Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
196. Pindah profesi


__ADS_3

"Aa untuk sementara dilarang keluar rumah dulu, Kak," jawab Sisil


"Kenapa memangnya?"


"Karena pelakunya belum tertangkap. Tapi kok lama banget ya, Kak. Kok sampai sekarang belum tertangkap juga. Dan apa motif mereka menculik Aa kira-kira?? Kan Aa bukan anak kecil."


"Kakak juga nggak ngerti. Tapi alasan pelakunya sulit tertangkap karena nggak ada plat nomor mobil, Sil. Ditambah mereka juga 'kan pakai masker. Tapi feeling Kakak sih itu paling saingannya Rama."


"Maksud Kakak Kak Arya?"


"Kok ke Arya-Arya?" Alis mata Gugun bertaut.


"Tadi Kakak bilang saingannya Aa. Kan saingannya Kak Arya." Sisil berpikir, saingan yang Gugun maksud adalah perihal dirinya. Padahal bukan.


"Bukan saingan tentang percintaan, Sil. Tapi saingan di dunia bisnis. Hal seperti itu sering banget terjadi, apalagi bisnis emas Rama 'kan sukses."


"Oohhh ... iya juga, ya." Sisil manggut-manggut. "Terus, kalau misalkan Aa Rama berhasil diculik ... nanti dia diapakan kira-kira, sama saingannya, Kak?"


"Bisa jadi dibunuh, Sil."


"Dibunuh?!" Mata Sisil seketika mendelik. Dia terkejut mendengarnya.


"Maaf, bukan maksud ingin mengejutkanmu, Sil." Gugun meraih puncak rambut adiknya, lalu mengelusnya dengan lembut. "Tapi memang seperti itu rata-rata. Kamu ingat nggak, sih, sama almarhum Pak Danu? Bos Kakak?"


"Ayahnya si Citra?"


"Iya."


"Kenapa? Dia meninggal karena dibunuh juga?"


"Sepertinya sih begitu. Tapi perlahan-lahan, dan pelakunya nggak kelihatan. Jadi nggak bisa diungkap."


"Kok bisa, Kakak berpikir seperti itu?"


"Ayahnya Nona Citra orang kaya, Sil. Dia juga sudah lama dirawat di rumah sakit karena menunggu pencangkokan ginjal. Tapi anehnya ... ginjal yang cocok selalu nggak ada. Itu pasti ada orang dalam ... yang mengaturnya, hanya saja Kakak nggak mau menuduh karena nggak ada bukti."


"Masa sih, Kak? Terus Kakak curiganya sama siapa?"


"Adalah pokoknya. Tapi kamu nggak perlu tau, lagian sudah berlalu juga."

__ADS_1


"Tapi Citra 'kan temanku, Kak. Dan bisa jadi ... selanjutnya Citra yang akan dibunuh."


"Insya Allah enggak. Kan Nona Citra sudah menikah juga sama Pak Steven, jadi aman."


"Memangnya menikah dengan Om Steven akan menjamin Citra aman, ya?"


"Sejauh ini ... kamu sering dengar kabar buruk tentang Nona nggak? Pasti enggak, kan? Berarti aman."


"Tapi suaminya 'kan kemarin kecelakaan juga, mati suri dan aku dengar masih amnesia."


"Dia kecelakaan karena kecerobohan sendiri, Sil. Kalau tentang mati suri dan amnesia, itu Allah yang menakdirkan. Jadi nggak ada hubungannya."


"Tapi tetap saja aku takut, kalau nantinya Citra kenapa-kenapa. Aa Rama juga kayaknya musti pindah profesi deh, Kak. Biar dia nggak dijahatin orang."


"Kalau pindah profesi nanti Rama jadi apa?"


"Jadi polisi kayaknya cocok. Badan Aa juga 'kan tinggi gede." Sisil terdiam sebentar sembari membayangkan Rama memakai seragam polisi. Pasti akan terlihat makin gagah dan mempesona pikirnya.


"Jadi polisi itu musti sekolah dulu, Sil, nggak sembarangan. Lagian kalau Rama jadi polisi... nanti dia nggak ada waktu untukmu. Kan jadi polisi itu jarang dikasih libur kayaknya."


Lamunan Sisil pun buyar seketika. "Iya juga, ya? Terus ... menurut Kakak Aa Rama musti ganti profesi sebagai apa? Kalau misalkan dosen gimana?"


"Tapi 'kan bisa saja, Kak. Namanya manusia 'kan nggak tau."


