
Di apartemen Gugun.
"Kakak nggak kerja?" tanya Sisil yang baru saja keluar dari kamarnya, lalu duduk di sofa panjang di samping Gugun.
Pria itu memakai setelan kaos berwarna hitam. Bajunya santai tapi tangan dan matanya sibuk dengan laptopnya yang berada di atas meja.
"Kakak hari ini kerja di rumah. Sekalian menemanimu yang sedang dipingit." Gugun menjawab tanpa menoleh.
"Aku sendirian juga nggak apa-apa, Kak. Lagian agak siangan Citra bilang mau main, kita nanti mau nonton drakor bareng. Ada drakor terbaru soalnya."
"Kamu tuh kalau ada Nona Citra bukannya belajar bareng, malah nontonin mulu drakor. Nggak ada manfaatnya tahu, nggak. Pantes aja nilaimu jelek," komentar Gugun jengkel. Terkadang dia juga merasa bosan mendengar celotehan Sisil yang memuji-muji tokoh pria dalam dramanya itu.
"Justru nonton drakor itu banyak manfaatnya, Kak. Kakaknya aja yang nggak tahu. Padahal banyak ilmu yang bisa dipetik."
"Ah palingan juga nggak jauh-jauh adegan cip*kan. Ngerusak otak aja itu," gerutu Gugun.
"Nggak semua drakor tentang cip*kan, Kak. Ada tentang ilmu kedokteran, pengorbanan seorang ibu terus—"
"Itu hubunganmu sama Arya gimana?" Gugun langsung menyela ucapan Sisil dengan cepat. Sebab dia malas membahas masalah drakor yang menurutnya tidak penting. "Kamu sudah putusin dia belum? Kalau belum Kakak akan undang dia ke sini dan kalian akan menyelesaikannya di depan Kakak."
"Aku udah putusin dia kemarin, Kak," jawab Sisil.
"Kamu udah ketemu Arya kemarin?"
Sisil menggeleng. "Nggak, aku minta putusnya lewat chat. Tapi belum dibaca kayaknya."
"Oh ya sudah, lebih baik Kakak ...." Gugun hendak mengambil ponselnya di atas meja, ingin menghubungi Arya. Akan tetapi ucapan dan pergerakannya terhenti kala terdengar bunyi bel.
Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri, lalu melangkah menuju pintu untuk membukakannya.
__ADS_1
Ceklek~
"Apa Sisil ada di apartemen, Kak? Aku ingin bicara sama dia."
Di depan Gugun ada Arya yang tengah berdiri dengan mengenakan jaket jeans berwarna hijau army. Wajah lelaki tampan itu tampak merah menahan amarah, akan tetapi ada sisi kesedihan yang terlihat jelas pada bola matanya.
Gugun melebarkan pintu, lantas berkata, "Masuklah."
"Sil, kita nggak boleh putus. Kan kita mau menikah." Arya melangkah cepat masuk ke dalam, kemudian langsung memeluk tubuh Sisil dengan erat dan mencium keningnya.
Sisil cepat-cepat mendorong dada Arya. Gugun juga menarik lengan lelaki itu supaya duduk di sofa single di samping Sisil.
"Duduk yang benar, kamu 'kan bertamu di sini," tegurnya. Gugun pun duduk di samping Sisil, di tempat semula.
"Pokoknya kita nggak boleh putus dan kamu nggak boleh nikah sama orang yang bernama Om Rama. Kamu nikahnya sama aku, kan kita sudah merencanakannya." Arya meraih tangan kanan Sisil, lalu menggenggamnya dengan erat. Wajahnya itu tampak sendu.
"Rencana kita sudah gagal, Kak. Jadi lebih baik hubungan ini kita akhiri saja." Sama halnya seperti Arya, wajah Sisil juga terlihat sedih.
"Gagal gimana sih, maksudnya? Opaku dan orang tuaku 'kan sudah setuju. Kita tinggal cari tanggal yang tepat lalu menikah, itu saja," ujar Arya dengan enteng. Dari pembahasan yang dia katakan, ketahuan jelas jika dia belum tahu apa-apa. Sepertinya keluarganya belum jujur.
Sisil menggeleng cepat lalu menepis tangan Arya. "Sekarang Kakak pulang saja dan tanyakan lagi pada mereka untuk memastikannya. Benar nggaknya mereka setuju. Kalau jawabannya nggak, hubungan kita berarti sudah berakhir."
