Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
182. Kacamata


__ADS_3

"Bagaimana, Ram? Apa kamu sudah bisa melihat sekarang?" tanya Mbah Yahya yang memerhatikan Rama mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Udah, Dad. Tapi kayaknya burem. Wajah Daddy nggak begitu jelas," jawab Rama sembari memicingkan mata.


"Kok begitu sih, Dok? Apa operasinya gagal, ya?" Sisil menatap Dokter dengan raut sedih.


"Kita coba dulu pakai kacamata." Dokter itu membuka sebuah kotak di atas meja troli, berisi kacamata dan langsung memakaikannya kepada Rama. Pria itu kembali mengerjapkan mata. "Bagaimana, Pak?"


"Kalau ini baru jelas, Dok." Rama mengangguk sembari memerhatikan Mbah Yahya. "Bahkan upil dihidung Daddy aja bisa aku lihat." Mendengar itu Sisil langsung tersenyum begitu pun dengan Yenny dan Mbah Yahya.


"Alhamdulillah ... akhirnya Aa bisa melihat!" Sangking senangnya, Sisil sampai menjerit dan mendekap tubuh Rama dengan erat.


"Alhamdulillah ya, Allah," ucap Yenny yang juga ikut senang. Segera dia ikut memeluk Rama, begitu pun dengan Mbah Yahya. Keempatnya saling berpelukan.


"Daddy senang kamu sudah bisa melihat. Semoga kamu selalu sehat, Ram. Daddy sangat menyayangimu," ucap Mbah Yahya.


"Amin ... aku juga sayang sama Daddy," jawab Rama.


'Terima kasih ya, Allah. Akhirnya Aa bisa kembali melihat. Terima kasih,' batin Sisil sembari menciumi dada suaminya.


"Saya perlu periksakan lagi mata Pak Rama. Untuk istri dan kedua orangnya, mohon keluar dulu sebentar, ya!" pinta Dokter.


"Periksa bagaimana ya, Dok? Apa dioperasi lagi?" tanya Yenny bingung.


"Tidak, Bu." Dokter itu menggeleng. "Hanya periksa biasa. Kan dia baru dibuka perban, Bu."

__ADS_1


"Oohh. Nak Sisil, ayok keluar dulu," pinta Yenny seraya menyentuh lengan menantunya.


Rama mengelus rambut Sisil sebelum akhirnya perempuan itu melepaskan pelukan. Padahal sebenarnya dia masih ingin memeluk Rama, tapi kalau tidak dituruti tidak enak juga.


"Aa jangan kangen sama aku, ya, aku keluar dulu sebentar. Nanti ketemu lagi." Sisil mengedipkan sebelah matanya dengan genit, lalu melambaikan tangan saat melangkah keluar bersama Yenny. Rama yang melihatnya hanya terkekeh.


"Habis ini Rama sudah boleh pulang nggak ya, Dok?" tanya Mbah Yahya yang belum keluar.


"Setelah saya periksa, nanti saya beritahu, jadi Bapak silahkan keluar dulu," pintanya sambil menggerakkan dagunya ke arah pintu.


"Daddy tinggal dulu, Ram." Mbah Yahya tersenyum, lalu mengusap pipi kanan Rama. Setelah itu dia pun melangkah keluar dari kamar rawat dan kembali menutup pintu.


"Bagaimana Dad ... Mom ... Rama sudah bisa melihat, kan? Sudah dibuka perbannya?" tanya Rima—kakak perempuan Rama, yang baru saja datang bersama suami dan kedua anak kembarnya.


Panji langsung mencium punggung tangan kedua mertuanya, lalu memberikan parsel buah dan paper bag ke tangan Sisil.


"Sama-sama."


"Alhamdulillah, Rim, Rama sudah bisa melihat sekarang," jawab Mbah Yahya yang menjawab pertanyaan dari anak perempuannya.


"Syukurlah kalau begitu, Dad." Rima tersenyum dan menghela napasnya dengan lega.


"Terus kapan Om Rama dibolehkan pulang Opa?" tanya Raina.


"Kita tunggu keputusan dari Dokter," jawab Mbah Yahya, lalu mengelus puncak kepala cucu kembarnya secara bergantian. "Kalian ngomong-ngomong kok nggak sekolah?"

__ADS_1


"Kami udah libur, Opa, kan bentar lagi lebaran," jawab Raisa.


Sekitar 15 menit, barulah Dokter dan suster keluar dari kamar rawat, kemudian menemui mereka semua yang sejak tadi menunggu.


"Bagaimana, Dok?" tanya Sisil penasaran.


"Setelah saya periksa, mata Pak Rama sudah dalam keadaan baik. Tapi karena efek sebelumnya dia mengalami cidera mata ... jadi penglihatannya menjadi kabur. Harus dibantu oleh kacamata, dan ada kemungkinan mengalami minus, Nona."


"Apa minus bisa disembuhkan, Dok?" tanya Mbah Yahya.


"Tentu bisa, Pak." Dokter itu mengangguk. "Asalkan dia rutin minum obat, makan buah, sayur, hindari pemakaian gadget yang berlebihan dan rajin datang untuk berkonsultasi ke dokter. Saya yakin akan bisa sembuh total."


"Terus Aa sudah dibolehkan pulang nggak ya, Dok? Apa masih harus dirawat hingga minusnya sembuh?" tanya Sisil.


"Tidak perlu, Nona." Dokter itu menggeleng menatap Sisil. "Pak Rama sudah diizinkan pulang, bahkan sekarang juga sudah boleh."


*


*


Setelah mendengarkan penjelasan dari sang dokter, setengah jam berikutnya barulah mereka semua membawa Rama pulang.


Kini, mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Mbah Yahya yang mengemudi di samping Yenny sejak tadi memerhatikan Sisil dan Rama lewat kaca depan, sebab keduanya terlihat begitu lengket sekali.


Apalagi Sisil yang sejak masuk mobil sudah memeluk Rama, tampak jelas jika perempuan itu sangat merindukannya. Hingga tak sabar ingin segera sampai.

__ADS_1


'Setelah sampai rumah ... apa aku langsung membuka bajuku, lalu mengajak Aa bercinta? Atau aku mandi dulu, dan mengajak Aa mandi bersama?' batin Sisil yang sepertinya lupa jika ini bulan puasa, bahkan posisinya dia juga sedang puasa hari ini.


...minimal tunggu Magrib dulu lah, Sil 🤣...


__ADS_2