
Tak lama berselang, Sisil pun keluar dari sana sembari menggelengkan kepalanya.
"Enggak ada, Kak. Semua toilet kosong," ucapnya memberitahu.
"Masa, sih, Sil?" Merasa tak percaya, Gugun pun akhirnya nekat masuk ke dalam tiga bilik kamar yang berada di dalam toilet itu. Dan ternyata memang kosong, tak ada siapa-siapa. 'Ke mana si Cantik? Kok nggak ada?' batinnya bertanya.
"Ayok keluar, Kak. Nanti takutnya dimarahin."
Sisil menarik Gugun untuk keluar dari toilet, dan pria itu pun langsung mencoba menghubungi Tuti lagi. Sayangnya, suara operator yang kembali terdengar seperti kemarin yang mengatakan kalau nomornya tidak aktif.
"Kakak ada masalah sama Mbak Tuti, ya? Kok Mbak Tuti bohong, sih, pasti dia udah pulang ini."
Gugun menggeleng. "Kakak nggak ada masalah, Sil, sama dia. Kakak sendiri bingung, nomornya juga dari semalaman nggak aktif."
"Kalau nggak ada masalah terus kenapa dia bohong coba?"
"Kakak nggak tau. Kamu sendiri punya nomornya Nona Tuti nggak? Kakak pinjam hapemu dong, buat telepon dia." Barangkali, dengan hapenya Sisil. Dia bisa menghubungi perempuan itu.
"Kayaknya aku punya deh, soalnya kemarin-kemarin dia sempat minta nomorku." Sisil mengambil ponselnya pada kantong dressnya, kemudian membuka benda pipih itu. Setelahnya dia berikan kepada Gugun. "Ini, Kak."
Gugun mengambil, lalu langsung menelepon Tuti. Dan ternyata, menggunakan nomornya Sisil justru nomornya Tuti dapat tersambung.
'Kok aneh, ya, giliran pakai nomorku nomornya malah nggak aktif terus,' batin Gugun bingung.
"Halo ...." Suara Tuti yang begitu lembut terdengar. "Nona Sisil maafkan saya yang lupa memberitahu, saya ada rapat mendadak jadi harus buru-buru ke kantor."
Mata Gugun langsung berbinar mendengarnya. "Sayang ... ini aku Mas Gugun. Kenapa dari kemarin kamu susah dihubungi? Ada apa, Yang?"
"Aku sibuk."
__ADS_1
"Sibuk ap—" Ucapan Gugun terhenti, saat panggilan itu diputuskan secara tiba-tiba. Dia pun kembali meneleponnya lagi, hanya saja sudah tiga kali tidak diangkat-angkat.
"Apa kata Mbak Tuti, Kak?" tanya Sisil penasaran.
"Dia bilang lagi sibuk, Sil. Jadi buru-buru ke kantor. Ini Kakak sekalian pinjam buat kirim chat ke dia juga, ya?"
"Silahkan, Kak."
*
*
*
Ting~
Sebuah notifikasi chat masuk berhasil Tuti dapatkan. Perempuan itu pun langsung membukanya.
Ting~
Pesan selanjutnya langsung masuk.
[Apa kamu marah sama aku? Tapi aku salah apa, Sayang? Ayok kita ketemu. Setelah pulang kerja, ya, sekalian bukber. Nanti aku jemput maniss .... I love you.]
Dua chat itu dari Sisil, tapi Tuti yakin—jika yang mengirimnya adalah Gugun.
Tuti hanya tersenyum miring, segera dia pun menghapus kedua chat itu tanpa membalasnya. Kemudian menyalakan mode pesawat pada ponselnya.
"Nona Tuti!"
__ADS_1
Seseorang memanggil, dan membuat langkah kaki Tuti terhenti di lobby kantor.
Dia pun menoleh, dan ternyata seorang perempuan penjaga resepsionis yang memanggil tadi. Perempuan itu pun lantas menghampirinya sembari mengulurkan tangannya memberikan sebuah buket bunga.
"Apa ini? Dan dari siapa?" Tuti terlihat heran, tapi dia menerimanya.
"Itu bunga dari pacar Anda, Nona. Kalau nggak salah namanya Pak Gugun Adiguna. Dia menitipkannya."
"Oohhh ... kapan dia kemari?" Tuti terlihat biasa saja, tidak seperti biasanya yang selalu berbunga-bunga saat mendapat buket bunga. Ada apa dengan Tuti sebenarnya?
"Tadi pagi, Nona. Dia sempat nungguin Nona, tapi karena Nonanya lama tiba di kantor ... akhirnya dia pergi," jawab perempuan itu.
"Kalau misalkan dia ke sini lagi ... bilang saja saya nggak ada di kantor ya, Mbak. Dan jawab saja nggak tau, kalau misalkan dia nanya lagi."
"Iya, Nona." Perempuan itu mengangguk. "Eh-eh, Nona Tuti!" panggilnya lagi yang mana membuat Tuti kembali menghentikan langkahnya.
"Ya?"
"Bagaimana kondisi Pak Rama sekarang? Apa kebutaannya nggak akan sembuh, Nona?" tanyanya penasaran.
"Kondisinya baik. Doakan saja semoga dia cepat pulih."
"Iya, Nona."
Tuti tersenyum, kemudian melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.
Namun, saat sudah sampai di dalam ruangannya, dia justru langsung membuang buket bunga itu ke dalam tempat sampah.
"Masih bisa-bisanya Mas ngasih aku bunga, sedangkan Mas sendiri sudah mendua!" geramnya sambil mengepalkan kedua tangan.
__ADS_1
...Nah lho, gimana itu Om Gugun 🙈...