Bisa saja Sisil to the poin. Mengatakan langsung alasan utamanya. Hanya saja dia teringat ucapan Arga, yang memintanya untuk tidak mengadu domba. Sisil tak mau, jika karena dia mengatakan hal itu—hubungan Arya dengan Papa atau keluarganya jadi tidak baik.
Sisil juga tak mau disalahkan.
"Kalau jawaban mereka setuju, kamu tetap menikah denganku, kan?"
"Itu mustahil."
__ADS_1
"Mustahil gimana?"
"Arya ...," ucap Gugun sambil membuang napasnya dengan berat. Sejak tadi dia diam karena menghargai mereka berdua yang berbicara untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi, lama-lama dia menjadi gemas ingin ikutan. Apalagi Arya begitu kekeh tak mau putus dengan adiknya. "Maafin Kakak sebelumnya. Harusnya Kakak nggak perlu memintamu untuk menikah dengan Sisil."
Arya menoleh ke arah Gugun dengan kening yang mengernyit. "Kenapa memangnya, Kak?"
"Karena pria yang melecehkan Sisil mau bertanggung jawab. Orang tuanya pun sudah datang melamar dan menentukan tanggal. Jadi sekarang ... lebih baik kamu dan Sisil putus dan hiduplah dengan masing-masing. Kejarlah cita-citamu untuk bisa menjadi orang sukses. Dan menikahlah dengan perempuan yang sesuai dengan kriteria keluargamu," jelas Gugun panjang lebar. Kemudian merangkul bahu adiknya seraya mengelusnya dengan lembut. Dilihat gadis itu sekarang sedang menangis, dia merasa sakit hati dengan mengakhiri hubungan ini. Namun kalau tidak diakhiri, tetap saja dia juga akan sakit hati karena memang mereka tidak bisa bersama.
"Sisil dan Kakak bukan orang kaya, bisa dikatakan miskin. Sisil nggak cocok denganmu, Ar. Jadi akhiri saja," tambah Gugun dengan suara tegas.
"Aku nggak peduli tentang perbedaan status, bagiku semua manusia itu sama dan intinya aku sangat mencintai Sisil, Kak." Arya hendak menyentuh tangan Sisil lagi, akan tetapi gadis itu malah berlari masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu.
"Kamu memang nggak masalah, tapi keluargamu yang mempermasalahkannya. Lagian, kita juga nggak bisa menjamin ke depannya bagaimana. Bisa saja Sisil itu hamil anak Rama. Lalu bagaimana denganmu? Kakak nggak yakin kamu dapat menerimanya. Dan yang ada Sisil akan menjadi bahan cibiran keluargamu."
"Aku nggak peduli mau Sisil hamil anak Om Rama atau siapa pun. Tapi yang jelas hanya akulah yang mencintainya dengan tulus." Arya menyentuh dadanya yang terasa sesak. Matanya terasa panas. "Sisil juga sama-sama mencintaiku. Aku akan membuktikan kalau keluargaku mau menerima Sisil dan dia harus menikah denganku, bukan dengan Om Rama!" tegasnya dengan napas yang memburu. Perlahan Arya berdiri lalu mencium tangan Gugun. "Aku pulang dulu, assalamualaikum."
"Walaikum salam." Gugun mengusap kasar wajahnya, lalu menatap punggung Arya yang sudah menghilang dari hadapannya. "Kasihan sebenarnya aku sama Arya, aku tahu dia sangat tulus sama Sisil. Tapi mau bagaimana lagi? Memang sudah begini aturannya. Rama lah yang jauh lebih pantas bertanggung jawab, karena dia yang memperkosanya."
Beberapa menit Arya pergi, terdengar bunyi bel pintu apartemennya. Gugun lantas berdiri dan melangkah untuk membukakan pintu.
Ceklek~
"Selamat siang, apa benar ini apartemennya Nona Prisilla Adiguna?" tanya salah satu wanita di depan sana.
Ada dua wanita dewasa dan mereka memakai seragam yang sama, stelan baju berwarna biru navy dengan rambut yang disanggul. Wanita yang bertanya tadi membawa sebuah koper besar di tangannya.
"Benar." Gugun mengangguk. "Memangnya Mbak siapa?"
...Kalian udah follow IG Author belum? Kalau belum ayok follow @rossy_dildara...
__ADS_1
...besok Author mau nyebar undangan 😆 jangan bilang nanti ga pada datang pas hari H, dengan alasan bilangnya nggak diundang 😠...