
'Lho, kenapa dengan Sisil? Kok kelihatan marah,' batin Rama bingung.
"Istrimu kenapa, Ram? Kok kayak nggak suka sama aku? Kan aku cuma mau mengantarkan makanan," ucap Fuji dengan wajah bersalah.
"Aku nggak tau, Fuj, aku mau samperin dia dulu." Rama langsung berlari pergi, lalu menaiki anak tangga.
Fuji bukannya pulang, dia justru ikut masuk dan menutup pintu. Akan tetapi dia langsung duduk di sofa ruang tamu, tak mengejar Rama.
'Amit-amit. Judes banget istrinya si Rama. Ada yang ngajak kenalan bukannya disambut eh malah marah.' Fuji membatin dengan hati dongkol.
Tok! Tok! Tok!
Rama mengetuk pintu kamar itu sesudah menarik turunkan handle pintu, sebab pintunya dikunci dari dalam.
"Lho, Dek, kenapa dikunci? Ayok buka dan kamu kenapa? Ada apa?" tanya Rama dengan masih mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Rama meletakkan rantang susun di meja di samping kamar. Kemudian menurunkan pandangan ke bawah, ada Fuji di ruang tamu. Gegas dia pun berlari turun lagi, lalu menghampirinya.
"Fuji, apa ada kunci serep di kamar utama?" tanya Rama dengan napas terengah-engah.
"Bukannya sudah ada kuncinya ya, Ram?" Fuji justru berbalik tanya.
"Ada, tapi kayaknya dikunci dari dalem. Sisil menguncinya. Aku mau membukanya, Fuj."
"Lho, kok dikunci dari dalam? Kenapa?"
"Kamu ada kuncinya nggak? Aku tanya kunci serep, kamu jangan tanya yang lain dulu." Rama tampak kesal sebab yang dia dapatkan bukan jawaban, tapi pertanyaan balik. Wajahnya juga terlihat cemas, dia takut sekali kepada Sisil yang marah tanpa sebab itu.
"Kayaknya ada. Tunggu sebentar ... aku akan ambil dulu kuncinya. Ada di rumah." Fuji berdiri.
"Maaf merepotkan ya, Fuj."
__ADS_1
"Nggak masalah, Ram." Fuji tersenyum lalu mengelus pundak Rama.
Sisil yang tengah berdiri di lantai atas menatap keduanya. Air matanya perlahan mengalir membasahi pipi.
Saat Rama mengetuk pintu dua kali, tak lama Sisil membukanya. Akan tetapi pria itu justru turun menghampiri Fuji. Tambah kesal lah dia jadinya.
'Padahal aku sudah bilang ... kita ke Koreanya berdua saja, Om. Tapi kenapa Om nggak mendengarkanku? Kenapa Om justru mengajak teman deket Om, mana perempuan lagi,' keluh Sisil dalam hati sambil menangis tanpa suara. 'Dan apa kalian punya hubungan spesial, sampai Fuji mengatakan dia teman dekat Om?' Kedua tangannya mengepal kuat, lalu dia melangkah kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
30 menit menunggu Fuji kembali, Rama juga kedatangan seorang kurir yang mengantarkan paket untuknya. Setelah tanda tangan, barulah paket itu dia terima.
"Maaf lama, Ram, tadi aku pipis dulu, soalnya kebelet," ucap Fuji yang baru saja datang. Kemudian menyerahkannya sebuah kunci.
"Nggak apa-apa, terima kasih, ya," jawab Rama. Kemudian melangkah naik lagi ke lantai atas. Sedangkan Fuji memilih kembali duduk dan menenggak sebotol soju yang sempat dia bawa dari rumah.
"Dek, kamu kenapa sebenarnya? Sampai tiba-tiba pergi?" Rama memasukkan kunci pada lubangnya. Akan tetapi saat dia putar, justru terasa sulit. Sebab memang tidak dikunci. "Lho, nggak dikunci?! Padahal tadi perasaan dikunci deh." Rama menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat pintu itu berhasil dibuka. Dia pun segera masuk dan menutup pintunya kembali.
Sisil duduk di atas kasur sambil menyandar pada dipan ranjang. Pandangan matanya menatap jendela yang dia buka gordennya, dia memperhatikan salju yang turun.
Sisil langsung menepis kasar lengan Rama pada bahunya. Lalu menggeserkan bohongnya supaya tak terlalu dekat.
"Jangan diem begitu dong, Sayang. Aku mana ngerti. Aku salah apa sekarang?" Rama mengecup pipi kanan istrinya, lalu membereskan rambut Sisil yang terlihat berantakan.
