
"Sisil nggak ada di sini!" teriak Gugun.
"Kalau nggak ada disini terus di mana?" tanya Rama.
"Kalian nggak perlu tahu. Aku sendiri nggak yakin kalau Bapak bisa memperkosa adikku. Bapak 'kan impoten!" tegas Gugun.
"Kurang ajar! Rama bukan ... Eeemmpptt!" Bibir Mbah Yahya yang penuh kuman itu ditutup oleh Rama. Dia tak mau, jika nantinya apa yang sang Daddynya itu katakan akan makin mengundang emosi Gugun.
"Aku memang impoten. Mungkin dari lahir. Tapi aku sendiri bingung kenapa pas malam itu aku bisa memperkosa Sisil. Burungku berdiri tegak. Panjang dan berotot, Kak," jelas Rama. "Dan perlu Kakak tahu juga, alasanku memperkosa Sisil awalnya adalah dia yang menggodaku."
"Kau pikir adikku cewek murahan?!" sentak Gugun tak terima.
"Aku nggak bilang begitu," bantah Rama sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi sepertinya itu pengaruh minuman alkohol. Dia mabuk, Kak."
Bicara tentang mabuk, Gugun seketika jadi teringat tentang apa yang tadi pagi Harun katakan.
Refleks Gugun pun melepaskan mereka, lalu menghela napasnya sembari melangkah menuju kamar untuk mengambil laptopnya. Kemudian balik lagi menuju sofa.
Gugun duduk dan langsung membuka laptopnya untuk mengecek email yang masuk. Ada sebuah rekaman video dari Harun. Segera dia pun memutarnya.
Mbah Yahya dan Rama pun ikut duduk kembali di sofa panjang.
Rama yang ikut penasaran itu langsung menggesekkan bokongnya, ikut menonton apa yang Gugun tonton.
Sedangkan Mbah Yahya, dia memilih untuk melangkah menuju dapur. Ingin mencari minuman dingin sebab tenggorokannya terasa kering.
"Rekaman apa itu, Kak?" tanya Rama.
Gugun diam saja. Dia hanya fokus menatap layar laptop.
Rekaman itu gabungan dari CCTV depan restoran, dalamnya, depan toilet dan juga pantry.
Bermula Lusi yang lebih dulu masuk ke dalam restoran itu, kemudian mencari sebuah meja yang berada di pojok.
__ADS_1
Dia duduk seorang diri di sana lalu melambaikan tangan pada seorang pelayan. Tak lama pelayan pria datang menghampiri, lalu menyodorkan buku menu yang berada di tangannya.
Lusi membaca menu tersebut, lalu berbicara kepada pelayan itu. Entah dia mengatakan apa, mungkin memesan minuman atau makanan. Sebab rekaman CCTV itu tak ada suara.
"Kak, sebenarnya Kakak lihat apa sih? Aku kepengen ketemu Sisil, Kak," pinta Rama.
Gugun masih serius dan kembali tak menanggapi apa yang Rama katakan.
Sekilas tak ada yang janggal dari tayangan tadi. Kemudian, pelayan itu berlalu pergi menuju pantry. Kening Gugun mengerenyit sebab minuman yang dibuat pelayanan itu adalah sebotol alkohol yang dituangkan pada dua gelas.
Meskipun Gugun tak pernah minum minuman haram itu, tetapi dia cukup tahu bentuk dan merk-nya.
'Oh, apa ini yang kata Lusi salah antar minuman? Tapi, apa jangan-jangan memang Lusi sendiri yang memesan minuman alkohol,' batin Gugun bertanya-tanya.
Sontak, kedua matanya itu membulat kala melihat pelayan pria merogoh kantong celananya. Gugun memperbesar gambar itu saat dia seperti menetesi sebuah obat pada salah satu minuman pada gelas tersebut.
Setelah mengaduknya dan menaruh ke atas nampan, dia justru meninggalkannya dan menghampiri meja Lusi lagi yang ternyata sudah ada Sisil di sana. Baru datang dan membereskan rambut.
"Itu Sisil, Kak." Rama menunjuk layar laptop.
Sudah jelas di sana pelayan itu seperti sengaja. Tetapi di sini Gugun ragu, apakah Lusi adalah dalangnya, atau mungkin pelayan itu punya maksud tertentu kepada Sisil.
