Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
117. Yang ada adegan ranjangnya


__ADS_3

...Mohon maaf atas kesalahan teknis, tolong baca lagi bab sebelum ini ya, Guys, soalnya udah kurevisi 😚...


...****************...


"Oh ini .... eemm ... si Tuti, Dek," jawab Rama yang terpaksa bohong. Segera, dia pun mematikan panggilan, kemudian mematikan data.


Apa yang dilakukannya karena takut, jika nantinya Sisil marah. Dia tentu tahu bagaimana bencinya sang istri kepada wanita itu.


"Mau apa si Tuti telepon?! Jangan bilang dia meminta Om cepat pulang karena ada kerjaan," tebaknya yang terdengar marah.


"Nggak kok." Rama menggeleng cepat. "Dia cuma ngasih tau total penjualan Minggu kemarin."


'Maaf ya, Dek, kalau aku bohong. Maaf juga, Fuj, kalau aku nggak bisa membantu. Karena aku yakin ... Sisil nggak akan mau dan mengizinkan jika aku ke rumahmu,' batin Rama.


"Penjualan apa?" tanya Sisil.


"Emas."


"Emas?!" Kening Sisil tampak mengerenyit.


"Iya, aku bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan emas. Hasil emasnya itu langsung dibuat sampai jadi, terus sekalian dijual, Dek. Aku juga punya dua toko emas dua di Jakarta dan satu di Tangerang," jelas Rama panjang lebar.


"Itunya emas asli, Om?" Selama ini, Sisil baru tau pekerjaan Rama.


"Emas asli lah, Dek, masa imitasi," kekeh Rama. Perlahan dia pun meraih tangan Sisil, lalu menyentuh jari manisnya yang terpasang cincin. "Ini cincin kawin kita dari perusahaan. Modelnya aku yang buat, tapi karyawan yang mengerjakannya. Cuma ditambah berlian aja pada sisi-sisinya."


"Seriusan? Tapi bagus banget, ya?" Tatapan Sisil tampak takjub menatap jari manisnya . "Berarti kalau misalkan buat baju berbahan emas juga bisa nggak tuh, Om?"


"Bisa aja," jawab Rama dengan anggukan kepala. "Kamu mau memangnya, pakai? Nanti yang ada jadi sasaran jambret, Dek," kekehnya kemudian.


"Jangan baju deh. Pakaian dalam saja, Om."

__ADS_1


"Buat kamu, Dek?"


Sisil mengangguk. "Iya. Tapi bikinnya yang bagus dan sesuai ukuranku."


"Oke deh. Nanti aku buatkan kalau kita pulang ke Indonesia."


"Bener, ya, Om yang buat. Jangan nyuruh orang lain apalagi si Tuti. Aku nggak mau pakai sih, kalau buatan orang lain." Sisil mencebik bibirnya.


"Tenang saja, Sayang, apa sih yang nggak buat kamu." Rama perlahan mendekat ke arah Sisil, lalu mencium bibirnya sekilas. Dilihat wajah gadis itu langsung merona.


"Jangan bilang Om kepengen," ucap Sisil malu-malu. Sebenarnya dialah yang kepengen.


"Nanti malam saja, kan sekarang kita mau ke bioskop." Rama mengecup lagi bibir itu, namun dengan sedikit gigitan.


'Cuma nempel aja enak banget sih, rasanya,' batin Sisil.


*


*


*


Semoga saja informasi yang Rama dapatkan pada artikel benar, yang mengatakan kalau bioskop itu hanya diperuntukkan untuk orang yang membawa pasangan. Kalau jomblo, berarti tidak dibolehkan masuk.


"Excuse me, sir, may I ask you a favor?" ("Maaf, Pak, boleh saya minta tolong sama Bapak?") tanya Rama pada sopir taksi online. Saat dirinya dan Sisil turun dari mobil.


"Please what, sir?" ("Tolong apa, Pak?") ujar sang sopir yang berwajah bule. Dia menatap wajah Rama.


