
"Dad! Apa yang Daddy lakukan?!" tanya Rama dengan bola mata yang membulat.
"Aku Daddynya Rama! Aku peringatkan padamu, ya ... jangan pernah menganggu dan menyebarkan gosip tentang anakku lagi!" geram Mbah Yahya dengan emosinya meledak. Seolah melampiaskan kekesalannya. "Kalau sampai—"
Ucapan Mbah terhenti kala Gisel tiba-tiba muntah-muntah.
"Uuekk! Uueek!" Gisel merasakan mual di perutnya dengan apa yang baru saja dia dapatkan.
Selain bau jigong, terdapat aroma pete juga. Sungguh, begitu menjijikkan dan benar-benar mengocok perut.
Wajar aroma itu dahsyat, sebab jangankan gosok gigi, mandi saja Mbah Yahya belum. Tadi Rama mengajaknya terlalu memaksa, jadi dia sampai lupa kalau sebenarnya belum mandi.
"Sel! Kamu nggak apa-apa?!" Rama mendekat lalu menyentuh tengkuk gadis itu, dia masih muntah-muntah.
Tangannya hendak memijit, tetapi lengan Rama langsung ditarik kasar oleh Mbah Yahya, kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Dia juga bergegas duduk di sampingnya.
Gisel langsung berlari masuk lagi ke dalam gerbang sambil menutup hidung beserta mulutnya.
"Sekarang kita langsung pergi ke apartemen gadis itu, Ram!" titah Mbah Yahya yang menatap Rama tengah menyalakan mesin mobilnya.
"Iya. Tapi harusnya Daddy nggak boleh melakukan hal itu kepada Gisel. Kenapa pakai menyemburnya segala?"
"Itu teguran buat dia supaya nggak bisa mengosipimu lagi. Kalau sampai terulang, si Gisel kena mencret!" tegasnya. "Nanti malam Daddy juga akan kirim dia santet supaya dia jadi perawan tua!"
Rama terbelalak. "Lho, Dad. Jangan begitu!" larangnya. "Tadi si Gisel juga sudah muntah-muntah. Pasti karena jampi Daddy juga. Jadi nggak perlu pakai kirim santet segala, aku nggak suka Daddy main gitu-gitu."
"Udah lah, Ram. Ngapain ngurusin dia," geram Mbah Yahya sambil bersedekap. "Lebih baik kita pikirkan saja tentang gadis yang kamu perkosa."
"Aku nggak ngurusin dia. Tapi aku nggak mau Daddy mengirimnya pelet. Itu berbahaya dan dosa. Aku nggak mau, ya!" pinta Rama tegas.
Mbah Yahya memalingkan wajahnya ke arah jendela, kemudian mengusap kasar wajahnya.
'Beruntung yang kamu gosipin pria sebaik Rama, Sel. Dan kamu juga beruntung karena bukan gadis yang Rama perkosa. Karena dengan begitu ... kamu bukan menantuku,' batin Mbah Yahya sambil tersenyum miring.
*
*
__ADS_1
40 menit kemudian, akhirnya mereka sampai pada sebuah gedung apartemen yang Mbah Yahya yakni tempat dimana gadis pemilik sepatu itu tinggal.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rama pun mengambil kotak cincin di dalam dasbor lalu mengantonginya ke dalam saku jas. Cincin itu memang selalu dia simpan di sana sebelum diserahkan pada seorang gadis yang akan jadi istrinya nanti.
Kotak cincin itu sebenarnya pemberian Mbah Yahya dulu, saat dirinya hendak bertemu Nissa. Dia memberikan dengan alasan supaya Rama sekalian untuk melamarnya. Karena takut jika Nissa keburu ditikung orang.
Namun sayangnya, belum sempat Rama memberikan cincin itu—dia malah mendapat kabar kalau Juna anaknya Nissa menginginkan jika Maminya menikah dengan Tian. Bukan dengan dirinya yang memiliki burung tak hidup.
"Kenapa kamu mengambil cincin segala, Ram?" tanya Mbah Yahya.
Anaknya tengah mengambil buket bunga violet di kursi belakang. Tadi sebelum datang dia juga sempat mampir ke toko bunga. Dan melihat buket bunga besar yang tampak cantik itu, kemudian langsung membelinya.
"Niat kita datang 'kan karena aku mau bertanggung jawab, Dad. Jadi sekalian saja aku melamarnya."
"Tapi Daddy maunya kita ketemu dulu, Ram."
