Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
173. Hanya untuk saya


__ADS_3

"Apa kamu melecehkanku, Van?" tuduh Gisel dengan mata melotot. Tapi tubuhnya terasa menegang sekarang.


"Enggak." Evan menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong kamu! Ini buktinya apa? Ini?!" murka Gisel sembari nunjuk gaun serta apa yang dipakai pada tubuhnya.


"Saya serius, Nona. Saya enggak—"


"KELUAR SEKARANG!!" teriak Gisel kencang dan menunjuk pintu. Evan terlihat hendak bicara, tapi Gisel langsung menyergahnya. "KELUAR DARI SINI, EVAN!!"


PUK!!!


Sebuah bantal sudah mendarat diwajah Evan, ulah dari Gisel yang melemparkannya. Dan selanjutnya perempuan itu hendak melemparkan guling padanya, namun tidak berhasil mengenainya karena Evan sudah lebih dulu keluar dari kamar itu dan menutup pintu.


"Memang lebih bagus Nona Gisel itu tidur, karena kalau bangun begini macannya keluar." Evan menggerutu, lalu melangkah menuju sofa dan duduk sembari menyeruput secangkir kopi yang masih berada di tangannya.


Berselang 5 menit saja, pintu kamar Evan sudah dibuka secara kasar. Keluarlah Gisel yang sudah berganti pakaian, yakni pakaiannya sendiri.


Wajahnya terlihat memerah, tapi begitu kusut dan sepertinya memang dia hanya berganti pakaian saja, tanpa mandi. Langsung saja Gisel menghampiri Evan dan memegang lengannya.


"Ikut aku sekarang!"


"Ke mana?" Kening Evan mengerut.


Tanpa menjawab, Gisel sudah menarik tangan Evan sekuat tenaganya, sehingga pria itu kini sudah berdiri. Gegas, dia pun menariknya kembali untuk keluar dari apartemen.


*


"Pergi ke rumah sakit terdekat, ya, Pak!" perintah Gisel pada sang sopir taksi, setelah dia memaksa Evan untuk masuk ke dalam mobil.


"Baik, Nona." Pria berkemeja telor asin itu mengangguk, dan setelah melihat Gisel ikut masuk ke dalam mobilnya, dia pun segera melaju.


"Kita ke rumah sakit mau apa, Nona? Apa Nona sakit?" tanya Evan yang terlihat masih bingung kepada Gisel. Tapi jujur saja, ada rasa senang didalam dada karena perempuan itu menarik-narik tangannya. Meskipun tarikannya terbilang kasar.


"Aku mau divisum!" teriak Gisel di depan wajah Evan. Pria itu langsung menutup hidung dengan telinga yang terasa berdengung. "Kenapa tutup hidung begitu? Apa kamu nggak nanya, alasan aku divisum itu karena apa, hah?" bentaknya kasar.


"Napas Nona bau naga."


"Sembarangan! Mana ada aku bau naga!" sangkal Gisel marah. Dia pun langsung membekap mulutnya sendiri, lalu menghembuskan napas. Dan tiba-tiba perutnya terasa bergejolak. "Uuueekk!"

__ADS_1


Benar apa yang Evan katakan, dia sendiri bahkan mual mencium napasnya.


"Bener, kan, bau naga?" kekeh Evan. "Tapi nggak apa-apa kok ... meskipun bau naga saya tetap cinta," tambahnya sambil mengusap rambut Gisel.


"Cih!" Gisel berdecih sebal dan menepis tangan Evan. "Enggak sudi amat aku, dicintai sama mahluk jadi-jadian kayak kamu!" teriaknya.


"Enak saja jadi-jadian. Saya ini manusia, Nona."


"Pokoknya kalau aku terbukti sudah dilecehkan ... dengan tanganku sendiri aku langsung menyeretmu ke penjara, Evan!" ancamnya dengan emosi menggebu.


"Kenapa saya musti di penjara?"


"Pakai nanya, ya jelas kamu harus di penjara lah ... karena melecehkan itu adalah tindakan kriminal! Kamu ini tau undang-undang nggak, sih? Bodoh amat jadi orang!" sewot Gisel.


"Ya harusnya saya nggak perlu dimasukkan ke dalam penjara dong. Mending Nona minta saya tanggung jawab saja, karena saya pasti akan bertanggung jawab."


"Maksudnya, kamu mau nikahin aku gitu?"


"Iyalah."


"Nggak sudi! Mending aku jadi perawan tua! Daripada nikah sama kamu!" geramnya kencang.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, tapi tiba-tiba ada suara gemuruh petir beserta kilatannya. Meskipun hanya sesaat, tapi terdengar menggema dan membuat Gisel terkejut. Karena itu terjadi setelah dia membentak Evan.


