
Drrtt ... Drrttt ... Drrrtt.
Ponsel Gugun yang diletakkan di atas nakas berdering, sebuah panggilan masuk tertera pada layar bernama 'Bidadari Surgaku' yang berarti adalah Tuti.
Gugun juga kerap kali mengonta-ganti nama kontak perempuan itu. Namun meski begitu, namanya tetap selalu cantik pada kontak ponselnya.
"Si Cantik telepon? Ada apa kira-kira? Apa dia kangen sama aku?" Gugun tersenyum manis dengan kedua pipi yang tampak merona. Aktivitas menyisir rambut sehabis mandi pun dia hentikan, sebab segera mengangkat panggilan itu. "Halo cantiknya Mas Gugun."
"Halo juga, Mas. Assalamualaikum." Suara Tuti terdengar begitu lembut. Dan itulah yang membuat Gugun meleleh.
Semenjak memutuskan untuk berhijrah, Tuti memang bukan hanya merubah dengan caranya berpenampilan, tapi juga dengan cara bicaranya.
Maka tak heran, Gugun sampai tidak mengenali dia Tuti yang sama. Sebab menurutnya, Tuti pacarnya itu selain orang yang lembut, dia juga murah senyum dan sangat cantik. Benar-benar perempuan idamannya.
"Walaikum salam, Cantik."
"Mas lagi apa? Apa udah pulang dari kantor?"
"Aku hari ini nggak masuk ke kantor, Sayang," jawab Gugun, lalu bertanya, "Kenapa memangnya?"
"Kenapa Mas nggak masuk kantor? Apa sakit?" Tuti justru berbalik tanya. Suaranya terdengar khawatir.
"Enggak. Cuma lagi nggak banyak kerjaan, ditambah nungguin Rama juga," jawab Gugun. "Ada apa, Cantik? Apa kamu merindukanku?"
"Tadinya aku mau mengajak Mas buat buka puasa bareng. Gimana, Mas?"
"Bo ...." Gugun langsung menghentikan ucapannya, kala teringat dengan rencananya yang telah dibuat. Hampir saja dia ingin mengatakan 'boleh' karena selalu saja dia terbuai dengan Tuti sampai membuatnya lupa segalanya. Tapi bisa-bisa, rencananya akan gagal jika dia memilih bertemu Tuti. Dan Gugun tidak mau itu sampai terjadi. Sebab apa yang dia lakukan demi kebaikan hubungannya dengan Tuti juga. "Maaf, Sayang ... Masmu ini nggak bisa ketemu denganmu," ralat Gugun meski dengan perasaan bersalah.
'Maafin aku, ya, Sayang. Kita sepertinya nggak bisa ketemu untuk hari ini. Tapi besok-besok pasti bisa, malah setiap hari untuk ke depannya,' batin Gugun.
"Kenapa? Mas sibuk, ya?" Suara Tuti kini terdengar kecewa, dan jujur itu membuat Gugun makin tidak enak. "Pasti Mas masih sibuk nungguin Pak Rama?"
"Iya, Sayang. Maafin Mas, ya? Besok saja ketemunya bagaimana? Sekalian kita nonton bioskop. Ada film baru yang baru rilis lho."
"Ya udah, nggak apa-apa, Mas. Nanti tolong Mas salamin buat Pak Rama, ya, semoga dia cepat sembuh. Maaf aku belum bisa datang buat jenguk hari ini, karena banyak kerjaan. Mungkin besok baru bisa."
"Iya, Sayang. Kamu juga jangan terlalu memaksakan dalam bekerja. Istirahatlah yang cukup. Toh ... nanti Mas yang akan menafkahimu. Jadi kamu nggak perlu kebanyakan nabung. Uang Mas cukup kok ... untuk kebutuhan kita. Mas jamin itu."
__ADS_1
"Mas ini bicara apa? Sepertinya udah kejauhan deh." Tuti terkekeh. Dan Gugun tentu senang mendengarnya tertawa. Karena dengan begitu rasa kecewa tak jadi ketemu mungkin sedikit berkurang.
"Kejauhan gimana? Tapi Mas 'kan ngomong sesuai fakta. Memang Mas ingin menafkahimu. Oh ya, Mas juga udah ada rencana untuk melamarmu habis lebaran. Gimana? Mas bolehkan ... datang menemui orang tuamu?"
"Soal itu nanti saja dibahasnya, kalau udah ketemu. Ada hal yang musti Mas tau juga tentang keluargaku. Ya sudah ya, Mas ... aku tutup teleponnya. Assalamualaikum."
"Walaikum salam, Cantik. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat."
"Iya. Mas juga." Tuti menutup teleponnya.
"Selalu saja dia buat aku penasaran." Gugun perlahan meraba dadanya yang terasa berdegup kencang. "Aku jadi nggak sabar, ingin cepat melamarnya. Tapi ngomong-ngomong ... Nona Tuti itu asli orang mana, ya? Jakarta bukan, sih?"
*
*
*
Gisel sampai restoran tepat waktu. Tepat pada jam 5 sore.
