Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
131. Terlalu muda untuk jadi janda


__ADS_3

"Oke deh, nanti aku bantu carikan orang, Sel," sahut Olla yang menyetujui. Gisel yang mendengar jawabannya itu langsung mengulum senyum.


"Nanti kalau sudah dapat ... langsung berikan nomorku saja kepada mereka, ya, dan suruh menghubungiku."


"Iya. Tapi tentang bayarannya minimal berapa, Sel, maunya? Biasanya sih kalau bantu angkatin barang kayak gitu satu orangnya minimal sejuta. Ya kalau barangnya dikit bisa 500 ribu." Barangkali, Gisel ingin menegosiasi. Biar Olla ikut membantunya juga.


"Tentang bayaran biar aku yang nego sendiri. Kamu cukup cari orang saja, La," ucap Gisel.


"Oke deh. Tapi ngomong-ngomong ... kamu mau pindah di apartemen mana, Sel? Apa jauh?"


"Nggak, deket kok. Lupa aku namanya, tapi inget tempat. Nanti aku beritahu kamu kalau sudah pindah ke sana, ya, La."


"Oke," jawab Olla. "Tapi ngomong-ngomong ... hari ini kamu mau mengajar nggak, Sel? Udah lama lho kamu libur. Ada pemilihan guru TK tau, yang naik jadi guru SD."


"Buat sementara aku mau ngambil cuti dulu deh kayaknya, La, ke kepala sekolah. Dan hari ini ... aku mau datang ke sekolah sekalian mau ngambil cuti beberapa Minggu." Pekerjaannya sekarang tidaklah penting, yang utama adalah Rama. Setelah berhasil menaklukkannya, Gisel bisa mengawali hari-hari seperti biasanya.


"Kamu sampai sekarang masih belum bisa move on dari Mas Rama, Sel?" Entah mengapa, tiba-tiba saja Olla menebak hal demikian. Tapi kebetulan memang tepat sekali sasaran. "Ini sudah lama lho, semenjak mereka nikah. Apa kamu nggak mau cari pacar saja? Biar bisa melupakannya?"


"Aku kebetulan sudah punya pacar kok, La. Dan aku juga mencintai pacarku."


"Wah seriusan? Kapan kamu punya pacar? Kok aku baru tau?" Suara Olla terdengar begitu antusias sekali. Dia memang orang pertama yang selalu kepo dalam hidup Gisel, terlebih mereka juga berteman sudah cukup lama dan sangat akrab.


"Udah 3 atau 4 hari, ya, lupa." Gisel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil mencoba mengingat-ingat. "Eh ... aku sampai lupa, La."


"Lupa apa? Pas jadian?"


"Bukan, tapi waktu itu 'kan aku ngajak pacarku merayakan hari jadian kami ... eh dia bilang ada janji makan malam sama rekan kerjanya. Terus minta besoknya lagi saja. Tapi aku sendiri baru inget laginya sekarang, kalau kami belum merayakannya. Karena sempat tertunda," jelas Gisel panjang lebar. Itu benar, sekitar dua hari yang lalu Gugun mengatakannya. Tapi baik dia atau pun Gugun, keduanya sama-sama melupakannya.


"Ya sudah, nanti malam saja ajakin, Sel," saran Olla. "Biar sekalian juga kita double date gimana? Aku akan mengajak suamiku. Ya hitung-hitung buka puasa bareng."


"Bagus juga. Ya sudah, ya, aku tutup teleponnya. Aku mau telepon pacarku."

__ADS_1


"Iya."


Setelah memutuskan panggilan, Gisel langsung menghubungi Gugun. Namun sayangnya, nomor kekasihnya itu justru tidak aktif.


"Kok nggak aktif, sih, tumben? Apa lobet hapenya?" gumamnya menerka-nerka. Lantas, mencoba untuk menghubunginya lagi.


*


Sementara itu di dalam rumah. Rama, Sisil dan Yenny tengah duduk di sofa pada ruang keluarga. Akan tetapi suasana rumah mewah itu tampak sunyi. Sejak tadi mereka pun tak melihat keberadaan Mbah Yahya. Entah kemana orang itu.


