Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
44. Apa jangan-jangan Daddy kasih jampi?


__ADS_3

Sebelumnya di rumah Mbah Yahya...


Tok ... Tok ... Tok.


Mbah Yahya mengetuk-ngetuk pintu kamar Rama. Sudah hampir satu jam dia menunggu, akan tetapi anaknya itu tak kunjung keluar kamar. Istrinya Yenny juga sama, mereka dandan benar-benar menguras waktu.


Ceklek~


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya pintu itu dibuka. Rama sudah sangat rapih, tampan serta wangi dengan stelan jas berwarna biru navy. Kedua tangannya memegang buket bunga mawar.


"Aku udah ganteng 'kan, Dad?" tanya Rama sambil membereskan rambut klimisnya.


"Udah, kamu nggak mandi juga udah ganteng. Oh ya, cincinnya sudah dibawa?" tanya Mbah Yahya.


"Sudah, ada kok." Rama menyentuh dadanya sebelah kiri, ada saku di dalam sana yang sudah ada sekotak cincin.


"Ya sudah, ayok cepat turun, kita berangkat sekarang," ajak Mbah Yahya.


Anaknya itu mengangguk dan keduanya melangkah turun dari anak tangga secara bersamaan. Yenny yang telah selesai pun ikut menyusul.


"Lho, apa ini? Banyak sekali?" tanya Mbah Yahya. Langkah mereka berhenti di ruang keluarga. Di atas mejanya ada roti buaya berukuran jumbo.


Juga 5 bingkisan yang berisi seserahan seperangkat alat sholat,


Satu paket perhiasan,


Tas dan sepatu branded,


Tiga stel dress,


Dan yang terakhir adalah tiga pasang pakaian dallam dengan model yang begitu seksi dan lucu.


"Itu roti buaya dan seserahan, memangnya Daddy nggak tahu?" tanya Yenny.


"Daddy tahu, tapi kenapa musti pakai bawa seserahan segala, Mom? Ini berlebihan."


"Nggak berlebihan lah, Dad. Dulu pas Rama melamar almarhumah Tari juga kita bawa seserahan dan roti buaya, bahkan sambil bawa ondel-ondel juga."


"Iya sih, ya sudah nggak apa-apa deh. Ayok kita berangkat," ajak Mbah Yahya yang sudah melangkah lebih dulu. Anak dan istrinya mengekori dari belakang.


"Terus itu seserahannya siapa yang bawa, Mom?" tanya Rama saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi di samping kemudi, sebab yang mengemudi Tuti, asistennya.


"Mommy sudah nyewa dua orang untuk membantu membawakannya. Nanti mereka menyusul," jawab Yenny yang duduk di kursi belakang bersama Mbah Yahya. Dia dan suaminya sudah memakai baju batik senada, hanya saja model yang dia pakai adalah dress tanpa lengan, panjang selutut.

__ADS_1


"Kasih tahu alamatnya yang bener, Mom. Takutnya salah alamat," tegur Rama. "Aku juga mau, datangnya bareng pas kita datang, biar enak dilihatnya gitu."


"Iya, kamu tenang saja."


Rama menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang kala mobil itu sudah melaju pergi. Perasaannya campur aduk, tetapi lebih dominan rasa bahagia.


"Selamat ya, Pak, akhirnya sebentar lagi Bapak akan menikah lagi," ucap Tuti menoleh sebentar ke arah Rama. "Saya ikut bahagia dan semoga lancar sampai hari H."


"Amin, terima kasih, Tut."


"Sama-sama."


"Kamu sendiri kapan menikah, Tut?" tanya Yenny sambil melihat wajah sendiri di depan cermin yang dia pegang. Sembari membereskan make up.


"Mana ada yang doyan sama si Kentut, Mom. Dia 'kan cewek jadi-jadian," balas Mbah Yahya.


"Daddy nih asal aja kalau bicara!" tegas Rama marah. Dia menoleh ke arah Tuti yang tengah terkekeh. Tetapi wajah merahnya tak bisa membohongi kalau dia tampak sedih mendengar banyolan dari Mbah Yahya. "Tuti ini cewek tulen, dan namanya itu Tuti, bukan kentut. Jangan merubah nama orang sembarangan." Rama sudah menganggapnya sebagai adik sendiri dan awal mempekerjakannya juga karena kasihan. Ada alasannya juga kenapa Tuti berpenampilan seperti pria. Hanya saja yang tahu itu cuma Rama dan Tuti.


"Iya, iya. Orang Daddy cuma bercanda," jawab Mbah Yahya.


*


*


Sedangkan di belakang ada dua pria berbadan besar. Mereka memegang roti buaya dan bingkisan seserahan di tangannya.


"Daddy, sebelum kita datang sudah menghubungi Kak Gugun, kan?" tanya Rama menoleh ke arah Mbah Yahya. "Takutnya dia dan Sisil nggak ada di rumah lagi."


"Udahlah, Ram, tenang ...." Ucapan Mbah Yahya menggantung kala terdengar suara pintu di depannya dibuka.


Ceklek~


Keluarlah Gugun yang tengah memegang lengan adiknya. Akan tetapi wajah keduanya tampak tegang saat melihat Rama dan orang tuanya.


