Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
108. Indah pada waktunya


__ADS_3

"Maaf Nona, saya nggak bisa."


"Nggak bisa? Tapi kenapa?" Wajah Gisel seketika kecewa.


"Saya belum pernah punya teman seorang perempuan, dan rasanya sangat aneh jika kita yang orang asing bisa berteman. Ya sudah ya, saya tutup teleponnya. Selamat pagi."


Gisel langsung mendengkus kesal kala panggilan itu sudah terputus. Jelas dari kalimat yang diucapkan, jika Gugun bukan hanya menolak untuk diajak bertemu, tapi juga berteman.


"Ah si*lan banget! Dasar pria sombong!" umpat Gisel dengan emosi yang tiba-tiba naik. Tapi dia perlahan membuang napasnya kasar. "Nggak, Sel, kamu nggak boleh nyerah begitu saja." Gisel berbicara sendiri untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Masih banyak jalan menuju roma. Eh, Rama maksudnya. Kalau pun Pak Gugun nggak mau diajak makan siang bareng ... biar aku pergi langsung saja ke kantornya, iya, kan?" Mendadak dia terkekeh, padahal tidak ada yang lucu sama sekali. "Iya, ya, buat apa juga aku punya teman Olla yang sudah tau seluk beluk Pak Gugun, tapi nggak kumanfaatkan. Rencanaku pasti akan berjalan mulus, dengan catatan aku harus berusaha dan tentu sabar. Aku yakin ... semua akan indah pada waktunya,' batin Gisel bertekad dalam hati.


Seusai berdandan dengan cantik dan bersiap untuk berangkat mengajar, Gisel pun lantas keluar dari kamar apartemennya. Kemudian mengunci pintu dengan rapat.


"Astaghfirullah!" Gisel tersentak kaget saat dirinya berbalik badan. Sebab dia melihat Evan sudah berdiri di depannya dengan jarak yang begitu dekat.


Pria berjas abu-abu itu pun langsung mundur beberapa langkah, kemudian memperhatikan Gisel dari ujung kaki hingga kepala. Terlihat cantik dan rapih, dengan mengenakan dress batik.


"Nona mau kondangan ke mana? Cantik sekali," ujar Evan.


'Siapa juga yang mau kondangan?' Gisel membatin sembari melengos. Cepat-cepat dia melangkah pergi masuk ke dalam lift, merasa malas untuk bertemu Evan. Tapi sayangnya, pria itu justru berlari dan ikut masuk ke dalam lift menyusulnya

__ADS_1


"Kamu mau apa sih? Kok ngikutin aku mulu?!" teriak Gisel marah.


"Saya nggak mengikuti Nona," bantah Evan seraya menggelengkan kepala.


"Terus ngapain ada di sini?" ketusnya.


"Saya kemarin malam baru pindah ke sini, kita mulai sekarang tetanggaan lho, Nona," ucap Evan memberitahu. Bibirnya tampak tersenyum tipis.


Niatnya pindah dan sengaja bertetanggaan adalah atas perintah Mbah Yahya. Karena dia juga masih ditugaskan untuk mengawasi demi bonusnya bisa cair, khawatir kalau Gisel akan berbuat nekat lagi untuk merecoki rumah tangga Rama.


Gisel berdecih sebal sambil bersedekap. 'Mau ngapain coba, segala tinggal di sini?! Ah menyebalkan banget dukun satu ini!' Meskipun kesal, tapi nyatanya Gisel hanya berani bicara dalam hati saja. Sebab takut jika Evan melakukan hal yang sama seperti Mbah Yahya, yakni menyemburnya.


"Dan saya juga ingin memastikan ... kalau Nona nggak akan menganggu rumah tangga Pak Rama, karena sebentar lagi beliau akan menjadi seorang Ayah," tambah Evan. Bicara tentang Ayah, dia hanya asal bicara saja. Sengaja karena ingin melihat respon Gisel.


"Ayah?! Nggak salah?" Gisel terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Merasa lucu lantaran menurutnya ucapan Evan sangat tak amsuk akal. "Mana mungkin. Memangnya aku nggak tau Mas Ramaku seperti apa? Aku sama kamu juga jauh lebih tau aku, bagaimana Mas Rama!" Menepuk keras dadanya dengan bangga.


"Oh, maksudnya Nona nggak percaya kalau Pak Rama bisa jadi Ayah?"


"Iyalah. Burungnya letoy begitu mana bisa dia menanam benih. Jangankan menanam, masuk apem istrinya saja aku nggak yakin kalau bisa," cibir Gisel meremehkan.


"Kalau memang menurut Nona Pak Rama itu nggak mampu membuat istrinya puas, terus kenapa Nona seperti tergila-gila banget sama Pak Rama? Kan pria banyak diluar sana yang jelas lebih sempurna, aku contohnya." Evan membenarkan kerah jasnya, kemudian menyugar rambut klimisnya. Dilihat-lihat Evan ini memang cukup tampan juga, tapi bukan tipe Gisel.

__ADS_1


Gisel langsung mencebik bibirnya kala mendengar Evan seolah membandingkan dengan Rama. Yang jelas sangat jauh menurutnya. 'Daripada dia, ya mending Pak Gugun. Kumisnya Pak Gugun bahkan jauh lebih ganteng daripada wajah si Dukun ini,' batinnya dengan jengkel.


Ting~


Mendengar bunyi pintu lift terbuka, cepat-cepat Gisel berlari keluar dari sana.


"Jawab dulu kenapa?"


Tepat dipinggir jalan saat keduanya keluar dari gerbang apartemen, Evan mencekal tangan kanan Gisel. Demi menghentikan langkahnya yang terlihat buru-buru. Juga seperti menghindarinya.


"Karena aku tulus mencinta Mas Rama!" teriak Gisel seraya menghentakkan tangannya. Hingga membuat tangan Evan terlepas. "Tapi kamu tenang saja, aku akan move on mulai sekarang dan berhentilah untuk mengikutiku!"


Melihat ada mobil taksi yang baru saja lewat, Gisel pun langsung melambaikan tangan.


Sesudah berhenti, segera dia masuk ke dalam sana dan meminta sang sopir untuk cepat pergi. Gisel benar-benar merasa risih sekali dengan kehadiran Evan.


"Hhhmmm ... syukurlah aku berhasil pergi darinya," gumam Gisel dengan hembusan napas yang terdengar lega. Kepalanya memutar ke belakang, memperhatikan Evan yang berdiri menjauh. "Ini pasti gara-gara Bapaknya Mas Rama. Dia yang mengirimkan si Dukun itu untuk menjadi tetanggaku. Ah menyebalkan sekali, kenapa juga, sih, Mas Rama itu harus mempunyai Bapak seorang Dukun? Mana tukang nyembur dan napasnya bau naga lagi," gerutu Gisel dengan jengkel.


"Aku yakin banget sih ... pasti Mas Rama itu bukan anak kandungnya, karena Pak Yahya itu sangat jelek, berbeda dengan ...." Ucapan Gisel seketika terhenti kala tenggorokannya mendadak terasa sakit seperti tercekik, hingga membuatnya terbatuk-batuk sekarang. "Uhuk! Uhuk!"


...Nah 'kan, belum apa-apa kamu udah kualat, Sel 🤣...

__ADS_1


__ADS_2