Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
148. Aa sombong banget


__ADS_3

"Jelas kenal, orang dia mantan pacarku."


"Apa?? Mantan pacar?!" Gisel menyeru dengan keterkejutannya.


"Iya. Dia mantan pacarku sebelum akhirnya menikah sama Om Rama, Mbak."


"Lho, Mbak baru tau. Tapi kenapa kamu justru mengizinkan Sisil untuk menikahi Mas Rama? Harusnya 'kan jangan, biar nantinya Mas Rama menikah sama Mbak." Gisel tampak geregetan bercampur kesal kepada adiknya. Dan bisa-bisanya juga, dia baru tahu hal ini sekarang.


"Bukan aku mengizinkan, tapi Sisil menikah dengan Om Rama karena terpaksa, Mbak."


"Terpaksa? Kenapa bisa terpaksa?" tanya Gisel penasaran.


"Karena Om Rama memperko*sanya."


"Memperko*sa?" Gisel menatap serius adiknya, dan Arya langsung mengangguk cepat. "Tapi itu nggak mungkin, Arya!"


"Nggak mungkin bagaimana? Memang itu kenyataannya kok."


"Tapi Mas Rama itu impoten. Dan Mbak tau itu."


"Om Rama itu nggak impoten, Mbak!" tegas Arya dengan yakin. "Sisil juga sempat melakukan visum dan benar dia diperko*sa, jadi sudah jelas disini kalau Om Rama memperko*sanya."


"Aneh. Ini mustahil, dia saja impoten sejak lahir," ujar Gisel yang masih tidak percaya. "Atau jangan-jangan ... Sisil itu diperko*sanya sama orang lain, tapi minta tanggung jawabnya sama Mas Rama?" tebaknya sambil menatap serius adiknya.


"Masalahnya, bukan Sisil yang minta tanggung jawab sama Om Rama, Mbak. Aku sendiri bersedia untuk tanggung jawab, tapi Om Ramanya sendiri yang ingin bertanggung jawab. Malah seperti memaksanya."


"Masa, sih? Mbak nggak percaya, Arya." Gisel menggelengkan kepalanya. 'Kalau memang benar, apa ini berarti Mas Rama sudah sembuh dari impotennya?' batinnya yang kembali menebak.


"Nggak percaya gimana? Memang benar begitu kok. Dia datang bersama orang tuanya untuk melamar Sisil, kemudian mengobrol masalah pernikahan sampai akhirnya mereka menikah," jelas Arya panjang lebar.


"Kalau kamu tau, mereka akan menikah ... kenapa nggak kamu gagalkan saja? Katanya tadi kamu bersedia tanggung jawab? Gimana sih, Arya." Gisel mendengkus kesal. Lalu menyesap pipet es teh manis miliknya.


"Keberuntungan nggak pernah ada di pihakku, Mbak. Itulah alasannya kenapa aku dan Sisil nggak bisa bersatu."

__ADS_1


"Keberuntungan apa yang kamu maksud?"


"Pertama ... Papa, Mama dan Opa nggak setuju. Yang kedua ... aku sudah pernah menyewa orang untuk menculik Sisil, tapi mereka nggak becus! Gagal menculiknya!" Arya menggerutu. Merasa kesal dan emosi sendiri pada nasibnya, yang memang benar tak pernah mendapatkan keberuntungan.


Kalau saja diawal orang tua dan Kakeknya setuju, mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini. Arya sekarang sudah bisa bahagia hidup bersama Sisil.


"Kenapa mereka semua nggak setuju sama Sisil?" tanya Gisel.


"Semua ini karena harta. Yang Papa dan Opa mau ... aku menikah dengan anak orang kaya, sedangkan Sisil sendiri bukan anak dari orang kaya. Bahkan yang dia punya hanya Kakak laki-laki."


"Itulah alasannya, kenapa Mbak memilih pergi dari rumah dan hidup mandiri," tukas Gisel.


Kedua orang tua dan Kakeknya memang selalu mengatur hidupnya, apalagi mengenai jodoh. Gisel dulu sempat ingin dijodohkan, tapi dia menolak dan pernah juga sampai dipaksa.


Tapi karena Gisel orangnya sangat keras kepala, dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan mengganti nomor ponselnya. Supaya baik orang tua atau Kakeknya, tak lagi mengganggu serta mengatur hidupnya.


