
"Aaahhh Aa ... lebih cepat, A!" jerit Sisil yang begitu menikmati.
"Oke, Sayang," jawab Rama dengan patuh. Segera dia pun mempercepat ritme goyangan.
'Ternyata goyangan Aa masih sama seperti dulu, selalu enak dan membuatku ketagihan,' batin Sisil sambil meremmas seprai.
***
"Pak, tolong berhenti di restoran depan, ya!" pinta Gugun pada sang sopir taksi, sambil menatap ke arah depan tepat disebuah restoran yang dia tunjuk berada.
Mereka hampir setengah perjalanan, tapi sama sekali tak ada yang bicara. Apalagi dengan Tuti yang memang sedang malas bicara dengan Gugun.
"Baik, Pak." Sopir taksi itu mengangguk, lalu menghentikan mobilnya tepat di depan restoran.
"Ini ongkosnya, Pak." Gugun memberikan uang dua ratus ribu kepada sang sopir, lalu menoleh kepada Tuti sambil tersenyum. "Ayok turun, Nona," ajaknya lalu turun dari mobil.
"Jalan lagi saja, Pak! Aku nggak mau turun di sini!" perintah Tuti yang enggan untuk turun, padahal Gugun bahkan sudah membukakan pintu untuknya.
"Tapi Bapak tadi bayar ongkosnya double, Nona, buat Nona juga." Sopir itu menoleh.
"Tapi aku—"
"Nona aku mohon!!" sela Gugun cepat seraya langsung memegang tangan kanan Tuti. "Kita perlu ngobrol, Nona, dan aku akan jelaskan semuanya."
"Semuanya sudah jelas, Mas!" sentak Tuti yang tiba-tiba marah. Dia menghentakkan tangannya dengan kasar, dibarengi tatapan tajam.
"Belum. Semuanya belum jelas, Sayang. Kamu salah paham."
"Salah paham?!" Sebelah alis mata Tuti terangkat, urat-urat diwajahnya tampak menegang. "Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri, kalau Mas Gugun itu selingkuh. Dan Mas masih mengira itu semua adalah salah paham??? Mas ini sadar nggak, sih!" sentaknya emosi.
__ADS_1
"Aku janji, Nona, aku akan menghargai keputusanmu setelah ini! Tapi aku minta kita untuk mengobrol dulu sebentar! Hanya sebentar saja!" pinta Gugun sedikit memaksa.
Sebetulnya dia tak mau melakukan ini, tapi tidak ada jalan lain supaya dia bisa mengobrol dengan Tuti. Alhasil Gugun pun nekat menarik perempuan itu, dan secepatnya membawanya masuk ke dalam restoran. Sebab khawatir perempuan itu kabur.
"Mas jangan kurang ajar, ya! Kita itu udah putus! Jadi berhenti memegang tanganku!" geram Tuti memberontak. Suaranya yang begitu nyaring itu sontak membuat beberapa pengunjung restoran menatap ke arahnya. Dia jadi pusat perhatian.
"Maafkan aku, Sayang." Suara Gugun begitu merendah. Segera dia menarik kursi pada salah satu meja yang ada di sana untuk Tuti duduk. "Ayok duduk dulu sebentar. Aku janji hanya sebentar saja dan aku nggak akan memegang tangangmu lagi kalau memang kamu keberatan, Sayang."
"Cih!" Tuti berdecih. Dia pun langsung duduk. Tapi bukan pada kursi yang Gugun siapkan untuknya, melainkan kursi kosong yang satunya serta menariknya sendiri. "Cepat bicara! Hanya 10 menit!"
"Iya." Gugun mengangguk, lalu duduk pada kursi yang dia pegang. Yang tadinya untuk Tuti.
"Selamat malam Nona, Pak ... silahkan mau pesan apa?" tanya sang pelayan restoran yang baru saja datang menghampiri. Dia begitu ramah dan tersenyum manis.
"Aku nggak mau pesan!" jawab Tuti dengan ketus.
"Aku mau pesan black coffe, Mbak. Udah itu aja," jawab Gugun.
"Kita hanya bicara 10 menit, lho, Mas! Kenapa Mas pesan kopi segala?!" protes Tuti marah.