"Ya ketemu sambil melamar." Rama turun lebih dulu. Kemudian disusul Mbah Yahya yang memegang sebelah sepatu flatshoes. Sekalian juga nanti gadis itu untuk mencobanya. "Daddy yakin ini apartemen tempat dia tinggal, kan?" tanya Rama menoleh ke arah Daddynya. Dia tampak tak yakin, takut salah.
"Iya." Mbah Yahya mengangguk. Jawabannya sudah mampu membuat jantung Rama berdebar kencang. Tak sabar rasanya dia ingin bertemu calon istrinya.
"Tapi nanti Daddy ikut bantuin aku ngomong, ya?"
"Ngomong tentang semua yang sudah terjadi. Aku takut keluarganya nggak terima sama aku, Dad. Terus memasukkan aku ke penjara." Padahal aslinya senang, tetapi Rama juga tak memungkiri jika sebenarnya ada rasa takut yang menyelimuti dirinya. Gadis itu masih perawan, diangan-angan Rama keluarganya pasti akan marah besar kalau nanti tahu anaknya dia lah yang melecehkan.
"Kamu tenang saja." Mbah Yahya mengusap bahu anaknya. Mencoba menenangkan. "Niat kita datang adalah untuk bertanggung jawab, yang kita butuhkan adalah jawaban mau tidaknya gadis itu menikah denganmu."
"Harus mau dong, Dad!" seru Rama.
"Iya. Itu harus!" Mbah Yahya mengangguk dengan semangat.
"Maaf, Bapak-bapak ini cari siapa?" Seorang satpam menjaga menahan langkah kaki kedua pria beda generasi itu yang hendak masuk.
"Aku mau mencari calon istriku di sini, Pak," jawab Rama.
"Siapa calon istri Bapak?"
"Dia tinggal di sini. Tapi aku lupa namanya," jawab Rama lagi.
__ADS_1
"Kok bisa?" Kening pria itu mengerenyit. "Masa calon istri sendiri lupa namanya?"
Bibir Mbah Yahya langsung komat-kamit membaca mantra, kemudian setelah itu dia langsung mengusap wajah satpam. Dan seketika pria itu jatuh pingsan.
Bruk!!
"Lho, Dad! Apa yang Daddy lakukan?!" tanya Rama yang tampak terkejut. Dia berjongkok hendak meraih tubuh pria berseragam itu, tetapi lengannya dicekal oleh Mbah Yahya.
"Biarkan saja. Dia hanya pingsan. Kita langsung masuk, Daddy udah nggak sabar ingin bertemu calon menantu," ajak Mbah Yahya. Lantas menarik Rama untuk mengikuti langkah kakinya menuju lift.
"Tapi kenapa pakai dijampi segala, Dad?"
"Dia terlalu bawel, Ram. Dulu pas Daddy awal ke sini saja dia banyak bertanya, sampai akhirnya Daddy hipnotis saja biar pingsan."
"Tapi itu 'kan tindakan kejahatan, Dad."
"Jahat apanya? Kan cuma buat dia pingsan, nggak memperk*sa."
"Dia 'kan cowok."
"Cowok juga bisa diperkosa, kan ada lubang pantaat.
"Dih." Rama meringis geli.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift kemudian menuju lantai 2. Tak menunggu waktu yang lama pintu itu pun terbuka, dan keduanya bergegas keluar.
Ting~
"Daddy masih ingat sama nomor kamarnya?" tanya Rama sembari menatap sekeliling beberapa pintu apartemen yang tertutup. Jumlahnya sangat banyak.
"Kamu kira Daddy sudah pikun? Walau tua ingatan Daddy ini masih kuat tahu." Kaki Mbah Yahya mendekat ke salah satu pintu apartemen itu, kemudian memencet bel.
Ting ... Tong.
"Dih, Dad! Sebentar ... aku udah ganteng belum ini?!" tanya Rama yang tampak gugup dan salah tingkah. Dia langsung membereskan jas biru navynya dan juga rambut.
Mbah Yahya menatap Rama sambil memencet bel itu kembali. "Sejak kapan kamu jelek? Kamu 'kan udah ganteng dari lahir."
__ADS_1
"Ah masa, sih?" Meskipun dia mengakui, nyatanya kali Rama benar-benar seperti tidak percaya diri. "Tapi mataku bagaimana? Ada beleknya nggak, Dad?" Rama melototkan matanya, supaya Mbah Yahya dapat melihat ada atau tidaknya kotoran di mata.
...Lebay amat sih, Om 🤣 ketahuan nih, baru ngelamar cewek, ya? 🤭...