Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
104. Masih kepengen bulan madu


__ADS_3

"Gimana ya, Pak." Pria itu mengusap tengkuknya dengan wajah bingung. Selain itu resep ketoprak pasti tidak ada di restorannya. "Bapak cari ke restoran lain aja gimana?"


"Takutnya nggak ada, Pak. Soalnya aku udah cari ke tiga restoran tapi nggak ada. Terus dari internet memang nggak nemu, Pak," jelas Rama dengan wajah sedih. "Coba Bapak tanya dulu deh sama chef di sini. Aku bersedia menunggu dengan istriku asal dia mau. Kalau tentang bayaran pun bisa aku berikan lebih dulu," sarannya. Orang-orang pasti akan tergiur jika sudah berbicara tentang uang dengan nominal yang besar.


Uang memang bukan segalanya, tapi di dunia ini bisa terbukti jika semuanya kebanyakan bisa dibeli oleh uang.


Pria itu tampak terdiam, seperti memikirkan.


"Mau dong ya, Pak, coba tanya dulu. Kasihan istrinya lagi ngidam. Nanti ileran Dedek Bayinya," tambah Rama berbicara asal, perlahan dia mengelus perut Sisil.


"Ngidam bukannya buat orang hamil ya, Om?" tanya Sisil yang tampak tak mengerti dengan ucapan Rama. Jelas-jelas menurutnya dia tidak hamil.


"Iya, Dek. Masa kamu nggak tau?"


"Tau. Tapi masalahnya siapa yang hamil? Aku 'kan nggak lagi hamil." Sisil mengerutkan keningnya.


Rama langsung mendekat ke arah telinga kanannya, lalu berbisik. "Bohong dulu mah nggak apa-apa, Dek, biar Bapak ini mau ngomong sama chef-nya," lirihnya pelan mengusulkan ide.


"Oh. Iya bener, Pak." Sisil langsung mengangguk. "Aku sedang hamil. Kasihan anak kami yang kepengen ketoprak dari tadi pagi," tambahnya melebihkan seraya mengusap perut ratanya.


"Ya sudah, Bapak dan Nona tunggu sebentar ... saya akan tanya chef di sini dulu, ya?" ucap pria itu pamit.

__ADS_1


"Iya." Rama mengangguk semangat dan langsung tersenyum. Setelah melihat pria itu melangkah cepat menuju dapur, dia pun mengajak Sisil untuk duduk di salah satu meja yang kosong. Sebab kasihan takut kakinya pegal.


"Semoga chef-nya mau dan aku bisa makan ketoprak di sini sama Om, ya," ucap Sisil penuh harap. Saat baru saja duduk dia langsung memeluk tubuh Rama, rasanya dia senang mendengar ide cemerlang suaminya itu. Yang mengusulkan untuk membuat ketoprak secara langsung meskipun dengan sogokan uang.


"Amin. Kasih kecupan dulu dong, Dek, ngantuk nih akunya," goda Rama sambil menunjuk bibirnya yang sengaja dimonyongkan. Berniat mencuri-curi kesempatan lantaran mood Sisil berubah jadi bagus.


Sisil menatap sekitar restoran itu. Ramai sekali, tapi jarak mejanya berjauhan. "Nggak maulah, malu. Nanti kita kena hukuman lagi gara-gara dikira berbuat mesum."


"Kecup doang mah nggak bakal dikira mesum. Kecuali kalau sambil gigit-gigit dan mainin lidah." Rama dengan beraninya meraba paha Sisil, lalu mengelus inti tubuhnya yang terhalang oleh rok.


"Ih nggak mau! Om juga nggak boleh mesum gini! Malu!" tegur Sisil lalu menarik tangan Rama, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


"Ya terus kenapa? Om nggak ikhlas, mencari ketoprak bareng sama aku?" Sisil langsung melepaskan pelukan. Kemudian menaruh kedua tangannya di atas meja.


"Ikhlas, tapi nanti kita berarti sarapan, udah bukan makan malam lagi."


"Ya nggak apa-apa. Sekali-kali begadang, Om. Kan nggak tiap hari ini," ucap Sisil dengan santai.


Tak lama kemudian, manager restoran yang memakai stelan jas berwarna merah maroon tadi kembali datang menghampiri. Tapi kedatangannya bersama seorang pria tampan yang memakai pakaian chef berwarna putih. Wajahnya oriental Indonesia.


Rama langsung berdiri, begitu pun dengan Sisil. Keduanya segera mengulum senyum. "Bagaimana, Pak? Apa bersedia?" tanya Rama seraya menatap kedua pria di depan secara bergantian.

__ADS_1


"Saya sih mau, Pak. Tapi masalahnya resepnya yang nggak ada." Yang menjawab chef-nya, ada nama Chef Hans tertera pada apron yang saat ini dia pakai.


"Nggak ada di sini maksudnya?" tebak Rama. "Tapi 'kan bisa beli ke minimarket atau supermarket, Chef. Pasti semua bumbu ada."


Chef Hans menggeleng. "Nggak semua ada di sini, Pak, apalagi bumbu Indonesia. Termasuk asam Jawa."


"Memangnya ketoprak pakai asam Jawa?" tanya Rama bingung.


"Pas saya cek resepnya di internet pakai, Pak."


"Jangan dikasih asam Jawa saja deh, Chef," saran Rama yang sudah mumet.


"Mana bisa, nanti rasanya nggak enak." Chef Hans menggeleng.


"Mending Bapak pulang saja ke Indonesia." Manager restoran memberikan saran. "Dari pada pusing-pusing nyari nggak dapat."


"Apa kita pulang ke Indonesia saja sekarang, Dek?" Rama bertanya sambil menoleh ke arah Sisil.


Gadis itu langsung menggeleng cepat. "Nggak mau, aku masih kepengen bulan madu di sini sama Om."


...Kalau masih mau bulan madu, ya jangan nyusahin dong 😏...

__ADS_1


__ADS_2