
Sisil langsung menepis tangan Arya, melepaskan genggaman tangannya. Dan setelah itu, dia pun berlari pergi dari sana.
Rosa juga mengakhiri rekaman video serta aksi mengintipnya, kemudian turun dan pergi menjauh dari kelas kosong itu.
Arya yang masih ada di dalam hanya tersenyum miring, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Hendak menghubungi seseorang.
'Semoga saja, dengan begini Sisil akan berpikir dua kali untuk mempertahankan rumah tangganya. Aku juga sebenarnya takut, kalau memang benar ... Sisil akan menjadi tumbal selanjutnya,' batin Arya.
Mengenai tumbal tadi, sebenarnya dia hanya asal bicara. Dan mungkin saja tebakannya memang benar. Sebab dia sendiri—sama sekali tak tahu jelas alasan istri pertama Rama meninggal.
"Halo, Arya, ada apa?" tanya seorang perempuan dari seberang sana. Dan dia adalah Gisel.
Seperti apa yang Arya pikirkan tadi, tentang Mbaknya. Dan sebenarnya, Gisel yang Sisil maksud tadi memanglah Gisel Kakak perempuannya. Hanya saja Arya belum tahu akan hal itu. Dan inilah sebabnya dia menghubunginya.
"Apa Mbak mengenal Om Rama anaknya Dukun Yahya?" tanya Arya langsung pada intinya.
"Kenal, kenapa memangnya?"
"Mbak suka, sama Om Rama, ya?"
"Kamu apaan, sih, udah lama baru telepon kok tiba-tiba tanya seperti itu? Bukannya nanyain kabar dulu." Gisel terdengar mendengkus kesal.
Dia dan Arya sebenarnya cukup dekat, tapi semenjak Gisel memutuskan untuk tinggal sendiri—mereka jadi jauh. Apalagi memang sudah hampir dua bulan belakangan ini tak bertemu, ditambah Gisel juga tak pernah mengunjungi orang tuanya.
__ADS_1
"Maaf, kabar Mbak gimana? Dan apa Mbak ada waktu untuk kita bertemu?"
"Kabar Mbak baik. Kamu mau ketemu Mbak mau apa? Apa disuruh oleh Papa atau Opa?" tanya Gisel yang terdengar curiga.
"Nggak. Ini nggak ada kaitannya dengan mereka, tapi ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Sekalian aku juga mau main ke apartemen Mbak, rasanya sudah lama sekali, kan?"
"Oke. Kamu main saja, tapi nanti malam ya, Arya?" pinta Gisel.
"Jam berapa, Mbak?"
"Habis Isya saja. Kalau jadi rencananya Mbak mau bukber sama temen soalnya."
"Oh oke. Tapi apartemen Mbak masih sama, kan?"
"Mbak sudah pindah apartemen," jawab Gisel. "Nanti Mbak kirim alamat lengkapnya, tapi kamu harus janji ... jangan beritahu ke siapa pun tentang apartemen baru Mbak, ya!" tegur Gisel sedikit mengancam.
***
"Masa sih, Daddynya Om Rama seorang dukun, dan dia ingin menjadikanku tumbalnya?" gumam Sisil dalam perjalanan pulang, menaiki mobil taksi. Dia terus mengulang-ulang kalimat itu hingga membuatnya takut.
Sisil juga memutuskan untuk mengakhiri jam belajarnya di kampus, sebab ingin memastikan apa yang Arya katakan adalah benar.
Namun, hal yang ingin Sisil lakukan terlebih dahulu adalah menemui Kakaknya, dia ingin bertanya kepada pria itu. Dan barulah bertanya kepada Rama.
__ADS_1
"Ish! Kakak nomornya masih aja nggak aktif!" gerutunya pada ponsel yang berada dalam genggaman. Lagi-lagi memang, nomor Gugun tidak aktif. Tidak seperti biasanya, bahkan dari pagi pun tidak ada tanda-tanda nomor pria itu sempat aktif.
"Wwueek!" Entah mengapa, tiba-tiba saja Sisil merasakan perutnya bergejolak dan ingin muntah. Ditambah juga sangat sakit. "Aaww!" rintihnya sambil menyentuh perut.
"Nona kenapa? Apa mual?" tanya sang sopir taksi sambil menatap kaca depan, yang memantulkan wajah Sisil. Terlihat dari ekspresi wajahnya saja—gadisnya seperti menahan rasa mual.
"Iya, Pak. Bisa berhenti sebentar?" tanya Sisil pelan. Dia membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan, berupaya untuk menahan supaya tak muntah. 'Ya Allah, jangan muntah dong. Bisa-bisa aku batal puasanya. Ini 'kan hari pertama,' batinnya.
Mobil berwarna biru telor asin itu perlahan berhenti di sisi jalan raya. Dan segera, Sisil pun turun dari mobil tersebut kemudian langsung memuntahkan isi di dalam perutnya.
"Wwuuekk! Wwuueekk!" Meski ditahan-tahan, nyatanya Sisil tidak bisa. Tapi memang perutnya sejak pagi sudah terasa tidak enak, tapi Sisil tidak terlalu memikirkan sebab dia berpikir nanti mualnya akan hilang sendiri.
"Ya ampun, Nona, sepertinya Nona masuk angin." Sopir itu terlihat terkejut dengan bola mata yang terbelalak. Cepat-cepat dia mengambil sebotol air minum, juga menarik beberapa lembar tissu kemudian turun dan menghampiri. "Ini, Nona," ucapnya memberikan apa yang dia bawa.
Tangan Sisil perlahan meraihnya, tapi tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat berkunang-kunang dan penglihatan pun seketika memutar.
"Aduh, Pak, kepalaku pusing banget." Sisil menyentuh kepalanya dengan kedua tangan. Dan tubuhnya pun mulai tumbang.
"Sisil! Kenapa kamu?!" Seseorang yang baru saja turun dari mobil berteriak. Gegas dia berlari karena panik dan langsung menangkap tubuh Sisil, saat gadis itu sudah hilang kesadaran dan hendak ditangkap oleh sang sopir.
"Bapak siapa?" tanya sang sopir dengan kening yang mengerenyit menatap pria di depannya.
"Kau yang siapa dan kau apakan dia sampai pingsan begini? Apa kau melecehkannya?!" teriaknya yang tiba-tiba murka, kemudian tanpa menunggu jawaban dari sang sopir, dia sudah berhasil menonjok wajahnya.
__ADS_1
Bugh!
...Ada yang bisa nebak, yang nolongin Sisil siapa? 🤔...