Setelah melihat mereka berdua meminum minuman alkohol itu sambil mengetik laptopnya masing-masing, mungkin hanya dalam waktu tiga menit saja, Gugun melihat Sisil mulai menguap berkali-kali dan berselang lama dia seperti tertidur di atas meja dengan tangan yang menumpu.
Lusi menepuk lengan Sisil berkali-kali, tetapi gadis itu diam saja.
Kemudian dia membereskan laptopnya dan laptop Sisil. Lalu menarik lengan Sisil hingga berdiri dan menaruhnya pada bahu.
Gadis itu terlihat membuka matanya, tetapi sayup-sayup. Kakinya terseok-seok mengikuti langkah Lusi yang membawanya keluar restoran.
Setelah itu, Gugun kembali terkejut kala keduanya masuk ke dalam mobil hitam yang baru saja keluar dari parkiran.
'Kurang ajar sekali si Lusi!' batin Gugun murka. Sudah jelas di sini jika Lusi berbohong. Dia mengatakan kalau dirinya pulang masing-masing. Padahal mereka pulang bersama. 'Pasti ini ulahnya, dia yang membuat adikku hilang kehormatan.'
__ADS_1
Rekaman video itu berakhir ketika mobil hitam itu melaju pergi.
Gugun langsung mengambil ponselnya di dalam saku jas, lalu menelepon pihak polisi.
"Siang, Pak. Saya mau Bapak menangkap Lusi dan pelayan pada rekaman CCTV!" perintah Gugun.
"Saudari Lusi sudah saya tangkap, tapi pelayan itu saya masih mencarinya. Karena dia nggak ada di rumahnya, Pak."
"Pasti mereka sekongkol, Pak."
"Iya. Saya butuh informasi dari pelayan itu karena Nona Lusi sendiri bilang kalau dia nggak melakukan apa-apa. Tapi saya akan menekannya supaya dia mengakui," jelas Pak Polisi.
"Pokoknya Bapak harus secepatnya mencari tahu siapa yang melecehkan Sisil. Aku akan datang ke kantor polisi sekarang." Gugun melipat laptopnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia lantas berlari menuju kamar Sisil dan mengambil beberapa pakaian untuk dimasukkan ke dalam koper. Setelah itu beralih mengambil pakaiannya sendiri pada kamarnya.
"Kakak mau ke mana?" tanya Rama seraya berdiri. Dia melihat Gugun keluar kamar dengan membawa tas laptop dan mendorong koper. Sepatu sebelah milik Sisil juga Gugun ambil dan menaruhnya ke dalam koper. "Aku yang memperkosa Sisil, Kakak nggak perlu mencari pelakunya lagi."
Sedikit-sedikit Rama mengerti dengan apa yang dia lihat dari rekaman video dan apa yang Gugun obrolkan dari sambungan telepon. Bisa disimpulkan, Gugun ini seperti mencari tahu penyebab Sisil mabuk dan pelaku yang memperkosanya. Itu menurut Rama.
"Aku ada urusan. Bapak sekarang pulang saja." Gugun menarik lengan Rama. Dan membawanya ikut keluar dari apartemen lalu mengunci kamar itu.
"Tapi aku mau ketemu Sisil, Kak. Dia pasti tahu aku lah yang memperkosanya." Rama berlari mengejar Gugun yang baru saja naik lift. Kemudian lift itu tertutup rapat.
"Tapi aku mau ke kantor polisi dulu, baru menemui Sisil."
"Nggak apa-apa, asalkan aku bisa ikut. Aku mau ketemu Sisil, Kak."
Gugun malas untuk berdebat rasanya, pada akhirnya dia pun menganggukkan kepala. Seolah memberikan jawaban kalau sudah menyetujui keinginan Rama untuk ikut.
Mungkin tak ada salahnya dia membawa Rama, siapa tahu Sisil dapat mengenali pria itu. Benar tidaknya dialah pelakunya.
Namun, mereka berdua sama sekali tak sadar jika di dalam apartemen yang sudah terkunci itu masih ada Mbah Yahya.
Pria itu berada di dapur. Tengah duduk di kursi sambil mengunyah buah apel yang dia ambil di dalam kulkas. Mbah Yahya terlihat rakus sekali, sebab memang dia begitu lapar.
__ADS_1
...Dih, mandi kagak, gosok gigi kagak, dia malah makan 🤣 dasar aki-aki gaje...