Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
33. Kamu sakit?


__ADS_3

Mungkin sedikit lagi gadis itu akan jatuh ke bawah sana dan pergi ke alam baka. Namun lengannya langsung dia tarik dan membuat tubuhnya turun dari jembatan. Setelah itu dia segera memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kamu gila ya, Sil? Kamu mau bunuh diri?!" omelnya.


Sisil mengirup aroma minyak wangi perempuan yang memeluknya itu. Familiar sekali. Selain itu postur tubuhnya sama dengannya. Pasti dia adalah Citra.


"Cit, kamu ngapain ada di sini?" tanya Sisil saat berhasil menatap wajahnya. Benar sekali dia Citra.


"Kamu yang ngapain?! Kenapa kamu naik ke jembatan? Mau bunuh diri kamu, ya?" omel Citra marah.


"Nggak kok," bantah Sisil sambil menggelengkan kepala.


"Jangan bohong kamu, Sil. Ayok sekarang ikut denganku." Citra melepaskan pelukan itu, kemudian menarik lengan temannya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. "Ayok jalan, Pak!" titahnya pada Jarwo, sopirnya.


"Baik, Nona." Pria itu mengangguk dan kembali menancapkan gas.


"Kita mau ke mana, Cit?" tanya Sisil bingung. Kedua tangannya itu mengusap pipi sebab basah sisa air matanya.


"Ke apartemenmu. Aku akan mengantarmu pulang."


"Oh."


Citra mengulurkan tangannya ke wajah Sisil. Menangkup kedua pipinya. "Kamu sebenarnya kenapa, sih? Ada masalah apa? Akhir-akhir ini aku susah untuk bertemu denganmu, Sil."


Setelah waktu itu dia bertemu Rama, Citra juga sempat datang ke rumah sakit karena dia diberitahu Gugun.


Namun saat dia berniat datang untuk menjenguk, Gugun sendiri mengatakan kalau Sisil tidak mau dijenguk. Memang benar, gadis itu tidak mau bertemu siapa pun selain Gugun dan Arya.


'Apa aku harus bercerita kepadamu, Cit? Tapi ... aku malu,' batin Sisil.


Tangan Citra turun pada punggung tangannya, lalu menggenggamnya dengan erat. Hangat sekali Sisil merasakannya.


"Kata kamu ... kita ini sahabatan. Tapi kenapa kamu nggak mau cerita sama aku? Padahal setiap aku punya masalah, kamu pasti tahu itu, Sil," ucap Citra. Dia masih berusaha membujuk, aslinya dia penasaran sekali. Karena tak biasanya Sisil susah diajak ketemu dan nomornya pun susah dihubungi.


"Aku sebenarnya ... Eemmmpppt!" Sisil langsung membungkam mulutnya sendiri, sebab perutnya tiba-tiba saja bergejolak begitu dahsyat.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sil?" tanya Citra yang tampak panik. Sisil langsung memegang handle pintu, mengisyaratkan kalau dia ingin turun. "Berhenti dulu, Pak!" titahnya kepada Jarwo.


Setelah mobil itu berhasil berhenti di sisi jalan, Sisil gegas membuka pintu dan turun. Kemudian, secara tiba-tiba dia langsung memuntahkan isi di dalam perutnya pada saluran air.


"Uueek! Uueek!" Makan siangnya tadi di rumah Arya dikuras habis. Banyak sekali yang Sisil keluarkan. "Uueek! Uuueek!"


"Kamu sakit?" Citra turun dari mobilnya lalu melangkah menghampiri temannya. Pelan-pelan dia pijat tengkuk putih Sisil, sebab gadis itu belum selesai muntah-muntah.


"Uueekk! Uueekk!"


"Ini tissue dan air minum, Nona." Jarwo yang ikut turun langsung memberikan sekotak tissue dan air mineral kepada Citra, mungkin Sisil membutuhkannya.


Sisil meremmas perutnya. Sakit sekali, berikut dengan kepala yang berdenyut.


"Kita ke rumah sakit, ya?" tawar Citra. Dia memberikan apa yang ada di tangannya.


Sisil mengambil, lalu membasuh bibirnya dan kumur-kumur. Setelah itu dia menyekanya dengan tissue.


"Nggak usah, Cit," tolak Sisil dengan gelengan kepala. "Aku ingin cepat pulang dan ketemu Kak Gugun. Ada hal penting yang mau aku sampaikan padanya."


