Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
7. Nasi sudah menjadi bubur


__ADS_3

"Jangan berpikir jelek dulu. Harusnya kamu berdo'a kalau pria itu jomblo, tampan dan kaya. Biar dia pantas bersamamu."


"Tapi yang aku cintai hanya Kak Arya, Kak. Dia bilang kalau setelah lulus mau mengajakku bertunangan. Terus nunggu aku lulus baru menikah."


Setiap manusia pasti mempunyai khayalan untuk masa depannya. Begitu pun dengan Sisil.


Dia sendiri bukan tipe gadis yang pemilih. Asalkan laki-laki itu dia cintai, Sisil akan menerima apa adanya.


Selain mencintai Arya, laki-laki itu juga sangat baik menurutnya. Semua sifat dan sikap yang dia miliki hampir tak ada yang cacat.


"Tapi 'kan nasi sudah menjadi bubur, kecuali kalau Arya sendiri tetap mau bersamamu, meskipun kamu sudah dilecehkan."


"Itu juga yang aku takutkan. Aku takut Kak Arya nggak mau." Sisil kembali menangis, lalu mendekat seraya memeluk tubuh Gugun. Bukan hatinya saja yang merasa hancur sekarang, tetapi hati Gugun juga. 'Kenapa nasibku buruk sekali ya Allah. Bagaimana sekarang? Aku nggak mau hamil,' batin Sisil seraya menyentuh perutnya.


***


Tiga puluh menit berlalu, mobil putih milik Gugun terparkir di depan kampusnya Sisil.


"Kok Kakak ke kampus?" tanya Sisil bingung. Gugun mematikan mesin mobilnya lalu membuka pintu. "Aku 'kan belum mandi dan aku hari ini nggak mau kuliah, Kak." Menggeleng dengan wajah frustasi.


"Kamu tunggu di sini sebentar. Kakak ada urusan."


"Urusan apa? Jangan kasih tahu anak-anak kampus kalau aku habis diperkosa, Kak. Aku malu! Aku takut dibully!" pinta Sisil dengan berurai air mata.


"Mana mungkin Kakak melakukan hal itu, Sil." Gugun langsung melangkah pergi.


Sisil terdiam dan menyeka air matanya. Lantas menurunkan pandangannya ke arah kaki. Keningnya seketika mengerenyit tatkala memperhatikan hanya ada satu sepatu yang terpasang di kaki putihnya. "Lho, sepatuku sebelahnya mana?" Sisil membungkukkan badannya ke kolong kursi. Tetapi setelah dicari-cari nyatanya tidak ketemu. "Apa jatoh, ya? Tapi di mana?"


*


*


*


Sementara itu dikelas bisnis, wajah Lusi tampak ditekuk. Dia merasa kesal dengan orang suruhannya yang gagal mengerjakan tugasnya.


Yang dia mau, Sisil diperkosa. Tetapi nyatanya dia mendapat kabar dari orang suruhannya kalau Sisil ada yang menolong. Sehingga tak jadi dilecehkan.


'Payah banget orang itu. Sudah kubayar full tapi suruh memperkosa Sisil saja gagal. Lagian, siapa sih yang menolongnya? Menyebalkan sekali!' gerutunya dalam hati.


"Lus! Kamu dipanggil satpam depan," ucap Rosa temannya yang baru saja menghampiri di kursi.

__ADS_1


"Mau apa?"


"Nggak tahu. Coba cek saja dulu sebelum kelas dimulai," saran Rosa.


"Iya." Lusi mengangguk. Dia berdiri kemudian melangkah keluar dari ruang kelas.


Langkahnya berhenti saat keluar dari lift yang menuju lantai dasar. Dia melihat ada Gugun yang berdiri di samping satpam kampus.


Lusi tahu pria itu. Selain dia adalah Kakaknya Sisil. Pria itu juga asisten Ayahnya Citra, teman dekatnya yang sekarang lebih dekat dengan Sisil.


"Ada apa, Pak?" tanya Lusi sambil menatap satpam.


"Pak Gugun Kakaknya Nona Sisil mau bertemu dengan Anda, katanya ada hal yang ingin dia bicarakan," jawab satpam itu.


"Bicara apa, Om?" Sekarang Lusi menatap ke arah Gugun. Kedua tangannya terlipat di atas dada.


Sebelum Gugun mengutarakan apa yang hendak dia katakan, satpam berseragam hitam itu lebih dulu pergi. Tidak sopan rasanya mendengar percakapan orang lain.


"Semalam, kamu dan Sisil mengerjakan tugas kelompok di restoran mana?" tanya Gugun dengan suara dingin. Kedua tangannya mengepal, menahan emosi yang sangat menggebu-gebu. Setelah apa yang adiknya itu alami.


"Restoran Agatha," jawabnya bersikap santai.


"Pulang jam berapa? Dan apa kamu mengantarkan Sisil pulang?"


