya, meskipun memang mereka cukup akrab.
"Maaf kalau saya kurang ajar, tapi saya benar-benar takut, Bu. Tolong saya," pinta Tuti memohon. Suara dan tubuhnya bergetar hebat.
"Tolong apa? Ayok masuk ke dalam mobil dulu." Yenny merelai pelukan itu, kemudian merangkul bahu Tuti dan mengajaknya masuk ke dalam mobil pada kursi belakang. Temannya yang bernama Puspa mengikuti mereka, hanya saja dia berdiri di depan pintu mobil. "Nih, minum dulu." Yenny memberikan sebotol air mineral yang dia ambil di kursi depan. Sudah dia bukakan penutup segelnya juga.
Tuti meraihnya, lalu menenggak air itu bahkan sampai habis tak tersisa. Dia tak sadar jika tenggorokannya memang kering.
"Kamu tenang dulu, baru cerita," ucap Yenny. Dia mengelus punggung dan dada gadis itu, dilihat Tuti kini tengah mengatur napasnya yang terengah-engah.
Beberapa detik kemudian, barulah dia bercerita. "Tadi saya disuruh Pak Rama untuk mengantarkan sepatu, buat Kakaknya Nona Sisil. Tapi dia justru ingin melecehkan saya, Bu," jelasnya memberitahu.
"Melecehkan?! Serius kamu?!" Yenny tampak terkejut. Kedua matanya membulat sempurna.
"Demi Allah, Bu. Saya sudah tiga kali bertemu dia, tapi lagi-lagi dia ingin melecehkan saya. Dan tadi adalah yang paling parah." Tuti meremmas kemejanya dengan rasa kesal didada. Yenny kembali terkejut melihat kain yang robek itu.
"Kakaknya Sisil yang kamu maksud itu Gugun, kan?" Yenny masih belum yakin. Meskipun dia mengenal Gugun belum lama, tapi dia yakin—pria itu adalah pria baik-baik. Yenny bisa menilainya dari sikap dan ucapannya.
"Masa Ibu nggak percaya saya? Saya mana mungkin berbohong dalam hal ini." Bola mata Tuti tampak berkaca-kaca. Sedih sekali rasanya jika ucapannya tak dipercaya. Padahal menurut Tuti, mungkin cuma Yenny yang dapat menolongnya sekarang. Sedangkan Rama susah dihubungi dan selain itu dia juga tak mau menganggunya. Bisa-bisa Sisil ngambek lagi.
"Maafin aku. Ya sudah, sekarang kamu maunya bagaimana? Aku akan membantumu. Tapi kamu nggak perlu ngomong ke Rama. Soalnya dia dan Sisil lagi liburan ke Korea." Yenny tahu itu karena sebelum berangkat Rama sempat meneleponnya.
"Aku tadinya ingin minta tolong ke Pak Rama, untuk bilang ke Pak Yahya, Bu," jawab Tuti pelan.
"Pak Yahya?!" Kening Yenny mengerenyit heran. "Kok ke Pak Yahya, Tut?"
"Iya, dia 'kan dukun sakti. Aku ingin minta Pak Yahya untuk mengirimkan Pak Gugun santet, Bu."
__ADS_1
...Mana nih yang semalam ditungguin buat ngasih vote 😌 kok sepi 🤔...