Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
190. Lagi olahraga


__ADS_3

"Eehh ... Aa udah bangun?" Sisil langsung melepaskan apa yang tengah dia lakukan, juga menarik kembali celana kolor Rama yang memang dia turunkan.


"Kamu kepengen lagi ya, Dek?" tebak Rama dengan wajah merona.


Meski pun awalnya kaget saat bangun tidur, tapi dia akui kalau sekarang hatinya berbunga karena senang. Sebab untuk pertama kali dalam hidupnya, Rama dapat merasakan hal seperti itu. Dia juga tak menyangka jika istri kecilnya itu bisa bersikap nakal padanya.


"Pengen apa sih, A?" Sisil berpura-pura polos, dan seolah tak mengerti maksud perkataan Rama. Padahal senang ditanya hal seperti itu. "Orang aku bangunin Aa kok daritadi, soalnya mau ngajakin sahur bareng!" Dia pun meraih kacamata milik Rama yang berada di atas nakas, lalu memakaikannya.


Rama mengerjapkan mata, lalu mendongak ke arah jam dinding di atas pintu kamar. Di sana terlihat masih jam 1. "Masa sih, kamu bangunin aku sahur? Ini 'kan baru jam satu, Dek?" Rama ikut berpura-pura, tapi aslinya dia tahu otak istrinya sudah lari kemana.


"Memang kenapa?" Sisil langsung bergelayut manja dibahu Rama, lalu menyelinap masuk ke dalam kaosnya untuk meraba perut. "Emang nggak boleh, ya, sahur jam satu?"


"Boleh." Rama mengangguk kemudian bangkit dari kasur. "Ya sudah, kamu tunggu aku diruang makan, Dek. Pasti Bibi juga udah bangun dan lagi masak buat siapin sahur."


"Ini Aa mau ke mana? Kamar mandi?"


"Iya, aku mau kencing sekaligus cuci muka."


"Oh ... Oke." Sisil tersenyum manis menatap Rama yang berlalu menuju kamar mandi. Dia pun lantas segera berlari menuju lemari dan membukanya.


'Pasti habis sahur si Sisil ngajakin aku bercinta lagi,' batin Rama menebak dengan rasa percaya.


Daripada sekedar mencuci muka, sehabis buat air kecil Rama justru memilih untuk mengambil air wudhu. Sebab sekaligus bisa berkumur-kumur juga.


'Tapi kenapa, ya, akhir-akhir ini bahkan semenjak aku marah karena masalah Arya ... sikap Sisil jadi berubah manis sekali. Dia juga jadi lebih sering mengajakku bercinta. Ini memang benar bawaan bayi yang kepengen ditengokin ... apa memang dari Sisilnya sendiri, sih? Aku jadi agak bingung. Takutnya setelah melahirkan Sisil malah balik lagi kayak yang dulu, nggak selengket kayak sekarang.'


Setelah selesai dari urusannya dikamar mandi, Rama pun keluar dari sana.


Namun, saat melihat ke arah kasur—dia justru heran sebab masih ada Sisil yang duduk di sana. Hanya saja pakaiannya sudah berganti, tak lagi memakai baju tidur lengan pendek. Melainkan sebuah kain yang begitu tipis.

__ADS_1


Susah payah dia pun langsung menelan ludah, saat tak sengaja melihat puncak dada istrinya lantaran begitu transparannya kain tersebut.


"Kok kamu masih ada di sini, Dek? Dan pakai baju dari siapa kamu? Kok tipis dan seksi banget?" tanya Rama penasaran.


"Ini namanya baju dinas, A. Aku juga beli sendiri lewat online. Aa suka nggak?" Sisil membusungkan dada. Bukan niat memamerkan bajunya, melainkan menggoda Rama dengan tubuhnya.


"Suka." Rama mengangguk cepat, lalu duduk di samping Sisil. Dan perempuan itu langsung naik ke atas pangkuannya. "Tapi, Dek, kayaknya ini baju nggak cocok buat makan sahur. Apa kamu nggak malu nantinya? Daddy juga sering ikut makan sahur, lho."


"Kata siapa nggak cocok?" Sisil meraba wajah Rama, lalu turun ke bibirnya. "Justru sangat cocok Aa. Tapi sahurnya hanya untuk kita berdua dan didalam kamar saja."


"Kamu kepengen kita makan dikamar?" Rama memandangi wajah Sisil yang begitu memerah.