"Assalamualaikum," ucap Rama sambil tersenyum. Jantungnya langsung berdebar kencang saat beradu pandangan dengan Sisil. Melihat penampilannya, membuat hati Rama meleleh. 'Cantik sekali calon istriku.'


Gugun menoleh ke kanan-kiri, mencari-cari keberadaan Arya yang tak terlihat di matanya. 'Ke mana si Arya? Kok hilang dia?'


"Kamu cari siapa, sih? Orang tamu datang bukannya disambut, si Rama ngucapin salam juga nggak dijawab," gerutu Mbah Yahya sambil berkacak pinggang. Dia melototi Gugun.


"Ah maaf-maaf." Gugun langsung mengalihkan fokusnya ke mereka. "Walaikum salam, ayok masuk semuanya," ajaknya sambil tersenyum. Dia pun melebarkan pintu lalu menarik Sisil untuk ikut masuk bersamanya.


Rama, Mbah Yahya, Yenny dan dua orang yang membawa seserahan melangkah masuk.

__ADS_1


"Ini bunga untukmu, Sil, aku harap diterima," pinta Rama penuh harap seraya mengulurkan tangannya.


Sisil langsung mengambil bunga tersebut, lalu tersenyum canggung tetapi menatap ke arah lain. "Terima kasih."


"Sama-sama." Rama tersenyum lebar. Dia tampak girang sekali sebab akhirnya, bunga pemberiannya itu diterima.


"Silahkan duduk Pak Rama, Pak Yahya dan Ibu ...." Gugun menggantung ucapannya, sebab tak tahu nama istrinya Mbah Yahya.


"Yenny," jawab Yenny.


"Iya, maksudku Bu Yenny. Silahkan duduk." Menunjuk sofa panjang, ketiganya pun langsung duduk di sana. Rama di tengah.


"Ayok cium tangan, Sil, mereka calon mertuamu," titah Gugun pada sang adik. Akan tetapi Sisil justru merasa terkejut ketika melihat jelas wajah Mbah Yahya. Sejak tadi yang dia fokuskan hanya melihat Rama. "Lho, kok diem?" Gugun menggoyangkan lengan Sisil, sebab gadis itu malah bengong.


"Ah iya, Kak." Sisil mengangguk cepat dan membuyarkan lamunannya, kala mengingat pertemuan pertamanya dengan Mbah Yahya. 'Kakek-kakek ini bukannya yang dulu sempat datang terus marah-marah, ya? Pakai nyumpahin aku segala. Tapi dia bukan si, orangnya?' batinnya ragu.


Sisil melangkah mendekat ke arah Mbah Yahya, lalu membungkuk untuk meraih punggung tangannya dan langsung menempelkan ke arah dahi. Selanjutnya dia melakukan hal itu juga untuk Yenny.


Wanita tua itu tersenyum, lalu mengelus rambut Sisil dengan lembut. "Kamu cantik sekali, Nak, berapa umurmu?" tanyanya dengan lembut.


"19 Oma, ah maksudku Tante."


"Mommy dong," balas Yenny.


"Iya. Maksudku Mommy." Sisil tersenyum canggung kemudian menatap ke arah Gugun. Bingung dia harus gimana, sebab dia juga belum menambal bedak atas permintaannya.


"Kamu buatkan kopi sama teh saja ke dapur buat mereka," titah Gugun.


"Jangan dong, Gun." Yenny menahan tangan Sisil saat gadis itu hendak melangkah. "Masa Sisil yang buat kopi sama teh? Pembantu di sini saja."


"Di sini kami hanya tinggal berdua, Bu," jawab Gugun. "Lagian nggak apa-apa kok, Sisil sudah biasa buat teh sama kopi."


"Sebentar Oma, eh, Mommy. Aku ke dapur dulu." Sisil tersenyum dan pelan-pelan melepaskan tangan Yenny di lengannya. Sejujurnya dia merasa risih, tetapi dia teringat ucapan Gugun yang memintanya untuk bersikap sopan.


"Buat Mommy dan Daddynya Rama jangan dikasih gula, ya, teh sama kopinya, Nak."


"Iya." Sisil mengangguk, dia menoleh sebentar kemudian melangkah menuju dapur.


Rama yang sejak tadi duduk diam terus memperhatikan garak-gerik Sisil. Dadanya terasa hangat dan hatinya berbunga-bunga.


Akan tetapi dia merasa heran juga, mengapa sikap Sisil begitu hangat dan manis hari ini. Berbeda dengan kemarin-kemarin saat berjumpa dengannya. 'Kok bisa, sih, sikap Sisil berubah manis seperti ini? Eh, apa jangan-jangan Daddy kasih jampi?' batinnya. Mendadak Rama merasa curiga, lantas menatap kepada Mbah Yahya yang baru saja memasukkan jari telunjuknya ke lubang hidung sebelah kanan, lalu mulai mengupil.


'Upilku banyak banget, bikin gatel,' batin Mbah Yahya.

__ADS_1


...Tadi pas di rumah kenapa nggak ngupil dulu, Mbah 🤥🤣...


__ADS_2