"Bahkan alam semesta saja setuju, kalau Nona menikah dengan saya," ucap Evan dengan penuh percaya diri, Gisel pun mencebik.


*


*


*


Sekitar 30 menit menunggu setelah divisum, akhirnya hasilnya keluar juga.


Namun, Gisel terlihat tak percaya dengan apa yang tertera pada kertas tersebut. Yang menyatakan jika tak ada bukti dari pelecehan s*ksual.


"Dokter pasti salah. Ini hasilnya nggak bener." Gisel menggeleng cepat.


"Nggak bener gimana, Nona?" Dokter yang memberikan hasil itu tampak heran.

__ADS_1


"Masa disini tertera kalau nggak ada bukti aku diperk*sa? Jelas-jelas aku diperk*sa dalam keadaan tidur, Dok!" tegas Gisel yang yakin jika Evan sudah melakukan hal pada dirinya, meskipun pria itu berulang kali mengelak.


"Ya berarti Nona memang nggak dip*rkosa. Nona juga masih perawan."


"Ah nggak mungkin!" Gisel masih belum percaya. Dia pun segera menarik tangan sang dokter perempuan berambut keriting itu. "Aku ingin melakukan visum lagi, Dok. Aku yakin hasilnya salah."


"Hasilnya nggak salah, Nona." Dokter itu menahan tangan Gisel saat perempuan itu hendak membawanya masuk ke dalam ruangannya. Dia terlihat enggan menuruti permintaan Gisel, sebab baginya itu akan buang-buang waktu. "Itu sudah akurat. Saya jamin, Nona."


"Tapi aku nggak yakin dengan hasilnya, Dok. Aku pasti sudah dip*rkosa!" tegas Gisel yang masih bersikukuh.


Evan pun perlahan membuang napasnya dengan berat, lalu berdiri dari duduknya. "Nona ... bukankah saya sudah bilang kalau saya nggak melecehkan atau memperk*sa Nona. Apalagi sudah ada buktinya, dari hasil visum. Kenapa Nona masih belum percaya juga?"


"Bagaimana bisa aku percaya, sedangkan pas aku membuka mata gaunku sudah terlepas dan aku memakai kemeja orang lain. Yang aku yakin ... itu kemejamu, Van!" teriak Gisel dengan mata melotot.


"Itu semua memang ulah saya, Nona. Saya yang melepaskan gaunmu."


"KENAPA?!" Gisel langsung mendorong dada Evan dengan penuh emosi. Punggung pria itu sudah terhentak tembok, dan Gisel pun menghimpitnya sambil meremas dasi yang Evan kenakan. "Karena kamu sudah selesai melecehkanku, kan?!" tekannya sekali lagi.


"Bukan sudah selesai, tapi belum."


"Belum?!" Kening Gisel mengerenyit.


"Iya."


"Kenapa belum?!" teriak Gisel.


"Lho, kok Nona tanya kenapa? Harusnya Nona bersyukur dong ... saya belum memperk*sa Nona." Pertanyaan Gisel menang aneh. Wajar membuat Evan geleng-geleng kepala. "Ooohhh ... apa jangan-jangan Nona ingin saya perk*sa sekarang? Boleh kok, mau pakai gaya apa? Saya sudah pengalaman dibidang ini," tambahnya, lalu mengangkat tubuh Gisel dan berlari membawanya pergi dari sana.


"Enggak! Aku nggak mau!! Turunkan aku, Evan!!" teriak Gisel memberontak. Sampai parkiran akhirnya dia pun turunkan, karena Evan sendiri tidak mau membuat kegaduhan di rumah sakit.


"Saya minta maaf karena sudah khilaf dengan berani membuka pakaian Nona. Tapi semuanya belum sampai terjadi, karena saya berpikir ini bukan waktu yang tepat."


"Apa maksudmu?" Ucapan Evan terdengar ambigu. Gisel jadi bingung. "Apa kamu masih ada niatan memperk*saku? Tapi aku akan—"


"Saya akan melakukan hal itu lagi," sela Evan cepat. "Tapi kalau saya melihat Nona balikan lagi sama Pak Gugun atau berencana merebut Pak Rama dari Nona Sisil. Karena sejatinya saya sangat yakin ... Nona itu ditakdirkan hanya untuk saya."


Wajah Evan seketika mengiba, tapi ada ketulusan yang terpancar dari bola matanya. "Saya mencintai Nona, jadi mulai sekarang ... ayok kita pacaran lalu menikah. Saya juga akan berusaha supaya membuat Nona menjadi perempuan yang paling bahagia dimuka bumi ini," tambahnya lalu langsung menggenggam kedua tangan Gisel dengan erat. Diikuti suara jantungnya yang berdebar kencang sejak tadi.


...ini ceritanya mau ngancem apa nembak, Bang? 😂...

__ADS_1


__ADS_2