Dia memakai gaun selutut berwarna merah polkadot dengan model Sabrina. Terlihat cantik dan manis.
Yang dia lakukan tentu mencari keberadaan Gugun, juga letak di mana meja yang sudah dipesannya.
"Aku cari pacarku, Mbak. Tapi sepertinya dia belum sampai."
"Apa pacar Nona sudah reservasi?"
"Katanya sudah. Nomor mejanya 10, Mbak."
"Atas nama siapa, Nona?"
"Gugun Adiguna."
"Mejanya berada dipojok sebelah kanan. Mari saya antar," tawarnya dengan senyuman ramah sambil menunjuk ke arah yang dia maksud.
"Iya, Mbak." Gisel mengangguk, lantas mengikuti langkah kaki pelayan wanita yang sudah lebih dulu melangkah di depannya.
__ADS_1
Dari kejauhan, sudah ada Evan yang sejak tadi memerhatikannya sedari Gisel masuk restoran. Pria itu datang 10 menit lebih awal ketimbang Gisel.
"Cih!" Evan berdecih sebal, melihat penampilan Gisel yang begitu mempesona. Bukan tidak suka, hanya saja dia tidak senang karena apa yang perempuan tampilkan pastinya untuk Gugun. "Padahal Nona nggak perlu dandan secantik itu. Percuma, karena sebentar lagi Nona akan jadi jomblo." Tersenyum miring, kemudian berdiri.
Melihat Gisel sudah duduk dengan nyaman seorang diri sambil bermain ponsel, inilah waktu dimana Evan untuk datang menganggunya.
"Eh ... Nona Gisel. Nona ada di sini juga rupanya?" Evan berbicara yang seolah-olah dia tak sengaja bertemu.
Gisel mengangkat wajahnya, lalu menatap kepada Evan. Tapi dia tampak tak peduli, hanya sebentar kemudian melanjutkan aktivitasnya menatap layar ponsel. 'Sial! Kenapa pakai acara ketemu si Dukun segala, sih? Males amat!' gerutunya dalam hati.
"Lihat apa sih, Nona, kok serius amat?" Melihat perempuan itu acuh, Evan jelas kesal. Bahkan dia tidak berkata sepatah kata pun untuk menyahuti sapaannya tadi yang sudah sangat ramah menurutnya. 'Apa sebegitu beratnya, buat senyum sedikit kepadaku? Mengapa Nona begitu sombong sekali?' batinnya menggerutu.
Evan menarik kursi di depan Gisel, lalu memindahkannya untuk berada di samping. Setelah itu dia langsung duduk dan merangkul bahunya.
"Apaan sih?!" Tentu hal yang dilakukan Evan secara tiba-tiba itu mengundang rasa kaget dan kesal Gisel. Apalagi dia memang membencinya. "Nggak usah kurang ajar, ya!" tambahnya sambil menepis kasar dan menatap tajam.
"Sombong amat sih!" Evan mendengkus, tapi tak lama dia pun terkekeh. Mencoba mengatasi rasa kesalnya. "Jadi perempuan itu nggak boleh sombong, Nona. Nanti jauh sama jodohnya." Evan dengan berani mengusap dagu Gisel, tapi perempuan itu langsung memalingkan wajahnya.
"Bodo amat!" ketusnya, lalu menggeserkan kursi supaya tak terlalu dekat dengan Evan. "Lagian kamu juga ngapain sih ada di sini?! Pergi sana!" berangnya sambil mendorong lengan Evan. Tapi sama sekali tak membuat tubuh pria itu bangkit dari duduknya.
"Ini tempat umum, Nona. Siapa saja boleh ada di sini asalkan punya duit. Jadi Nona nggak berhak mengusir saya," sahut Evan dengan kalem.
"CK!" Gisel berdecak, lalu segera berdiri di depan Evan dan menunjuk-nunjuk. "Tapi kursi kosong 'kan banyak di sini! Kenapa musti duduk dikursi mejaku?! Itu kursi untuk pacarku!" geramnya marah.
"Pergi!!" teriak Gisel kencang dan kali ini menarik kedua tangan Evan.
Namun, apa yang dilakukannya justru membuat Evan mendapatkan sebuah ide. Aksi tarik yang dilakukannya dibalas oleh Evan yang juga menarik Gisel. Alhasil, perempuan itulah yang kalah. Dia pun terhuyung dan menjatuhkan bokongnya di atas pangkuan Evan.
Bruk!
Kalau sudah begitu, selanjutnya Evan mengambil kesempatan dibalik kesempitan. Yakni langsung mendekapnya dengan sedikit dorongan kasar, sehingga tak sengaja bibir keduanya saling bertabrakan.
Cup~
Gisel sontak terbelalak. Apa yang terjadi sungguh sangat cepat dan membuatnya kaget. Namun saat bersamaan, Gugun tiba-tiba saja datang dan terlihat membulatkan mata.
"Astaghfirullah! Apa yang Nona lakukan?!" teriaknya dengan keterkejutan. "Siapa dia? Apakah Nona selingkuh dibelakangku?!"
__ADS_1
...Menang banyak nih Bang Evan 😆🤣...