"Ngomong-ngomong ... di mana Daddy, Mom? Sejak tadi kok nggak lihat? Apa masih di kamar?" tanya Rama seraya mendongakkan wajahnya ke lantai dua. Sorotan matanya itu mengarah pada pintu kamar yang berada tepat di depan tangga.


"Dari semalam Daddymu nggak pulang. Dia sama si Evan sibuk cari cincin," jawab Yenny.


"Cincin siapa, Mom?"


"Cincinnya Daddy, Ram. Hilang katanya nggak tau ke mana. Mommy bantu cari di sini juga nggak ketemu."


"Masalahnya itu cincin saktinya, Ram. Kalau nggak ada cincin itu ... semua ilmu Daddy nggak mempan," ucap Yenny.


"Memangnya, Daddy punya kesaktian, Mom?" tanya Sisil yang baru membuka suara. Wajahnya memperlihatkan jika dia penasaran. Wajar saja, dia memang selama ini tak tahu jika mertuanya seorang dukun sakti mandraguna.


"Iya, Nak, Daddy 'kan seorang ...." Belum sempat Yenny menyelesaikan ucapannya, tapi tiba-tiba saja terhenti lantaran mendengar suara deringan ponsel milik Rama yang begitu kencang mengisi ruangan itu.


"Maaf, Mom." Rama cepat-cepat merogoh saku dalam jasnya untuk mengambil ponsel. Setelah dicek ternyata itu adalah panggilan masuk dari Mbah Yahya. Gegas, dia pun mengangkat panggilan tersebut. "Halo, assalamualaikum."


"Walaikum salam. Kata Mommy ... kamu semalam pulang di Indonesia, benar, Ram?" tanya Mbah Yahya dari seberang sana.


"Iya, Dad. Ini aku dan Sisil sekarang ada di rumah, tapi Daddy nggak ada."


"Daddy jemput kamu ke rumah ya, Ram, dan hari ini kamu nggak usah pergi ke kantor dulu," titah Mbah Yahya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Dad?"


"Si Steven meninggal, Ram. Dan Daddy dengar dari Sofyan ... hari ini dia akan dimakamkan."


"Apa? Meninggal?!" Rama sontak membelalakkan matanya. Dia terlihat sangat terkejut.


"Siapa yang meninggal, Om?" tanya Sisil yang tak sengaja mendengar dan ikut panik. Yenny juga bertanya hal demikian.


"Siapa yang meninggal, Ram?"


"Daddy nggak usah bercanda. Ini nggak lucu." Rama geleng-geleng kepala. Merasa tak percaya, meskipun sejujurnya dalam lubuk hati terasa terenyuh.


"Sumpah, ngapain bohong, sih. Daddy jemput sekarang, ya! Jangan lupa pesan bunga bela sungkawa juga, Ram. Dan uang cash di dalam amplop." Apa yang disampaikan Mbah Yahya terdengar jujur, meskipun sebenarnya tak sepenuhnya Rama percaya.


"Siapa yang meninggal, Om?" Sisil mengenggam tangan Rama, lalu menggoyangkannya. Dilihat Rama tampak terbengong sambil menutup teleponnya.


"Steven, Dek."


"Steven? Steven siapa, Om?" Sisil tampaknya tidak ingat, nama suami dari temannya itu.


"Suaminya si Citra."


"Innalillahiwainnailaihirojiun." Sisil dan Yenny berkata dengan refleks sambil menutup bibirnya yang menganga. Keduanya terlihat kaget dan tak menyangka. "Om nggak usah bohong! Nggak mungkin Om Steven meninggal!"


"Aku juga nggak percaya, Dek, Daddy yang ngomong."


"Terus bagaimana nasib Citra dan anaknya, Om?" Bola mata Sisil tampak berkaca-kaca. Dia tentunya ikut merasa sedih, dengan apa yang tengah dialami temannya itu.


"Aku nggak tau, Dek. Nanti kita langsung ke sana saja. Soalnya kata Daddy ... Steven sudah mau dimakamkan."


"Kasihan Citra. Dia terlalu muda untuk jadi janda," lirih Sisil dan tak terasa, air matanya itu kian berjatuhan membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


...Nikahin sama Om Gugun aja, Sil 🤣 kan dulu demen itu Abangmu 🤭...


__ADS_2