Tidak enak juga rasanya hidup seperti itu, sama saja tidak bebas.


"Pasti kamu juga akan kaget, kalau tau pacar Mbak adalah Kakaknya Sisil, Mas Gugun," tambah Gisel memberitahu.


"Iya." Gisel mengangguk.


"Tapi aku masih heran. Kenapa Mbak bisa punya pacar, sedangkan Mbak suka sama Om Rama? Dan kenapa juga harus dengan Kak Gugun?" tanya Arya penasaran.


"Karena ini memang sudah rencana, Mbak, Ar."


"Rencana? Rencana apa, Mbak?"


"Rencana ingin menjebak Mas Rama supaya menjadi milik Mbak," jawab Gisel. "Kalau tentang Mas Gugun ... dia hanya menjadi alibi saja. Demi menyukseskan rencana Mbak, Arya."


"Memangnya, ini akan berhubungan dengan Kak Gugun, Mbak? Sampai Mbak mau bawa-bawa Kak Gugun segala?"


"Jelas dia ada hubungannya, kan dia Kakaknya Sisil."

__ADS_1


"Apa aku boleh ikut bergabung sama, Mbak? Aku akan membantu Mbak untuk bisa menjebak Om Rama." Kalau Rama sudah berhasil dijebak dan menjadi milik Gisel, otomatis Arya akan lebih mudah merebut Sisil. Itulah yang dia pikirkan saat ini.


"Sebenarnya sih nggak perlu. Tapi kalau memang kamu ingin membantu ... nggak masalah." Gisel menganggukkan kepalanya. "Kita sekalian bicarakan saja, ya, rencana yang akan Mbak buat."


"Iya, Mbak." Arya mengangguk setuju.


"Mbak sudah membayar orang untuk ...." Gisel mulai menceritakan apa yang akan dia lakukan nantinya. Dan terlihat, Arya begitu fokus mendengarkan serta memahami apa yang Gisel sampaikan.


***


Kembali lagi ke rumah Mbah Yahya.


Sisil berbaring dengan gelisah, di atas kasur bersama Rama. Bahkan, dia malah belum tidur sama sekali.


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yang pertama karena ingin makan kolak pisang dan yang kedua karena ingin bercinta. Sehari tidak bercinta rasanya hampa sekali, sebab biasanya saja hampir setiap hari dan itu pun tidak hanya sekali.


Perlahan kedua mata itu terbuka, lalu menoleh ke arah Rama yang berada di sampingnya. Pria itu tampak terlelap dari tidurnya, begitu tenang dan sangat tampan.


"Aa sombong banget, sih, sama aku. Jangankan mengajak bercinta, mengajak mandi bareng pun nggak," gumamnya dengan kesal. Tapi ada sedihnya juga, saat mengingat apa yang telah terjadi sehabis makan malam.


Rama bahkan makan seperti orang yang buru-buru, dia selesai lebih awal daripada yang lain dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Dan ketika Sisil ikut menyusul ke dalam kamar, pria itu sudah berada di dalam kamar mandi. Sudah mandi lebih dulu.


Ditambah setelah pulang sholat tarawih, Rama juga langsung tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Sisil. Padahal gadis itu ada dikamar dan sedang membaca buku, tapi sama sekali Rama tak mengatakan apa pun sampai akhirnya tidur lebih dulu.


Dibilang masih marah, tapi dia mengatakan tidak. Tapi dibilang tidak, jelas sekali terlihat kalau dia masih marah. Karena sikapnya tak seperti biasanya.


"Lama-lama aku nggak kuat juga rasanya, ditahan mulu dari tadi. Kepengen banget kolak pisang aku." Sisil mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi. Segera dia pun menarik tubuhnya untuk duduk dan meraih ponselnya di bawah bantal.


Hal pertama yang dia lihat adalah jam. Dan ternyata sudah pukul 2 pagi.


"Sampai udah mau sahur aja, lolos aku nggak tidur ini gara-gara Aa," gumamnya. Sisil pun mengetik-ngetik aplikasi food. Mencari menu kolak pisang di sana. "Semoga ada, dan bisa langsung diantar.

__ADS_1


...Kasihan deh, nggak enak, ya, dicuekin semalaman 🤣...


__ADS_2