
"Aku nggak percaya." Sisil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa yang buat kamu nggak percaya, Dek? Apa yang aku katakan sudah jelas dan apa adanya." Rama melangkah maju, tapi Sisil malah mundur ke belakang. "Kita lebih baik pulang dulu, ya, kita ngobrolin masalah ini di rumah saja. Ini di rumah sakit, Dek, nggak enak," rayu Rama dengan lembut. Dia merasa tidak enak, apalagi saat ini dokter yang menangani Sisil tadi menghampiri mereka.
"Tapi aku nggak mau pulang ke rumah Daddy. Aku nggak mau!" tegas Sisil yang terlihat seperti ingin menangis, dia juga langsung memeluk tubuhnya sendiri. "Aku takut, A, aku takut."
"Ya sudah. Kita pulang ke apartemen Kak Gugun dulu. Kita selesaikan hal yang kamu takutkan."
Daripada Sisil tak mau diajak pulang sama sekali, mungkin akan lebih baik untuk sekarang Rama akan menurutinya. Dia mengalah.
Perlahan Rama meraih bahu Sisil, tapi lagi-lagi gadis itu menepisnya.
"Aku mau pulangnya sama Kakakku saja. Nggak mau sama Aa," tolak Sisil.
"Lho kenapa? Memangnya ada yang salah denganku, Dek?" tanya Rama bingung.
"Pokoknya aku nggak mau!" Sisil menggeleng cepat dan berlari keluar dari ruangan itu.
Rama pun segera mengejarnya, dan ternyata istrinya itu baru saja mengambil ponselnya pada tas ransel. Kemudian mencoba menghubungi Gugun lagi.
Namun lagi-lagi, nomor pria itu tidak aktif.
"Ke mana Kakak? Kenapa nomornya nggak aktif? Padahal aku sangat membutuhkannya sekarang," gumam Sisil dengan gelisah sambil memandangi benda pipih di tangannya. Tapi apa yang dia katakan, mampu didengar oleh Rama.
Pria itu lantas mendekat, duduk di sampingnya lalu mengenggam erat tangannya. "Dek, beritahu aku apa salahku? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu dan nggak percaya padaku?" pinta Rama dengan raut memohon.
Sisil langsung menatap ke arahnya, dan tangan Rama yang mengenggamnya itu langsung dia tepis dengan kasar. "Sekarang aku mau tanya, tapi Aa harus menjawabnya dengan jujur. Karena aku nggak suka sama pria yang tukang bohong."
"Aku selalu berkata jujur padamu, Dek," jawab Rama.
__ADS_1
"Kenapa Almarhumah Mbak Tari bisa meninggal, A? Saat di hari pernikahannya? Apa itu semua karena Daddy?" tanya Sisil yang langsung pada inti hal yang dia pikirkan saat ini.
"Kok ke Daddy-Daddy?" Kening Rama tampak mengernyit. Heran mendengarnya.
"Jawab saja cepat!" seru Sisil tak sabar.
"Dia terkena serangan jantung, Dek, bukan karena Daddy," jawab Rama jujur.
"Apa Aa berbohong padaku?" Sisil menatap lekat manik mata Rama. Mencoba memastikan pria itu jujur atau tidak.
"Sumpah, Dek, aku nggak bohong. Kan aku sudah pernah bilang ... aku nggak pernah berbohong padamu."
"Apa benar, Daddy itu seorang dukun santet, A?"
Rama sontak terbelalak. Kaget saja, mengapa Sisil bisa tahu. "Kamu kok tau? Tau dari mana?"
"Iya." Rama mengangguk.
"Apa jangan-jangan kematian Mbak Tari itu karena ulah Daddy, dia yang membuatnya terkena serangan jantung padahal yang sebenarnya ingin menjadikannya tumbal?"
Rama kembali terbelalak. "Astaghfirullahallazim, Dek! Mana mungkin, Daddy nggak sejahat itu!" tegasnya.
"Aa ngomong kayak gitu karena Aa itu anaknya, kan? Jadi Aa menutupinya."
"Aku memang anaknya, tapi aku nggak akan membelanya kalau memang dia salah, Dek." Rama berusaha bersikap tenang dan sabar. Sebab dia sendiri tahu bagaimana keras kepalanya Sisil. "Dan Tari meninggal memang karena serangan jantung, disaat dia sedang menerima telepon dari Gisel."
"Gisel?" Sisil mengulang kata itu dengan kening yang mengerenyit. "Apa Gisel wanita gatal yang peluk-peluk Aa pas kita nikah?"
"Iya." Rama mengangguk. "Gisel itu temannya Tari, Dek. Mangkanya mereka saling mengenal."
__ADS_1
"Memangnya, apa yang Gisel katakan, sehingga Aa berpikir kalau saat dia sedang menelepon ... Mbak Tari sampai terkena serangan jantung?"
"Tentang pembahasan mereka ditelepon ... aku sendiri nggak tau. Hanya saja saat sudah selesai, Tari terus memegangi dadanya seperti orang yang kesakitan. Terus dia bertanya padaku mengenai aku ini pria impoten atau nggak," jelas Rama.
"Terus?"
"Aku belum sempat berkata jujur, tapi dia sudah mengatakan kalau dia tau aku impoten itu dari temannya, si Gisel. Dan disaat itu juga ... dia minta cerai lalu tak lama kemudian pingsan sampai nggak tertolong."
"Langsung meninggal?"
"Iya." Rama mengangguk cepat.
"Memangnya yang sebenarnya, Aa itu impoten atau nggak? Pasti nggak, kan?" tebak Sisil.
"Aku impoten, Dek."
Sisil langsung berdecak. Tampak jelas jika dia tak mempercayai akan jawaban terakhir dari suaminya. "Kata Kakakku, impoten itu burungnya nggak bisa berdiri, A. Ini buktinya apa? Aku sampai sudah hamil." Sisil perlahan menyentuh perutnya. "Apa Aa masih mau berbohong padaku?"
"Aku ada buktinya, kalau kamu nggak percaya kalau dulunya aku memang impoten. Ayok kita pulang dulu dari sini mangkanya." Rama langsung menarik tangan Sisil, lalu berdiri dan mengajaknya melangkah cepat dari sana.
"Bukti? Bukti apa, A? Tapi namanya orang impoten itu nggak mungkin bisa memperko*sa gadis, A!" teriak Sisil, dia memberontak dan berusaha menahan kakinya untuk tak melanjutkan pergi bersama Rama. "Dan apa Aa lupa, kalau selama kita liburan kita selalu bercinta? Dan aku nggak pernah melihat burung Aa layu. Dia selalu tegak bahkan mungkin sekarang juga iya." Tanpa berpikir, Sisil langsung meraba milik Rama dan sedikit meremmasnya. Sehingga dia dapat merasakan betapa kerasnya benda itu sekarang.
Seperti apa yang pernah Rama ucapkan, benda itu memang selalu menegang jika sedang bersama Sisil.
"Ini buktinya apa? Dia keras bahkan seperti kayu. Apa Aa masih mau mengelak, dan mengatakan kalau Aa itu impoten?" tantang Sisil sambil melotot. Tanpa sadar tangannya sudah mulai merogoh ke dalam celana Rama, masuk dari atas gesper.
"Dek!" Rama sontak terkejut. Segera dia menahan tangan Sisil yang sedikit lagi merogoh ke dalam semvaak. Rasanya malu juga, sebab banyak beberapa orang yang melihat apalagi mereka sudah berada di parkiran.
...Jangan lupa vote dan hadiahnya, Guys, biar semangat. Biar Author bisa up tiap hari 🥲...
__ADS_1