Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
22. Apa perlu Daddy pelet Sisil


__ADS_3

Gugun membeku dalam diam. Luapan kesedihan yang terlontar dari mulut pria itu seakan membuatnya bingung untuk menjawab apa. Alhasil dia hanya bisa melipat bibirnya dengan rapat.


'Kok aku jadi kasihan, ya, sama Pak Rama,' batin Gugun seraya melirik Rama yang duduk di sampingnya. Pria itu tengah mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia terlihat begitu frustasi. 'Padahal kan dia yang memperk*sa Sisil, tapi kenapa justru dia lah yang terlihat teraniaya?'


'Kalau Sisil nggak mau menikah denganku, terus aku harus menikah dengan siapa?' batin Rama seraya menyeka air mata. Benaknya seketika teringat dengan ucapan dokter yang mengatakan kalau Sisil bisa jadi obat untuk menyembuhkan penyakitnya. Rasanya sekarang, harapan Rama sudah pupus. 'Apa mungkin aku ditakdirkan untuk tidak punya pasangan dan keturunan sampai mati? Tapi kenapa? Kenapa ya Allah? Apa salahku selama ini?' Rama kembali menangis sampai sesenggukan.


***


Ceklek~


Pintu apartemen Gugun buka setelah kuncinya terbuka. Keluarlah Mbah Yahya dari sana.


"Kamu ini songong, ya, sama orang tua! Bisa-bisanya aku dikurung di sini!" omel Mbah Yahya dengan mata yang melototi Gugun.


Bukannya menanggapi, Gugun justru merasa heran melihat penampilan Mbah Yahya dari ujung kaki hingga kepala. Tidak asing juga, seperti pakaian miliknya.


"Bapak kok pakai jas?" Gugun mendekat, lalu mencubit bagian depan jas di tubuh pria itu. Motifnya kotak-kotak kecil berwarna hitam abu, benar-benar seperti miliknya. "Ini seperti jas milikku, ya?" tebaknya.


"Iya. Ini jas memang milikmu. Aku pinjam," jawab Mbah Yahya santai seraya menepis kasar tangan Gugun. Dia merasa risih. "Bagus juga ternyata jasmu, meskipun agak sempit," tambahnya.


"Tapi kenapa Bapak musti memakai jasku? Memang di mana baju Bapak?!" Gugun tampak kesal. Wajahnya memerah. Itu semua disebabkan jas tersebut adalah jas baru, dan belum dipakai sama sekali. Hanya baru dicuci dari londry sekitar dua hari yang lalu. Gugun juga berencana akan memakainya besok, untuk menghadiri pesta pernikahan temannya.


"Bajuku kotor, Gun. Masa aku mandi nggak pakai baju ganti? Gatel dong burungku," jawab Mbah Yahya sembari menyentuh inti tubuhnya. Jelas kotor, memang pakaiannya sudah dipakai lebih dari dua hari. Berikut dengan isi-isinya.


"Apa jangan-jangan Bapak juga memakai celana dallamku?!" Gugun langsung menyentuh celana Mbah Yahya, tetapi pria itu kembali menepisnya kasar.


"Udah sih, Gun, pinjem doang. Kenapa pelit banget sih kamu sama besan sendiri?" omelnya kesal. "Nggak boleh pelit tahu jadi manusia, nanti kuburanmu sempit!"


"Bukan masalah pelit. Tapi kenapa Bapak pinjam nggak ngomong dulu? Kenapa asal pakai? Itu baju baruku tahu! Dan harganya mahal, Pak!" geram Gugun emosi.

__ADS_1


"Nanti aku ganti. Berapa sih paling. Sama batu akikku juga lebih mahal batu akikku kali!" teriak Mbah Yahya. Dia lantas melepaskan cincin batu akiknya, kemudian memberikan kepada Gugun secara paksa. Pria itu ingin mengoceh lagi lantaran tak terima, tetapi semuanya urung terjadi sebab terhalang oleh Rama yang berbicara.


"Besok aku ganti, aku carikan stelan jas yang persis seperti itu, Kak," ujar Rama dengan wajah yang masih becek karena air mata. Perlahan dia mengusapnya, lalu menggenggam tangan Daddynya dan menariknya untuk pergi. "Aku pergi dulu. Assalamualaikum."


