Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
30. Kau sebentar lagi akan kalah


__ADS_3

"Sisil hari ini sibuk, dia nggak bisa ke sini." Gugun tak mau menganggu acara adiknya. Jelas sekali tadi kalau gadis itu tampak bahagia ingin bertemu keluarga Arya. Dia juga merasa yakin, jika adiknya pasti bisa menikah dengan Arya, bukan dengan Rama.


Gugun juga sebenarnya tak setuju, jika pendamping di hidup Sisil adalah pria yang sudah berumur. Rasanya kasihan, Sisil terlalu muda jika bersanding dengan Rama.


"Dia juga baru keluar dari rumah sakit dan masih butuh banyak istirahat. Aku nggak mau membuat mentalnya kembali terganggu. Aku takut dia kembali nekat ingin bunuh diri," tambah Gugun.


"Ya sudah. Kapan saja Nona Sisil siap, dia dan Pak Rama harus dipertemukan di sini, ya, Pak," pinta Pak Polisi. "Saya harap, undangan dari pihak polisi jangan lewat sampai seminggu."


"Tapi Rama nggak akan di penjara, kan, Pak?" tanya Mbah Yahya.


"Kami butuh keterangannya dulu, Pak. Soal masuk penjara atau tidaknya ... itu tergantung keputusan kami," jelasnya sambil tersenyum. "Dan bukti kalau Pak Rama impoten, bisa kami pertimbangkan."


Mbah Yahya tersenyum puas. Meskipun belum terbukti Rama akan lolos, tetapi dia sudah yakin—kalau dirinya lah yang akan menang sekarang.


Dia lantas melirik ke arah Gugun, wajah pria itu tampak cemas dan seperti memikirkan sesuatu hal yang entah apa itu. 'Kau sebentar lagi akan kalah kumis lele.'


***


Sementara itu, Arya dan Sisil baru saja turun dari mobil taksi di depan rumah mewah Papanya Arya.


Sebelum mereka datang, keduanya mampir dulu ke toko bolu untuk membelikan bolu pisang. Kata Arya, bolu pisang adalah cemilan favorit Papa dan Mamanya. Dan Sisil lah yang membeli dengan uangnya sendiri, Arya ingin membayar pun dia tolak.


"Ini rumah Kakak? Gede banget." Sisil menengadahkan wajahnya menatap rumah bertingkat itu. Entah mengapa mendadak dia menjadi minder. Jantungnya juga tiba-tiba berdebar kencang.


"Buka rumahku. Tapi rumah orang tuaku, Sil." Arya mencium pipi kanan Sisil, lalu merangkul bahunya dan mengajak untuk masuk ke dalam gerbang.


Kebetulan, pintu rumahnya itu terbuka lebar. Jadi mereka langsung masuk ke dalam.


"Assalamualaikum!" ucap Arya dan Sisil berbarengan. Mereka menghentikan langkahnya di ruang tamu dan suasana begitu sepi sekali.


"Mama dan Papanya Kak Arya ke mana? Kok nggak ada?" tanya Sisil.


"Mungkin mereka lagi ada di kamar. Tapi pas tadi pagi aku udah ngomong kok, mau mengajakmu ke rumah."


"Eh Arya, sudah pulang kamu." Terdengar suara Ayya melangkah menghampiri. Dia langsung mengulas senyuman yang tampak begitu manis, saat pandangan matanya tertuju pada Sisil. Dia juga memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga kepala. 'Cantik, sama seperti difoto,' batinnya.


"Siang Tante," sapa Sisil sambil tersenyum. Cepat-cepat dia meraih tangan wanita itu untuk mencium punggungnya.


Meskipun Arya belum memberitahu dia siapa. Akan tetapi dia begitu yakin, kalau wanita di depannya itu adalah mamanya Arya. Sebab hidung mancungnya begitu mirip.

__ADS_1


"Siang. Kamu yang namanya Sisil?" tanya Ayya. Sisil mengangguk lalu mengulurkan paper bag di tangannya. "Apa itu?"


"Ini bolu pisang Tante. Kata Kak Arya, Tante dan Om suka bolu pisang."


"Oh terima kasih. Apa kamu yang membuatnya?" Ayya menerimanya dengan senang hati.


"Nggak, aku beli."


"Oh. Kirain bikin sendiri." Ayya tampak merengut kecewa. Akan tetapi dia langsung tersenyum kembali.


"Papa sama Opa mana, Ma?" tanya Arya sembari mengedarkan pandangannya pada ruangan itu.


"Mereka ada ruang meja makan. Kebetulan baru mau pada makan. Ayok kita ke sana," ajak Ayya.


Arya dan Sisil pun saling memandang, kemudian sama-sama mengangguk. Mereka pun melangkah mengekori Ayya menuju ruang makan.