Rama pun merogoh kantong celana jensnya, kemudian memberikan kartu nama Fuji kepadanya. "Please you call this number and say you got the number from me." ("Tolong Bapak hubungi nomor ini dan katakan Bapak dapat nomornya dari saya.") Menunjuk nomor Fuji. "Then also ask him what help he needs, because he had told me... that he was terrorized and had reported it to the police but there was no response." ("Lalu tanyakan juga dia butuh bantuan apa, karena dia sempat bilang sama saya ... kalau dia itu diteror dan sudah lapor polisi tapi nggak ada tanggapan.") tambahnya.


"Who is he, sir?" ("Memangnya dia siapa Bapak?") tanya pria itu lagi.

__ADS_1


"My friend, sir. But I myself can't help him to come. So just let him. ("Teman saya, Pak. Tapi saya sendiri nggak bisa membantunya untuk datang. Jadi biar Bapak saja,") jawab Rama. "But you take it easy ... I'll pay 500 thousand won. If you're willing to help." ("Tapi Bapak tenang saja ... aku akan bayar 500 ribu won. Kalau Bapak bersedia membantu.")


Sebagai seorang teman, Rama tentu akan bersedia membantu semampunya. Ya memang mampunya dia di sini adalah untuk membayar orang, bukan dari tegananya sendiri.


Rama sendiri tak mau ambil resiko, jika Sisil sampai tahu. Pastinya akan ada peperangan dan itu tidak boleh sempai terjadi.


Sisil yang berdiri di samping Raam sejak tadi diam dan mendengarkan. Hanya saja dia tak mengerti dengan apa yang mereka katakan.


"OK. OK, sir." Pria itu mengambil kartu nama tersebut. Dia pun menyetujui, tapi dengan catatan Rama mengirimkan pembayarannya terlebih dahulu. Biar dia percaya.


Setelah selesai mengirimkan uang kepada sang sopir, Rama pun merangkul bahu istrinya. Kemudian mengajaknya masuk ke dalam mall.


Sisil saat ini mengenakan dress panjang berwarna hijau tosca polkadot, tentunya dilapisi dengan jaket bulu.


Di Korea masih musim salju, tapi sekarang sudah tidak terlalu lebat turunnya seperti kemarin-kemarin.


"Om tadi ngomong apa, sih, sama driver?" tanya Sisil. Diam-diam dia juga penasaran, ingin tau apa yang Rama obrolkan.


"Nanyain harganya, Dek," jawab Rama yang kembali berbohong. Baginya ini tidak apa-apa, karena bohong demi kebaikan supaya Sisil tak marah.


"Lho, memangnya nggak kelihatan di aplikasinya? Bukannya ada nominal harganya, ya?"


"Aku nanya harga dari sini ke bandara. Ya basa basi aja sih, Dek." Rama mengecup pipi Sisil.


"Tapi kenapa Om kasih dia kartu? Dan kartu apa itu?"


"Kartu namaku, Dek. Udah nggak usah bahas driver. Kita fokus saja mau nonton film, kamu rencananya mau nonton apa nanti?" Rama menyelipkan anak rambut milik Sisil ke telinga sebelah kanan, sebab menghalangi wajah cantiknya.


"Film romantis Korea, Om. Dan kalau bisa sih ...." Sisil menarik leher Rama, supaya kepalanya turun. Lantas berbisik ke telinga kanannya. "Yang ada adegan ranjangnya."


Rama sontak terbelalak, seumur-umur dia belum pernah nonton bioskop dengan cerita yang memiliki adegan ranjang. Sebab dia sendiri lebih suka film aksi, ketimbang romantis. "Dih, janganlah, Dek. Itu sama saja kita nonton film p*orno."

__ADS_1


...Kelamaan bulan madu si Sisil, jadi otaknya ga jauh sama ranjang 🤣...


__ADS_2