Bukan hanya perut saja yang Sisil baluri, tetapi leher, tengkuk dan bahkan kepala. Dia juga sambil memijatnya.


"Sepertinya kamu banyak sekali masalah akhir-akhir ini," ucap Citra. Dari sikapnya itu dia sudah mampu menebak. "Pokoknya kalau sudah sampai kamu musti cerita kepadaku, ya!"


"Kalau aku cerita, kamu masih mau temenan sama aku nggak?" tanya Sisil sedih.


"Memangnya kenapa?


"Jawab saja."


"Selagi kamu nggak ngerugiin aku. Kamu akan tetap menjadi temanku." Citra tersenyum lalu mengusap bahu kiri temannya dengan lembut. "Oh ya, kemarin-kemarin aku sempat bertemu Om Rama. Kayanya dia mau balikin sepatumu, kamu sudah bertemu dengannya?"


"Kamu kenal Om Rama?"


"Kenal. Dia anaknya teman Papa Angga. Dan kata dia juga, dia pernah kuliah bareng sama suamiku lho. Cuma jadi seniornya."

__ADS_1


"Berapa umur suamimu, Cit?"


"36 tahun, tahun ini. Kenapa memangnya?"


"Nggak." Sisil menggeleng lesu. Lalu menyandarkan punggungnya pada kursi yang dia duduki. 'Suaminya Citra saja yang menurutku tua, usianya 36 tahun. Apa kabar Om Rama yang menjadi senior saat masa kuliah. Apa mungkin 40 tahun?' batinnya.


***


Sementara itu Arya dan Ganjar tengah menaiki mobil Lamborghini. Mereka sudah perjalanan ke arah pulang ke rumah Arga sebab kado untuk Sisil sudah berhasil mereka bawa.


Ganjar sendiri sebenarnya menghadiahi sebuah paper bag yang isinya adalah jaket yang awalnya dia beli untuk Arya. Hanya saja itu belum diberikannya dan masih baru. Jadi tidak ketahuan kalau ternyata apa yang dilakukan Ganjar hanya alasan untuk meninggalkan Sisil sebentar.


'Semoga saja Arga sudah ngomong sama Sisil,' batin Ganjar.


"Oh ya, Opa mau ngomong apa sama aku?" tanya Arya sembari menoleh sebentar. Dialah yang mengemudikan mobil itu.


"Ngomong apa apanya, Ar?" tanya Ganjar bingung.


"Lho, bukannya tadi Opa bilang ingin mengobrol berdua denganku, ya? Apa Opa lupa?"


"Oh iya, Opa ingat." Ganjar mengangguk kala mengingat permintaannya kepada Arya tadi. Akibat memikirkan Sisil yang mau ditolak, penyakit pikunnya kambuh.


"Terus kenapa diam? Ayok ngomonglah Opa." Arya mendengkus kesal. Sejak tadi dia menunggu obrolan Opanya. Akan tetapi pria itu masih terbengong saja.


"Ini, Opa hanya ingin memberikan saran ... kalau kamu dan Sisil sudah menikah, alangkah baiknya kalian jangan dulu punya anak. Tunggu lulus kuliah," ucap Ganjar asal.


"Niatku juga begitu. Sisil diKB saja dulu, biar kita berdua bisa kembali fokus kuliah," jawab Arya mengangguk. "Tapi, apa ini artinya Opa setuju aku menikah dengan Sisil?" Arya menoleh dengan bola mata yang tampak berbinar bahagia. Dia beranggapan kalau Ganjar memihak kepadanya. Padahal tidak sama sekali.


"Opa sih setuju-setuju saja," jawab Ganjar berbohong. Dia melakukan semua itu supaya sang cucu tidak kecewa. "Tapi nggak tahu Papa dan Mamamu, Ar."


"Mereka pasti setuju," sahut Arya dengan yakin.


Tak berselang lama, mobil hitam itu berhenti di halaman rumah Arga. Segera, Arya turun dengan membawa paper bag kemudian masuk ke dalam rumah. Tidak sabar rasanya dia ingin cepat bertemu Sisil dan memberikan apa yang dia bawa.


'Sisil pasti senang, Opa sudah setuju dan sebentar lagi kita akan menikah,' batin Arya sambil berjingkrak-jingkrak.

__ADS_1


...Nanti malam Author up lagi, pantengin terus, ya! 😘...


__ADS_2