Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
111. Jadi pacarku?


__ADS_3

"Selama siang, Nona dan Bapak mau pesan apa?" tanya pelayan wanita yang baru saja datang, kemudian menyodorkan buku menu di atas meja.


Gugun dan Gisel sudah duduk disalah satu meja cafe, lalu keduanya pun saling menatap buku menu itu. Mencari-cari menu yang ingin mereka pesan.


"Aku mau es teh manis sama nasi Padang," ucap Gugun yang tiba-tiba terbayang nasi Padang dan es teh manisnya, yang ditinggal di dalam ruangan. Tapi ingin balik lagi pun rasanya malas.


"Maaf, Pak, nggak ada nasi Padang di sini," sahut pelayan cafe.


"Mas Gugun ini ada-ada saja, ya?" kekeh Gisel yang merasa lucu dengan ekspresi wajah Gugun yang sempat terbengong.


"Ah ya." Gugun mengusap pelan wajahnya. "Maksudnya spaghetti sama jus jambu," ralatnya.


"Kalau Nona?" Pelayan itu mencatat menu pesanan Gugun pada buku kecil, lalu menatap ke arah Gisel.


"Samakan," sahut Gisel.


"Baik, tunggu sebentar, ya!" Pelayan itu membungkuk sopan, lalu melangkah pergi dari hadapan mereka.


"Sebelum pesanan kita sampai, Nona bisa cerita hal yang ingin diceritakan kepada saya," ucap Gugun seraya memperhatikan Gisel yang tengah membereskan rambut pendeknya.


Dilihat gadis itu terdiam sebentar. kemudian berucap, "Itu, Mas, Mas masih ingat 'kan ... gebetan aku yang udah nikah?"

__ADS_1


"Iya, kenapa memangnya?"


"Mas Gugun 'kan bilang ... katanya aku suruh cari pria lain supaya bisa cepat move on. Terus aku 'kan udah bertekad dalam hati kalau aku akan melupakan mantan gebetanku, tapi sayangnya ... pagi-pagi dia malah menghubungiku, Mas. Padahal aku udah sempet hapus nomornya kemarin," ungkap Gisel dengan mimik wajah sedih. Semua yang diucapkan itu hanya dusta, semata-mata ingin mengelabui Gugun.


"Kalau kamu pengen bener-bener melupakannya, tinggal blokir saja nomornya, kan beres, Nona," saran Gugun.


"Udah aku blokir, Mas, tapi dia malah menghubungiku lagi dengan nomor baru. Terus pas dia telepon ... aku nggak sengaja mengangkatnya," jawab Gisel yang kembali mengarang cerita.


"Terus, dia ngomong apa?" Gugun sudah mulai terpancing dan merasa penasaran.


"Dia bilang ... katanya dia menyesal nikah sama istrinya, ternyata istrinya nggak sebaik yang dia kira."


"Terus, tanggapan kamu apa?" tanya Gugun.


"Lalu?"


"Dia bilang katanya suka sama aku, sampai nggak pernah bisa tidur tiap malam karena terus menerus memikirkanku," jawab Gisel. "Ditambah dia juga bilang ... kalau dia nyesel karena dari dulu nggak nembak aku dan malah menikah sama perempuan lain, Mas," tambahnya.


"Terus?" tanya Gugun.


"Ya aku jawab aku udah nggak peduli lagi sama dia, karena aku terlanjur sakit hati, Mas." Bola mata Gisel pun seketika berkaca-kaca. Dia berupaya untuk bisa menangis demi menambah bumbu kebohongannya.

__ADS_1


"Terus?" tanya Gugun.


"Dia bilang ... dia akan pisah sama istrinya, terus mau menikahiku dan mengajakku kawin lari. Tapi aku nggak menanggapinya, aku langsung aja menutup panggilan, terus blokir nomor barunya, Mas."


"Sekarang, dia ada ngehubungin kamu lagi?" tanya Gugun.


Gisel merogoh tasnya, lalu membuka ponsel. Mengetik-ngetiknya dengan asal seperti mencari sesuatu. "Nggak, Mas." Gisel menggelengkan kepalanya.


"Ya berarti itu sudah beres. Nona tinggal ganti nomor saja, biar dia nggak menghubungi lagi," saran Gugun. "Eh tapi, Nona sendiri memangnya masih berharap sama dia? Menurut saya sih jangan."


"Kenapa memangnya, Mas?"


"Dia 'kan sudah menikah. Ya kalaupun misalnya rumah tangganya nggak bahagia, ya biarkan saja. Toh dia yang menjalani, dia yang mengambil keputusan. Jadi Nona nggak perlu menanggapinya, nanti bisa-bisa Nona dicap sebagai pelakor," tutur Gugun menasehati. Suaranya terdengar lembut namun tegas.


"Kok bisa, aku yang dicap sebagai pelakor? Kan aku di sini jadi korbannya. Aku yang patah hati." Gisel meraih selembar tissue di atas meja, lalu mengusap pipinya. Padahal tidak ada apa-apa sebenarnya, itu hanya akting saja pura-pura menangis sambil meringis.


"Iya. Tapi 'kan kita nggak tau apa yang dipikirkan istrinya, kalau nanti suaminya itu ketahuan sering menghubungi Nona. Pasti Nona ikut terseret," jelas Gugun.


"Oh begitu. Nanti pulang dari sini aku langsung ganti nomor deh, Mas."


"Iya, itu lebih baik." Gugun tersenyum hangat sembari memandangi wajah Gisel. "Nona 'kan juga cantik, pasti bisa dapat yang lebih dari mantan gebetan Nona. Saya yakin itu." Mengangguk dengan yakin.

__ADS_1


Gisel ikut tersenyum, tapi tangannya perlahan menjulur ke atas meja. Kemudian mengenggam tangan Gugun yang ada di sana. "Kalau misalkan sama Mas Gugun saja boleh nggak? Kan Mas sama aku sama-sama jomblo. Dan aku juga merasa ... Mas Gugun ini pria yang sangat baik yang pernah aku temui. Jadi mau ya, Mas, jadi pacarku?"


...Ada rasa malu lah, Sel, dikit mah, masa situ nembak Om Gugun, sih?! 😳...


__ADS_2