Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
168. Jantung perawan


__ADS_3

"Kita nggak perlu membunuh orang, Van."


"Lalu?" Pernapasan Evan seketika melega.


"Kita hanya perlu mencari orang yang baru saja mati. Tapi harus perempuan yang masih perawan, Van."


"Lalu nanti diapakan, Pak?"


"Kita ambil jantungnya. Buat dijadikan persembahan."


"Dih, Pak. Apakah ini nggak berbahaya?" Baru membayangkannya saja rasanya Evan sudah ngeri duluan.


"Berbahaya gimana?"


"Ngambil jantung orang lain. Ya meskipun udah mati ... tapi 'kan dia punya keluarga. Kalau ketahuan kita bisa di penjara."


"Ya kita mengambil jantungnya jangan sampai ketahuan dong, Van. Main cantik."


"Tapi gimana kita bisa tau orang itu perawan atau nggak, sedangkan zaman sekarang banyak perempuan yang udah nggak perawan meskipun belum menikah, Pak." Evan tidak mau asal bertindak dengan mengambil jantung seseorang, yang belum tentu perawan atau tidak. Karena bisa saja itu membuang waktu, kalau sampai yang mereka dapatkan ternyata bukan jantung dari perawan asli. "Apa sebelum mengambil jantungnya ... saya coba dulu, Pak?"


"Coba gimana?"


"Saya coba mempe*rkosanya. Memastikan dia masih perawan atau nggak, sebelum kita mengambil jantungnya."


"Gila aja kamu, Van!" Mbah Yahya langsung menoyor kepala asistennya. "Masa mayat dip*erkosa? Yang benar saja!"


"Ya terus gimana, dong? Enggak mungkin, kan, kita asal ngambil jantung. Nanti pas tau-tau ternyata pemiliknya udah nggak perawan gimana? Buang-buang waktu dong, Pak."


"Itu gampang sih, Van. Kita tinggal cek organ intimnya saja, sebelum mengambil jantungnya."


"Memang kelihatan bedanya?"


"Ya tentu kelihatan lah!" jawab Mbah Yahya yang terdengar yakin. "Yang masih perawan lubangnya terlihat sempit. Kita bisa memastikannya dengan satu jari, pasti masuk cuma satu. Itu pun seret. Dan kamu juga 'kan seorang duda, Van ... masa iya, kamu nggak bisa membedakan mana yang masih perawan dan mana yang udah losdol?"

__ADS_1


"Ya memang saya nggak tau kok, Pak."


"Memang dulu pas kamu perawanin istrimu kamu udah lupa, Van?"


"Bukan udah lupa. Tapi dia memang udah nggak perawan, Pak."


"Kasihan amat kamu, Van! Van!" Mbah Yahya mendesaah sambil geleng-geleng kepala. "Udah diselingkuhi, dulunya bekas orang lagi. Itu sih namanya ditipu."


"Iya. Memang bodoh saya dulu, Pak. Saya awalnya percaya kalau dia korban pemerkosaan, eh nggak taunya dia memang pemain. Sangking hipernya seminggu nggak ketemu saja dia udah main sama orang lain." Jika membahas masa lalu, rasanya Evan begitu jengkel. Jengkel pada dirinya sendiri yang terlalu dibodohi dengan hal yang namanya 'cinta'


"Ya sudah ... Intinya sekarang kita harus segera mendapatkan tumbal. Hal yang pertama kamu lakukan cukup berkeliling melewati beberapa pemakaman umum, Van. Mengontrol ... barangkali ada perawan yang baru saja meninggal. Lebih bagus lagi penyebabnya karena kecelakaan. Karena pastinya jantungnya masih sehat."


"Iya, Pak." Evan mengangguk patuh. Pekerjaannya sekarang makin bertambah saja.


***


Sementara itu di tempat lain.


Bubur itu dibuat tadi pagi dan untuk Rama. Gisel sudah sempat datang ke rumah sakit tadi, hanya saja tidak ada celah untuknya supaya bisa bertemu pria itu. Meskipun sudah beberapa jam lamanya menunggu.


Selain ada Gugun, Sisil juga tak pernah lepas untuk selalu berada di samping Rama. Dan itu benar-benar membuat Gisel setres karena tak bisa menemui pria idamannya.


"Ah menyebalkan memang! Si Sisil juga kenapa, sih, harus selalu menunggu Mas Ramaku? Harusnya dia pergi saja dari sana! Biar aku yang menjaganya!" Gisel hanya bisa menggerutu geram, meluapkan emosi di dadanya.