'Om Rama mah nggak peka. Masa dia nggak tau alasanku marah, padahal sudah jelas dia salah,' batin Sisil kesal. Pipi bekas kecupan Rama langsung dia usap dengan kasar, akan tetapi ada sebuah getaran di dadanya.
"Oh, atau kamu kesel sama Fuji?" tebak Rama. "Tapi dia cuma teman SMA-ku dulu, Dek. Terus ... salahnya di mana?"
"Apa hubungan Om dan Fuji spesial? Apa kalian berpacaran?!" tanya Sisil penuh curiga, dia menoleh dengan tatapan sengit. Suaranya terdengar begitu lantang.
Rama langsung terkekeh mendengarnya. "Lho, kok pacaran? Kan aku sudah bilang tadi ... kami hanya teman SMA."
"Dia tadi bilang Om teman dekatnya. Kalian TTM'an, ya?!"
"Mana ada TTM'an, Dek. Kami cuma teman. Ya memang lumayan dekat, karena rumah kami dulunya tetanggaan," jelas Rama.
__ADS_1
"Om suka sama dia? Apa kalian pernah pacaran?"
"Nggak." Rama menggeleng. "Kami cuma temenan doang kok, Sayang." Perlahan dia mengelus puncak rambut Sisil, berusaha untuk meluluhkannya. Jangan sampai acara bulan madu mereka kacau hanya karena kesalahpahaman.
"Terus kenapa Om ngajak dia juga ke Korea?! Kan aku sudah bilang awalnya ... aku pengen hanya kita berdua saja. Kok Om tega, sih? Memangnya dia penting banget, ya, sampai Om ajak segala?' cerocos Sisil dengan penuh kekesalan. Bola matanya kembali berkaca-kaca. Kalau kesal bawaannya suka kepengen nangis.
"Aku nggak ngajak Fuji, Dek, tapi dia kebetulan memang tinggal di sini," jawab Rama yang masih sabar. Suaranya juga terdengar begitu lembut.
"Di villa ini?!"
"Bukan," sahut Rama dengan gelengan kepala. "Rumahnya kata dia di sebelah. Tapi villa ini punya dia, Dek."
"Apa?!" Sisil sontak membulatkan matanya dengan lebar. Dia tampak terkejut dan emosinya langsung mendidih, naik ke ubun-ubun. "Oh, jadi Om sengaja ngajak aku tinggal di sini karena villa ini punya dia? Biar bisa ketemu terus setiap hari?!"
"Aku nggak ada pikiran kayak gitu, Dek, aku mengajakmu tinggal di sini karena—"
"Biar Om bisa berselingkuh dengannya, kan?!" sergah Sisil dengan mata melotot, dadanya terlihat naik turun. "Kalau begitu mendingan aku pulang saja deh, dari sini, biar Om puas bertemu dengan Fuji." Sisil berdiri, kemudian berlari dan membuka lemari, lalu mengambil pakaiannya.
Rama langsung mencegah, lalu memeluk tubuh Sisil dari belakang.
"Dek, apa yang kamu pikirkan, sih? Aku nggak ada hubungan apa pun sama Fuji!" tegas Rama. Dia menarik kembali pakaian yang Sisil pegang lalu menaruhnya ke dalam lemari. Kedua tangan Sisil dia cekal kuat, kemudian menghimpit tubuhnya di pojok lemari.
"Aku mau pulang ke Indonesia saja sendirian malam ini!" teriak Sisil memberontak.
"Jangan pulang dong, Dek, kita baru sehari di sini. Kamu juga belum menikmati salju," bujuk Rama.
"Aku nggak mau menikmati salju! Aku ingin pulang saja! Nanti aku akan laporkan Om ke Kakak, Mommy dan Daddy Om, biar mereka tahu kalau ternyata Om itu pria yang ... eeemmpptt!"
Terlalu kebanyakan bicara, dijelaskan pun rasanya akan panjang dan belum tentu dipercaya. Jadi Rama memilih jalan alternatif yaitu membungkam bibir Sisil dengan bibirnya, supaya gadis itu berhenti mengoceh.
'Daripada kita berantem ... mending bercinta lagi saja, Dek. Aku lebih suka suara mendesaahmu ketimbang kamu berteriak-teriak nggak jelas,' batin Rama. Dia lantas menyibak dress yang Sisil kenakan, lalu merogoh ke dalam celaana dalamnya dan membelai sangkar emas yang terasa kesat itu.
...Lanjut kelonan lagi nih ceritanya, Om? 🤣...
__ADS_1