"Tapi kenapa pas di Restoran Sisil nggak ingat apa-apa? Dan kenapa dia bisa meminum alkohol?" cecar Gugun.


"Nggak ingat apa-apa gimana maksudnya? Aku nggak ngerti." Lusi berpura-pura tidak tahu. Kedua alis matanya terlihat menyatu.


"Kamu nggak perlu bohong. Sisil bilang dia minum alkohol, terus ke sananya dia nggak ingat apa-apa. Pasti kamu, kan, penyebabnya?" tuduh Gugun curiga.


Bukan tanpa alasan dia berani menuduh Lusi meskipun sekarang tak ada bukti, penyebabnya adalah dulu Lusi dan Rosa sempat menganiaya Sisil dipinggir jalan.


Kejadiannya memang dia tidak melihat langsung, tetapi Sisil bercerita dan memberikan beberapa bukti lecet serta memar di tubuhnya.


Jadi itu saja sudah cukup.


Kemudian Gugun langsung melaporkan mereka ke penjara. Berniat untuk menjebloskannya demi efek jera.


Akan tetapi, dua gadis itu justru menangis dan meminta maaf. Serta mengundang orang tua untuk meminta maaf juga kepada Gugun dan Sisil. Keduanya mengatakan khilaf dan sudah berjanji tak akan melakukan hal semacam itu lagi.


Sayangnya sampai sekarang, Gugun masih belum percaya meskipun dia sempat memberikan mereka kesempatan dan memaafkannya. Dia juga sejujurnya memaafkan karena usulan dari Dekan. Yang ikut meminta supaya masalah itu tidak sampai diperpanjang.

__ADS_1


Kalau sampai dua gadis itu di penjara dengan alasan penganiayaan, pasti itu akan merusak citra kampus. Bisa-bisa tak ada yang mau kuliah di sana.


Lusi menggeleng cepat. "Nggak, Om. Semalam kita memang sempat pesan minuman. Tapi pelayan restoran yang salah mengantar minuman. Aku juga sempat meminumnya, Om. Sama kayak Sisil."


"Terus?"


"Terus aku sakit kepala. Sedangkan Sisil bilang mengantuk. Jadi kita berdua memutuskan untuk pulang masing-masing. Aku dijemput sopir sedangkan dia naik taksi," jelas Lusi.


"Jangan berbohong kamu, Lus!" tekan Gugun tak percaya.


"Aku bersumpah. Ngapain berbohong. Lagian, aku juga sudah berjanji nggak akan menganggu Sisil lagi. Om masih ingat itu, kan?" tanyanya.


Gugun memperhatikan wajah gadis itu dengan serius. Dia tampak santai dan bersikap biasa saja. Rasanya susah untuk Gugun membedakan dia jujur atau tidak. Kecuali kalau dia memang punya mata batin.


"Aku akan membuktikan kata-katamu benar atau tidak. Tapi kalau sampai kamu berbohong ... nggak akan ada kata ampun lagi!" ancam Gugun sambil melotot. Lantas melangkah pergi meninggalkannya.


'Lebay banget Kakaknya si Sisil. Padahal 'kan adiknya nggak berhasil diapa-apain,' batin Lusi dongkol.


*


*


Gugun masuk kembali ke dalam mobilnya. Dilihat Sisil tengah tertidur lelap. Lantas dia pun mendekat, lalu mencium kening.


'Kakak akan membantumu, kamu adik Kakak satu-satunya dan tugas Kakak adalah membahagiakanmu,' batinnya. Sambil mengemudi, Gugun menelepon seorang pengacara.


***


Di Rumah Sakit.


Rama tengah diperiksa sekarang oleh dokter ahli andrologi. Dokter yang biasa Rama datangi untuk melakukan terapi selama 7 bulan terakhir.


Meskipun dia sempat putus asa karena tak ada hasil, tetapi Mbah Yahya yang terus mendukungnya membuat Rama mau tidak mau untuk melakukan pengobatannya lagi.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Mbah Yahya saat melihat seorang dokter pria tengah keluar dari ruang pemeriksaan sambil membawa selembar kertas.


Dia lantas duduk di kursinya, yang terhalang oleh meja di depan Mbah Yahya. Kemudian tak lama Rama keluar sembari memakai geser, lalu melangkah ke arah Mbah Yahya dan setelah itu duduk di kursi kosong di sampingnya.


"Dari pemeriksaan tadi dan cerita dari Pak Rama, tentunya ini adalah sebuah keajaiban, Pak. Meskipun apa yang telah dia lakukan salah," jelas Dokter itu sambil menatap kertas dan mulai memahami hasil pemeriksaannya.


"Jadi ada kemungkinan Rama bisa sembuh, Dok? Dia akan punya anak dan menikah lalu menggoyang istrinya?" tanya Mbah Yahya penasaran.

__ADS_1


...Udah nggak sabar ya, Mbah 🤣...


__ADS_2