
'Apa kuputusin saja Nona Tuti?'
'Ah nggak!' Gugun langsung membantah dalam hati dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. 'Dia terlalu sempurna kalau harus aku lepaskan. Dan dia masuk kategori wanita idamanku.'
'Berarti, Nona Gisel saja yang aku putusin, ya?'
"Mas! Kok malah bengong, sih?" Gisel mendengkus kesal seraya merelai pelukan. Gugun yang tengah bergulat dengan isi pikirannya itu sontak terperanjat, lalu menatap Gisel. "Mas kenapa? Ada masalah apa?"
"Nona ...." Gugun meraih tangan kanan Gisel, kemudian menggenggamnya dengan erat. "Aku minta maaf sebelumnya, tapi aku ingin kita putus."
"Putus?!" Gisel seketika memekik dengan mata melotot. Terkejut mendengarnya. "Mas ini bicara apa? Kita pacaran belum lama, Mas, masa putus?"
"Maafkan aku sekali lagi, Nona, tapi aku nggak ada perasaan apa-apa sama Nona. Jadi lebih baik ... hubungan kita, kita akhiri—"
"Kan aku sudah bilang, nggak mau! Ya berarti nggak mau, Mas!" tegas Gisel dengan lantang. "Kalau Mas masih memaksa ingin putus juga, aku lebih baik mati bunuh diri saja!"
Setelah itu, Gisel pun berlari menuju jalan raya. Hendak menabrakkan diri pada beberapa mobil yang lewat.
Tapi yang dia lakukan hanya akting belaka, sebab ingin mengetahui bagaimana sikap Gugun setelah melihat pacarnya nekat bunuh diri.
"Nona! Jangan lakukan!" Gugun tiba-tiba menarik pinggang Gisel, saat baru saja kaki perempuan itu menyentuh jalan raya.
Tentu hal tersebut, membuat Gisel bersorak dalam hati. Karena sudah bisa dipastikan jika Gugun tak mau melihatnya mati bunuh diri.
"Nona masih muda, jangan melakukan hal ini hanya karena laki-laki!" tegas Gugun yang langsung menangkup kedua pipi Gisel. "Bunuh diri bukanlah hal yang tepat, Nona," tambahnya.
"Kalau Mas nggak mau aku bunuh diri ... mangkanya jangan putusin aku! Entah apa pun sebabnya ... aku tetap nggak mau putus! Karena aku sangat mencintai, Mas!" tegas Gisel yang langsung mendekap tubuh Gugun kembali, dan tak lama dia pun menangis tersedu-sedu.
Tapi percayalah, tangis itu sungguh buaya.
'Ya Allah bagaimana ini? Apa yang telah aku lakukan?' Sungguh, Gugun makin dilema. Makin bingung untuk melakukan apa. 'Bagaimana caraku supaya bisa putus dengan Nona Gisel, tapi tanpa menyakitinya? Tanpa membuatnya nekat bunuh diri? Perempuan yang aku sukai hanya Nona Tuti, hanya dia,' batinnya sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
Dari kejauhan, ada Evan di dalam mobil sedang memerhatikan mereka. Sebenarnya dia tadi tak sengaja lewat, tapi ternyata malah berhasil menemukan Gisel.
'Aku cari-cari, ternyata dia sedang di sini. Sedang pacaran!' batin Evan kesal. Kedua matanya entah mengapa jadi panas melihat adegan mereka berpelukan. Dadanya pun ikut berdenyut sakit.
Ada rasa tak rela juga, melihat keduanya itu makin lengket bagaikan prangko.
"Pak Gugun juga bego! Apa dia nggak tau ... kalau Nona Gisel itu sangat menyukai Pak Rama dari dulu? Apa nggak ada sedikitpun kecurigaan ... kenapa Nona Gisel mendekatinya? Fiks, sih, aku yakin ... Nona Gisel pasti punya maksud tertentu!" geramnya yang tampak emosi sambil menggosok-gosok cincin batu akik dijari manisnya.
***
Di rumah Mbah Yahya.
Sisil yang berada di atas kasur perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menguceknya sebentar sambil menatap ke arah nakas. Untuk melihat jam weker di sana.
__ADS_1
Namun sontak, dia membulatkan matanya. Lantaran terkejut sudah jam 4 sore.
Sepertinya dia terlalu banyak tidur hari ini, akibat semalam tak bisa tidur. Sampai-sampai Rama berangkat ke kantor pun dia tidak tahu.
"Kalau sudah jam 4, berarti tandanya Aa sebentar lagi pulang dong?" Sisil perlahan menarik tubuhnya untuk duduk, sambil menyentuh perut yang tiba-tiba keroncong bunyi cacing. Menandakan rasa lapar. "Lebih baik aku mandi deh, terus dandan yang cantik. Habis itu menyambut Aa pulang dari kantor. Pasti Aa senang."
Pelan-pelan Sisil pun menurunkan kedua kakinya di ranjang, lalu berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
*
*
Tepat jam 5, seusai mandi dan berdandan cantik serta wangi—barulah dia keluar dari kamar, kemudian turun dari tangga.