"Mbak ...," panggil Arya yang berada di depan pintu apartemen Gisel. Dan membuat kakaknya itu menghentikan langkah.


"Arya, sejak kapan kamu datang ke sini?" Gisel lantas membuka kunci apartemennya, kemudian mendorong pintunya dan masuk ke dalam sana. "Ayok masuk, Ar."


"Iya." Arya mengangguk, lalu ikut masuk dan menutup pintu. "Aku daritadi ada di sini, nungguin Mbak. Mbak dari mana sih? Kok lama, kutelepon juga nggak diangkat-angkat." Dia pun lantas duduk di sofa ruang tengah, di samping Gisel yang kini tengah memijat dahi.


"Mbak tadi habis dari rumah sakit, Ar. Tadinya mau jenguk Mas Rama. Tapi sayangnya Mbak nggak dikasih kesempatan buat ketemu," jawab Gisel dengan muram.


"Pasti banyak yang nungguin Om Rama ya, Mbak? Apa Sisil juga ada di sana?"

__ADS_1


Arya sebelumnya sudah diberitahukan oleh Gisel, kalau Rama masuk rumah sakit. Yang berakibat gagalnya rencana mereka.


"Jangankan Sisil, Daddynya juga ada tadi Mbak lihat." Gisel mendengkus, lalu menatap wajah adiknya yang terlihat sedih. "Wajahmu kenapa? Kok sedih gitu?"


"Ya bagaimana aku nggak sedih, orang rencana kita gagal. Kupikir kali ini akan berhasil. Padahal aku sudah merindukan Sisil, Mbak. Aku ingin dia kembali padaku." Sorot mana Arya terlihat nanar. Tubuhnya makin hari makin terlihat kurus saja, karena terus menerus memikirkan Sisil.


"Ini semua gara-gara anak buah Mbak yang nggak becus, Ar! Ditambah ada perempuan yang menyelamatkan Mas Rama! Harusnya rencana kita berjalan mulus ... dan Mas Rama nggak akan mengalami kebutaan!" geram Gisel dengan emosi. Jengkel sekali rasanya pada dua anak buahnya itu, hanya saja untuk menyalahkan secara langsung ke orangnya dia tidak bisa. Sebab dia juga tentu ikut andil dengan apa yang terjadi.


"Jadi efek kecelakaan itu Om Rama buta, Mbak?" Arya terlihat kaget, tapi ada seringai kecil di bibirnya. Yang menandakan jika dia senang, mendengar berita kalau pria itu buta. Itu berarti kekurangan dari diri Rama bertambah.


"Iya, Mbak berharap sih nggak permanen Arya. Mbak nggak sanggup melihat Mas Rama buta. Kasihan dia ...." Bola mata Gisel tampak berkaca-kaca.


'Aku malah berharap dia buta permanen, Mbak,' batin Arya. 'Biarkan saja dia jadi suami yang nggak berguna. Biar Sisil berpaling kepadaku.'


"Eemm ... terus, Mbak. Apa rencana kita selanjutnya? Apakah Mbak ingin menyerah sekarang?"


"Tentu nggak dong, Arya." Gisel menggeleng. "Sampai kapan pun Mbak nggak akan menyerah, demi bisa mendapatkan Mas Rama. Tapi untuk sementara ... rencana selanjutnya akan ditunda dulu. Sampai Mas Rama pulih."


"Apa rencana selanjutnya masih dengan cara menculik Om Rama, Mbak?"


"Iya. Tapi nanti Mbak akan ikut serta. Supaya rencana ini nggak lagi gagal."


"Kenapa nggak sekarang saja, kita culik Om Ramanya? Kan mumpung dia nggak berdaya di rumah sakit. Kita bisa menyelinap masuk ke dalam dan membawa Om Rama pergi secara diam-diam, Mbak." Arya memberikan sebuah ide.


"Enggak! Jangan sekarang, Arya!" tolak Gisel sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Mbak nggak mau ambil resiko, takutnya kondisi Mas Rama makin memburuk."


"Tapi dalam kondisi buta seperti itu, bukannya sangat menguntungkan, ya, bagi Mbak? Kan dia nggak bisa lihat mana Mbak dan mana Sisil, pasti nggak bisa membedakannya. Kalau dicium pun pasti mau-mau aja, apalagi disuruh buka celana."


...Aihhhh si Arya 😤...

__ADS_1


__ADS_2