"Masa kita datang ke restoran nggak pesan apa-apa, Yang. Mana boleh, jadi aku pesan kopi."
"Berhenti memanggilku dengan kalimat sayang-sayang! Aku jijik dengarnya, Mas!" teriaknya tak terima.
"Maaf ...." Gugun tersenyum getir, melihat perubahan 180 derajat dari sikap Tuti. Padahal yang dia kenal, Tuti adalah perempuan yang manis dan begitu lemah lembut. Tapi sekarang dia justru menjadi begitu garang.
Namun, Gugun dapat memaklumi hal itu. Perubahan sikap perempuan itu pasti karena memang dirinya yang patah hati akibat ulahnya.
"Kok malah bengong? Katanya mau ngobrol?! Gimana sih?!" Tuti mendengkus sebal, saat melihat mantan pacarnya justru terbengong dengan tatapan kosong. Dan benar-benar membuatnya jengkel.
__ADS_1
"Maaf, maaf. Aku akan menjelaskannya sekarang," ucap Gugun sambil mengusap wajahnya, lalu menatap lekat wajah Tuti yang tampak begitu tak bersahabat. "Perempuan yang Nona lihat di restoran, yang aku pergoki selingkuh dengan Evan namanya Gisel. Dan Nona Gisel itu memang pacarku, tapi kami pacaran sebelum Nona dan aku pacaran," jelasnya kemudian.
"Maksudnya??" Kening Tuti mengerenyit, lalu dia pun bersedekap sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Mas pacaran sama dia sebelum denganku??"
"Iya." Gugun mengangguk cepat. "Aku akui itu memang salahku, aku yang jahat di sini. Tapi semuanya harus diluruskan, kalau Nona Gisel itu bukan selingkuhanku di sini. Tapi Nona lah, yang jadi selingkuhan di antara aku dan Nona Gisel."
"APA?!" Tuti memekik dengan keterkejutannya. Kedua matanya sudah terbelalak. "Bagaimana bisa Mas mengatakan hal itu?! Aku selingkuhan?? Jelas aku yang diselingkuhi, Mas!" bantahnya tak terima.
"Tapi semua yang aku katakan benar, Nona. Kan aku udah ngomong tadi ... kalau aku pacaran sama Nona Gisel itu lebih dulu, ketimbang dengan Nona."
"Ooohh ... jadi Mas di sini sebenarnya ingin punya pacar dua begitu?? Serakah amat jadi orang, Mas! Dasar playboy!" Kedua tangan Tuti sudah mengepal di atas meja. Dia juga langsung menatap secangkir kopi panas yang baru saja diletakkan oleh pelayan di atas meja.
"Bukan! Bukan serakah, dan aku bukan playboy!" bantah Gugun dengan gelengan kepala. "Hanya Nona perempuan yang satu-satunya aku cintai. Tapi saat itu—"
"Tapi Mas juga mencintai Gisel, kan?" potong Tuti marah.
"Enggak, Sayang!" Gugun menggeleng.
"Berhenti memanggilku sayang!"
"Iya, maksudku enggak. Hanya Nona satu-satunya perempuan yang aku cintai. Tapi saat sebelum aku mendapatkan momen supaya bisa menyatakan cinta kepada Nona ... Nona Gisel yang lebih dulu menyatakan cinta padaku."
"Terus Mas terima?"
"Iya. Tapi itu terpaksa," jawab Gugun menyesal.
Tuti tersenyum miring, lalu geleng-geleng kepala. Tampak jelas ucapan Gugun tak dapat dia percayai. "Terpaksa katanya?? Tapi saat Mas pergoki dia selingkuh ... Mas merasa sakit hati. Begitu, kah?"
"Kalau soal itu, semuanya ...." Ucapan Gugun seketika terhenti saat dimana Tuti telah menyiramnya dengan kopi panas miliknya. "Aaww! Panas Nona!" cicitnya. Tapi Tuti mengabaikan, dia justru sudah berlari keluar meninggalkan restoran.
__ADS_1
...Selesai kagak masalahnya, melepuh iya🙈...