"Iya, tapi sebelum sahurnya pakai nasi, Aa sahur harus pakai aku dulu," ucapnya dengan suara yang sudah mendayu-dayu.


"Maksudnya?" Kening Rama mengerut. Ucapan Sisil terdengar membingungkan.


Rama lagi-lagi menelan ludah, tapi terlihat bibirnya sudah tersenyum lebar. Segera dia pun merangkak menghampiri Sisil. "Dek ... Dek, padahal tinggal ngomong aja kamu itu mau ngajakin aku bercinta. Segala muter-muter bahas sahur," kekehnya, lalu meraba inti tubuh Sisil. Perempuan itu langsung merem melek.


"Ya ... eemm ... Aa nggak peka. Padahal Aa sendiri udah janji, katanya besok baru boleh kita bercinta lagi. Mana semalam cuma seronde doang, kan?" Sisil memanyunkan bibirnya, sambil menahan desaahan yang akan keluar.


"Tapi ini masih jam satu, Dek."


"Jam satu juga 'kan udah berganti hari, A. Udah aahh ... ayok cepat mulai pemanasan, A! Jangan sampai nanti keburu Mommy datang meminta kita untuk turun buat sahur!" titahnya tak sabaran.


"Siap Tuan Putri." Rama mengangguk. "Mulai pemanasannya dari mana dulu nih?"


"Dari bawah, kan Aa kemarin bilang kangen diiiihhh ...!!" Sisil jadi emosi. Sebab lama-lama dia kesal pada Rama yang terlihat mengulur waktu, bukannya langsung sat set sat set. Padahal Sisil sudah tak tahan ingin dijamah.


"Oh oke oke, maaf istriku sayang ...." Rama terkekeh, segera dia pun membuka tali celanna dalam istrinya, kemudian membenamkan wajahnya ke sana sambil menjulurkan lidah.

__ADS_1


*


*


Sekitar jam 03.30, Yenny turun dari anak tangga. Berniat untuk sahur. Dia juga sudah mencuci muka dan kumur-kumur.


"Lho, Dad, Daddy ngapain?" tanyanya heran, setibanya diruang makan. Sebab mendapati suaminya sedang makan yang tinggal sedikit lagi nasi di piringnya.


"Mommy nggak lihat emang? Daddy 'kan lagi makan." Mbah Yahya sama sekali tak menoleh, dia masih fokus makan.


"Iya, Mommy tau. Tapi Daddy kenapa malah makan duluan? Setidaknya nunggu Sisil dan Rama lah, biar makan bareng. Udah mah nggak puasa." Yenny menarik kursi untuk dirinya duduk didekat sang suami.


"Aahh nungguin mereka mah pasti lama. Orang lagi olahraga."


"Olahraga?!" Kening Yenny mengerenyit. "Di mana? Tumben ... si Sisil ikut olahraga juga."


"Olahraga desaah, Mom, dikamar. Masa Mommy nggak ngerti?" Mbah Yahya mendengkus lantaran tenggorokannya seret diajak mengobrol terus. Segera dia pun menenggak segelas air hingga tandas.


"Ooohhh ... olahraga yang itu?" Yenny manggut-manggut. "Tapi kok Daddy bisa tau? Daddy ngintip memangnya?"


"Tadi sebelum Daddy turun ... Daddy sempat ngetuk pintu kamarnya Rama. Sambil manggil dia dan Sisil mau sahur enggak. Eh mereka nggak jawab." Mbah Yahya mengerucutkan bibirnya. Kesal karena sempat dicueki menantu dan anaknya.


"Berarti mereka masih tidur itu, Dad. Musti dibangunin lagi. Biar nggak kesiangan." Yenny langsung berdiri dari duduknya, kemudian berlalu menaiki anak tangga.


Dia berniat ke kamar Rama untuk membangunkannya. Sebab berpikir jika anak dan menantunya pasti belum bangun.


Mbah Yahya sendiri hanya memerhatikan istrinya, sambil mencebikkan bibir. "Aaahh Mommy ini nggak peka. Sejak kapan juga si Rama susah dibangunin? Rama mah jangankan diteriakin ... ada yang bisik di telinganya saja pasti langsung bangun. Ini mah emang kerjaan si Sisil aja yang gatel kepengen dibelai mulu! Encok, encok dah itu si Rama lama-lama! Padahal baru juga keluar rumah sakit!" gerutunya kesal.


...Ga boleh gitu, Mbahhh orang sama² seneng kok mereka 🤭 bilang aja Mbah iri, kan??🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2