Namun, suasana di rumah mewah itu tampak begitu sepi. Seperti tak ada penghuni, tapi ada suara televisi di ruang keluarga. Jadi Sisil memutuskan ke sana.
"Mom ... Mommy lagi apa?" tanya Sisil dengan langkah terhenti, ketika melihat sang mertua tengah berjoget di depan televisi yang memutar film India.
Yenny langsung menghentikan gerakan pinggulnya, lalu menoleh. "Eh, Nak, kamu baru bangun, ya? Nyenyak banget tidurnya ... sampai sore baru bangun." Dia mendekat, lalu merangkul bahu sang menantu dan mengajaknya duduk bersama si sofa panjang. Tak lupa dengan sebuah kecupan yang mendarat di dahinya.
"Iya, Mom. Maaf, ya, aku tidurnya kelamaan. Jadi nggak sempat bantu-bantu Mommy di rumah," jawab Sisil yang terlihat tak enak hati.
"Ngapain bantu-bantu? Orang Mommy aja nganggur. Dari pagi cuma nonton tv sama main hape kok," kekeh Yenny.
"Ngomong-ngomong ... Daddy sama Aa ke mana, ya, Mom?" Sisil menatap sekeliling rumah mertuanya. Mencari-cari keberadaan sang suami. "Aa belum pulang apa gimana, Mom?"
"Semedi?" Alis mata Sisil tampak bertaut. "Semedi di mana, Mom?"
"Di Banten sih, bilangnya mah."
"Biar apa semedi, Mom? Apa untuk mengasah ilmu?"
"Kamu udah tau, Daddy seorang dukun, ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Sisil, Yenny justru berbalik tanya.
"Udah." Sisil mengangguk. "Tapi bener, nggak, buat ngasah ilmu, Mom?"
"Bisa jadi. Tapi tujuan utamanya biar cincinnya ketemu."
"Memang ngaruh, ya, Mom?"
"Mungkin. Mommy juga nggak ngerti, Nak." Yenny menggelengkan kepalanya.
"Ya semoga saja semedi Daddy berhasil, ya, Mom ... cincinnya cepat ketemu."
"Amin, Nak." Yenny mengusap wajahnya, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku izin telepon Aa dulu, ya, Mom." Sisil merogoh kantong baju tidurnya untuk mengambil ponsel.
"Silahkan, Sayang. Mommy tinggal mandi, ya?" Yenny berdiri, kemudian mematikan televisi. Setelah itu melangkah pergi meninggalkan Sisil.
Perempuan itu pun segera menghubungi Rama, dan tak menunggu waktu yang lama—panggilan itu telah berhasil diangkat oleh seberang sana.
"Halo, assalamualaikum, A," ucap Sisil dengan lembut.
"Walaikum salam." Suara Rama terdengar datar.
"Aa kok belum pulang? Apa lembur?"
"Ini baru mau pulang, Dek, tapi mau mampir ke toko emas dulu sama Tuti. Mengecek barang di sana."
"Oh ... hati-hati pulangnya, ya, A. Dan apa aku boleh titip sesuatu?"
"Boleh. Bicara saja."
"Mau martabak manis, A, tapi pisang coklat."
"Ya sudah. Nanti aku belikan. Udah dulu, ya, Dek. Assalamu'alaikum."
"Walaikum salam," jawab Sisil dan panggilan itu sudah diputuskan oleh Rama. Dia pun menghela napasnya dengan berat, lalu mengusap perutnya yang kembali terdengar suara cacing. "Apa hanya perasaanku saja, kalau Aa masih cuek? Tapi padahal pas sebelum imsak kita 'kan udah bercinta. Masa dia belum luluh juga?"
***
Di tengah perjalanan menuju toko perhiasan milik Rama, pria itu menunggangi mobilnya bersama Tuti yang menyetir.
Namun mendadak, gadis itu mengerem mobilnya secara tiba-tiba disisi jalan. Sebab merasakan laju kendaraan itu terasa berat.
"Kenapa, Tut? Kok berhenti?" tanya Rama heran.
"Mobilnya berat banget, Pak, kayaknya sih bannya kempes." Tuti membuka sabuk pengaman, kemudian turun dari mobil Rama untuk mengeceknya.
Rama yang merasa penasaran akhirnya ikut turun dari mobil, kemudian menghampiri Tuti yang tengah berjongkok menatap ban depan. Yang memang kempes akibat paku besar tertancap di sana.
"Kempes beneran, Tut?"
"Iya, Pak." Tuti mengangguk, kemudian berdiri dan menatap Rama. "Aku kebetulan punya nomor bengkel, aku telepon bengkel dul ...." Ucapan Tuti belum usai, tapi tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti diposisi Rama berdiri.
Pintu belakang mobil tersebut dibuka, dan ada seorang pria berbadan besar yang tertutup wajahnya tengah menarik lengan kanan Rama, sambil membungkam mulutnya dengan sapu tangan.
"Pak Rama!"
Melihat Rama seperti hendak ditarik masuk ke dalam mobil, Tuti pun dengan cepat menarik lengan kiri pria itu. Guna menolongnya.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^