"Mending tunggu aja dulu kebenarannya. Biar jatuhnya nggak fitnah," saran Gugun. "Kalau memang Rama lebih aman berada di rumah ... ya berarti dia di rumah saja dulu. Lagian 'kan hitung-hitung istirahat untuk masa pemulihan. Dan lebaran juga udah dekat, Sil, pasti Rama libur kerja. Jadi nggak masalah, kan?"


"Iya, sih, tapi aku takut Aa nanti bosen, Kak ... kalau di rumah terus."


"Nggak akan. Kan ada kamu, mana mungkin sih dia bosen?" Gugun mengedipkan sebelah matanya, menggoda adiknya. Dilihat. Wajah Sisil sudah merona.


"Ih apaan sih Kakak!" cicitnya dengan malu-malu. Jangan sampai karena digoda Gugun, Sisil jadi membayangkan saat bercinta dengan Rama.


Ceklek~


Tak lama, Mbah Yahya pun masuk ke dalam kamar rawat Gugun bersama seorang suster yang membawa meja troli berisikan makan siang.


*


*

__ADS_1


*


Sampai jam 9 malam, nyatanya Tuti belum datang juga. Padahal, bukan hanya Sisil saja yang menunggunya. Tapi Mbah Yahya juga.


Gugun sendiri sudah diberitahu oleh Sisil, kalau Tuti pasti akan datang untuk menjenguknya. Tapi dia yakin betul, kalau perempuan itu tak akan mungkin peduli untuk datang menemui.


"Ke mana si Kentut? Kok belum datang juga? Jam segini sholat tarawih pasti udah selesai, kan?"


Mbah Yahya duduk dikursi panjang di depan kamar rawat Gugun. Dia menunggu Tuti sembari memerhatikan arlojinya.


Setelah waktu berbuka puasa tadi, dia berpikir alasan Tuti belum datang mungkin karena dia ingin buka di apartemen. Atau tanggung sekalian sehabis sholat tarawih.


Namun nyatanya, sampai sekarang dia tak kunjung datang.


"Malam, Pak. Bagaimana dengan kondisi Pak Gugun?" tanya Evan yang baru saja datang menghampiri, tangannya menenteng sebuah sate kambing yang merupakan pesanan sang bos sebelum dirinya datang.


"Baik, Van. Cuma perlu dirawat aja untuk sementara," jawab Mbah Yahya, lalu mengambil kantong plastik ditangan Evan. "Ini sate pesananku, kan?"


"Iya, Pak." Evan mengangguk. Lantas menatap ke arah pintu kaca, yang memperlihatkan Gugun tengah berbaring dengan ditemani Sisil yang duduk. Keduanya terlihat sedang tertawa, tapi entah sedang membahas hal apa.


"Oh ya, hari ini apa kegiatanmu, Van?" tanya Mbah Yahya dengan mulut yang terisi penuh oleh sate dan lontong. Sebenarnya tadi dia sudah makan saat diwaktu Magrib, ikut-ikutan Sisil yang berbuka puasa dari kiriman Yenny. Tapi memang namanya juga perut karung, jadi setiap saat tetap saja sering lapar.


"Mengawasi Nona Gisel, Pak." Evan perlahan mendudukkan bokongnya di samping Mbah Yahya. "Tapi saya merasa heran padanya."


"Kenapa? Apa karena dia menolak cintamu?" tebak Mbah Yahya yang melirik sebentar.


"Ini bukan tentang hubungan saya, Pak. Tapi pas keluar apartemen ... saya lihat Nona Gisel masuk ke dalam mobil. Tapi nggak tau mobil siapa."


"Lalu?"


"Terus saya ikuti dong. Eh nggak taunya ... mobil itu berhenti di tempat yang tidak jauh dengan posisi rumah Bapak."


Bola mata Mbah Yahya sontak sedikit membulat. Lalu dia pun menoleh ke arah Evan. "Terus, Van?"


"Terus ya saya tungguin ... maksud Nona Gisel ke sana itu mau apa. Tapi sampai waktu berbuka puasa, Nona Gisel masih ada disitu dan nggak keluar mobil sama sekali. Dan baru tadi sebelum saya ke sini, barulah dia pergi dari sana terus pulang ke apartemen, Pak," jelas Evan.


"Apa kamu ikuti terus mobil itu sampai kamu tau siapa yang mengemudinya? Dan apa warna mobil itu, Van?" tanya Mbah Yahya yang mendadak curiga.


...wah si Gisel calon² ini mahhh......

__ADS_1


__ADS_2