Di sana, Arga dan Ganjar yang tengah menuangkan nasi pada piring masing-masing itu langsung menatap ke arah Sisil. Seperti apa yang dilakukan Ayya tadi, keduanya memperhatikan Sisil dari bawah hingga ke atas.


'Cantik.' Mereka sama-sama membatin dengan ucapan yang sama. Penampilan Sisil juga masuk kriterianya. Terlihat anggun dan manis. Apalagi dressnya, begitu cocok di badan Sisil.


"Dia Papa dan Opaku, Sil," ucap Arya.


Sisil langsung tersenyum dan melangkah mendekat ke arah mereka. "Siang Om, Opa," ucapnya sambil mencium punggung tangan keduanya bergantian.


"Sudah makan belum kamu?" tanya Ganjar.


"Aku—"


"Nggak usah ditanyain dong Opa." Arya menyela ucapan Sisil. "Tamu itu harus ditawari makan."


"Oh iya. Maksud Opa, kalau belum makan ayok makan bersama." Ganjar langsung tersenyum dan mengangguk kecil. Tetapi terlihat begitu canggung.


"Terima kasih, Opa," ucap Sisil.


"Iya," jawab Ganjar.


Ayya langsung duduk di samping suaminya. Sedangkan Arya menarik kursi untuk Sisil, dan setelah dia duduk, barulah Arya duduk pada kursi di sampingnya.


Di atas meja itu banyak sekali menu makan. Sangking banyaknya, seperti seluruh menu yang ada restoran.

__ADS_1


Baru saja Arya hendak menuangkan nasi di piring Sisil, akan tetapi Arga langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepada Sisil.


"Papa kamu, kerja di mana, Sil?" tanyanya. Pertanyaan itu adalah satu-satunya pertanyaan yang sejak tadi ada dipikirannya saat dia bertemu Sisil.


"Papaku sudah—"


"Makan dulu saja, Pa," sela Arya cepat. "Sisil pasti laper, soalnya dia cuma makan bubur tadi pagi. Biar dilanjutkan habis makan."


"Oh. Ya sudah kalau begitu." Arga mengangguk. Kemudian melahap nasi di atas piringnya.


Mereka semua makan dengan serius, akan tetapi sesekali baik Arga, Ganjar atau pun Ayya—ketiganya memperhatikan Arya dan Sisil.


Tidak ada yang salah sebenarnya. Akan tetapi terlihat jelas, jika mereka berdua saling mencintai. Arya bahkan menyuapi Sisil, dan gadis itu mengusap bibir Arya yang belepotan karena minyak kuah ayam.


Terlihat cocok dan serasi sekali pasangan muda itu.


Seusai makan siang, mereka berlima pun beralih duduk pada sofa ruang tamu. Di atas meja sudah ada 5 gelas jus mangga dan beberapa potong bolu pisang.


Niatnya untuk bersantai sambil menginterogasi Sisil. Karena orang tua dan Opanya Arya begitu penasaran pada Sisil.


"Kamu tinggal sama siapa, Sil?" tanya Ayya yang memulai obrolan. Dia duduk di sofa panjang bersama suaminya. Arya dan Sisil duduk di sofa panjang juga, sedangkan Ganjar di sofa single sambil menyilang kaki.


"Sama Kakakku Tante," jawab Sisil sambil tersenyum.


"Hanya dengan Kakakmu? Memangnya Papa dan Mamamu tinggal di mana? Apa diluar negeri?" tebak Arga yang ikut nimbrung.


"Papaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kalau Mamaku tinggal di Arab dan sudah punya keluarga baru di sana," jawab Sisil dengan wajah yang berubah sendu.


"Oh, Mamamu nikah sama orang Arab? Apa memang hanya tinggal di sana?" tanya Arga.


"Mamaku nikah sama orang Arab, jadi memutuskan tinggal di sana, Om. Aku dan Kakak juga sudah lama nggak bertemu dengannya. Mungkin setahun setelah Papa kami meninggal."


"Saat Papamu meninggal, apa kamu dikasih warisan?" tanya Arga. Kalau memang benar, berarti Sisil anak orang kaya. Itulah yang dia pikirkan.


"Papa ngomong apa, sih? Kok ke warisan-warisan," ujar Arya. Dia menatap Papanya dengan raut kesal. Tampaknya dia tak suka dengan pertanyaan itu.


"Ah maaf. Papa hanya ingin tahu, kalau Sisil nggak mau memberitahu juga nggak apa-apa," jawab Arga santai seraya meraih gelas jus, lalu menenggaknya sedikit.


"Papa nggak ngasih warisan apa-apa, Om. Papa juga meninggal karena kecelakaan," sahut Sisil.

__ADS_1


"Terus Kakakmu kerja apa?" Yang bertanya sekarang adalah Ganjar. "Cewek atau cowok kakakmu? Dan punya mobil berapa?"


...Percaya deh, Sil, kalau Bapaknya Om Rama mah pasti ga akan nanya ke situ-situ 🤭...


__ADS_2