"Walaikum salam," balas Gugun dengan kedua kepalan tangan yang mengeras. Perlahan dia pun mengelus dada. Mencoba menghilangkan emosi di dalam sana sambil menghembuskan napasnya perlahan. "Kenapa nasib Sisil bisa sial begini?! Kalau Arya sampai nggak mau menikah dengannya, hidupku juga berantakan gara-gara berbesanan dengan pria tukang sembur macam Yahya itu!" umpatnya dengan penuh kekesalan. Lantas Gugun masuk ke dalam apartemennya.


***


"Kita mau ke mana dan kamu kenapa, Ram?" tanya Mbah Yahya sembari menoleh ke arah Rama. Mereka berdua kini menunggangi mobil, Rama lah yang mengemudi.


Namun, Mbah Yahya sendiri merasa bingung pada Rama yang ingin mengajaknya ke mana. Disisi lain, sejak tadi bertemu dia melihat wajah anaknya tampak muram tak bergairah. Seperti ada sesuatu yang belum Mbah Yahya ketahui.


"Kita pulang, Dad," lirih Rama dengan lesu.


"Kok pulang? Eh, terus bagaimana dengan Sisil?" Mbah Yahya memiringkan posisi duduknya untuk lebih dekat pada Rama, lalu menepuk pelan lengannya. "Kamu sudah ketemu dia 'kan tadi sama Gugun?"


Rama hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Dan itu begitu pelan.


"Dia menolakku, Dad."


"Menolak?!" Kening Mbah Yahya mengerenyit. "Menolak bagaimana maksudnya?"


"Ya aku ditolak!" Rama menoleh sebentar menatap sang Daddy. Bola matanya sudah mulai berair lagi.


"Masa sih, Ram?" Mbah Yahya tampak tak percaya.


"Memang itu kenyataan, Dad. Sisil bilang nggak mau menikah denganku. Dan kata Kak Gugun ... dia malah inginnya Arya yang menikahinya," ujarnya sambil menangis.


"Arya itu siapa?"

__ADS_1


"Pacarnya Sisil."


"Memangnya si Arya Arya itu bersedia menikahi Sisil?"


"Nggak tahu aku, Dad." Rama menggeleng frustasi.


"Pasti dia nggak bakal mau, Ram." Mbah Yahya mengelus bahu Rama, mencoba menghilangkan kesedihan di wajahnya.


"Masa nggak mau. Pasti maulah, Sisil 'kan cantik." Rama menyeka air matanya yang baru saja mengalir membasahi pipi.


"Iya, Sisil memang cantik. Tapi 'kan bisa saja dia nggak mau. Kan Sisil sudah kamu nodai," jelas Mbah Yahya dengan yakin. "Daddy pernah dengar lagu yang judulnya orang makan nangkanya, tapi aku dapat getahnya, Ram."


"Hubungannya apa?"


"Ya itu menceritakan tentang seorang suami yang menikahi istrinya, eh pas gitu si istrinya malah nggak perawan pas pertama mereka melakukan berhubungan badan. Jadi kecewa lah si suaminya, terus nggak lama mereka bercerai," jelas Mbah Yahya bercerita.


"Jadi maksud Daddy, aku musti nunggu Sisil diceraikan si Arya dulu, kalau mereka sudah menikah?"


"Nggak perlu menunggu Sisil diceraikan."


"Terus?"


"Sebelum mereka ijab kabul, kita bikin kekacauan," jelas Mbah Yahya. "Kita datang dan memberitahu kalau Sisil itu udah kamu nodai. Pasti Arya atau pihak keluarganya nggak terima, dan memilih mengakhiri hubungan mereka. Kemudian setelah itu kamu nikah deh sam Sisil. Beres, kan?" Mbah Yahya langsung membayangkan momen itu. Sangat mudah menurutnya.


"Kalau kayak gitu kasihan di Sisilnya dong, Dad. Secara nggak langsung kita menjatuhkan harga dirinya." Rama tampak tak setuju.


"Menjatuhkan harga dirinya bagaimana, sih? Kan memang sudah kamu renggut kesuciannya. Udah nggak punya harga diri lagi lah si Sisil."


"Tapi 'kan nggak boleh juga mempermalukannya didepan umum, Dad. Yang ada Sisil marah. Nanti sama saja dia nggak mau menikah denganku dan malah membenciku." Rama merengut lesu. Saran dari Daddynya itu sangat tidak bagus menurutnya.

__ADS_1


Mbah Yahya terdiam sebentar, sekitar beberapa menit akhirnya dia berkata, "Apa perlu Daddy pelet Sisil supaya dia tergila-gila padamu?"


...Iya, pelet aja, Mbah 🤣 tunjukkan skillmu 😎...


__ADS_2