Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
112. Pria baik dan pengertian


__ADS_3

"Saya ...." Belum sempat Gugun menjawab pertanyaan Gisel. Tapi tiba-tiba saja seorang pelayan wanita datang, pesanan mereka sudah sampai.


"Mohon maaf kalau lama, Pak, Nona," ucap pelayan tersebut seraya menyajikan apa yang dia bawa di atas meja. "Silahkan menikmati." Setelah itu dia membungkuk sopan, kemudian melangkah pergi dari sana.


"Kita makan dulu saja, Nona, saya sangat lapar," ucap Gugun lalu meraih sumpit. Kemudian meraih beberapa helai spaghetti di atas piring itu.


"Oke. Tapi nanti jawabannya harus mau ya, Mas," sahut Gisel dengan tatapan penuh harap.


Gugun tidak menanggapi, dia langsung fokus makan.


'Kalau aku dan Mas Gugun bisa pacaran, misiku untuk menghancurkan rumah tangga Mas Rama akan jauh lebih gampang. Ah semoga saja,' batin Gisel.


Dia pun meraih sumpit di dekat piring, lalu menyapit beberapa helai spaghetti dan memasukkan ke dalam mulut. Baru saja makanan itu dia kunyah dan hendak ditelan, tapi tiba-tiba saja Gisel tersendak.


"Uhuk! Uhuk!" Dia tersendak bukan tanpa sebab, tapi itu semua dikarenakan dirinya melihat Evan yang duduk di depannya. Di meja yang berada di depan.


Gisel tentu merasa terkejut, sebab perasaan sejak tadi diperhatikan meja itu kosong. Tapi entah datangnya dari kapan, pria itu tiba-tiba sudah ada di sana. Bahkan dengan ditemani secangkir kopi yang sudah tersaji di atas meja.


"Hati-hati makannya, Nona, nggak usah buru-buru," tegur Gugun. Dia pun memberikan segelas jus jambu milik Gisel kepadanya.


"Terima kasih, Mas, mendadak aku gugup saja karena belum mendengar jawaban Mas Gugun," jawabnya asal, kemudian meraih minuman itu dan menenggaknya sampai sisa setengah. 'Ngapain coba si Dukun ada di cafe ini? Apa jangan-jangan dia mengikutiku?' batin Gisel. Dia langsung menurunkan pandangan, sebab matanya terasa panas terus menatap Evan.


*


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun menyelesaikan makan siangnya. Sekarang tinggal menunggu bill datang.


"Silahkan, Pak, totalnya seratus ribu," ucap pelayan cafe yang menyodorkan bill, saat sudah menghampiri mereka lagi.


"Berarti satu orang lima puluh ribu, ya?" tebak Gisel. Perlahan dia pun merogoh tas jinjingnya, untuk mengambil dompet.

__ADS_1


"Biar saya yang bayar, Nona," ucap Gugun yang merasa tak enak. Gisel pun akhirnya memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas.


"Serius, Mas?" tanya Gisel dengan mata yang berbinar.


"Iya." Gugun mengangguk dan tersenyum, kemudian meraih dompet di dalam kantong celana lalu mengambil uang selembar seratus ribuan dan menyerahkan ke tangan sang pelayan.


"Uang pas ya, Pak, terima kasih," ucapnya, kemudian membereskan piring dan gelas.


"Sama-sama."


"Mas Gugun baik banget. Benar-benar pria idamanku," puji Gisel sambil tersenyum manis. Dilihat Gugun juga ikut tersenyum.


"Sama-sama. Sebagai seorang pria 'kan memang harus seperti itu, Nona. Masa makan bareng musti bayarnya masing-masing," sahut Gugun dengan santai.


Perlahan dia pun berdiri dan Gisel yang baru saja berdiri langsung menggandeng tangannya. Mereka pun akhirnya keluar dari cafe bersama.


Evan yang sejak tadi duduk mengopi terus memerhatikan mereka. Seperti dugaan Gisel sebelumnya, dia memang ada di sana karena membuntuti. Merasa penasaran dengan aktivitas apa saja yang dilakukan gadis itu.


Gegas, Evan pun ikut keluar dari cafe, menyusul mereka karena masih penasaran dengan hubungan keduanya dan keseharian Gisel.


"Kita 'kan sudah makan siang bareng, terus sempat mengobrol. Jadi sekarang Nona pulang saja, saya ingin kerja lagi soalnya," ucap Gugun ketika menghentikan langkahnya di area parkiran mobil kantornya.


"Lho, jawaban aku belum Mas jawab lho."


"Oh iya, aku sampai lupa," sahut Gugun. "Tapi maaf banget, Nona, sepertinya kita nggak bisa pacaran."


"Kenapa nggak bisa, Mas?" Raut wajah Gisel seketika sendu, tapi itu hanya dibuat-buat.


"Kita baru kenal, dan saya nggak ada perasaan apa-apa sama Nona," jawab Gugun dengan apa adanya.

__ADS_1


"Kan kita bisa jalani dulu, Mas. Dan aku yakin kalau seiring berjalan waktu ... Mas Gugun pasti suka sama aku. Karena aku saja sudah suka sama Mas sejak pertama kali bertemu." Gisel meraih tangan Gugun, lalu menggenggamnya dengan erat. Raut wajahnya pun terlihat memohon dan sedih, dia sangat berharap sekali jika dapat berpacaran dengannya. Karena hanya Gugun lah satu-satunya orang yang memberinya peluang untuk bisa melancarkan aksinya.


"Eemm ... bagaimana ya, Nona." Gugun terdiam dan berpikir keras. Seumur-umur, baru Gisel orang pertama yang menyatakan cinta kepadanya.


Sebaliknya Gugun juga belum pernah menyatakan cinta kepada seorang gadis. Itu dikarenakan rasa gengsinya yang sangat tinggi, ditambah dia juga merasa takut jika nantinya ditolak. Karena pasti akan sakit hati.


"Mas Gugun kok tega, sih, sama aku. Masa perempuan secantik aku Mas tolak? Katanya Mas memintaku untuk bisa move on," rayu Gisel yang masih berusaha untuk dapat meluluhkan.


"Tapi kenapa harus sama saya, Nona? Nona bisa cari pria lain. Yang ganteng dan kaya, karena saya nggak memiliki keduanya," jelas Gugun. Tak tega rasanya menolak perempuan, sebab dia juga paham bagaimana rasa sakitnya.


"Ya 'kan aku tertariknya sama Mas Gugun, bukan sama pria lain," jelas Gisel meyakinkan. "Kalau masalah ganteng dan kaya, aku nggak melihat semua itu. Aku bukan cewek matre, Mas, dan menurutku Mas Gugun itu ganteng. Bahkan lebih ganteng daripada mantan-mantanku," tambahnya melebih-lebihkan.


Gugun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia juga membuang napasnya berkali-kali. Merasa bingung untuk menjawab apa. "Bagaimana kalau kita berteman saja deh, daripada pacaran. Katanya Nona 'kan kepengen kita temenan," sarannya. Mungkin memang lebih baik berteman, karena kalau pacaran pasti banyak aturan.


"Nggak mau," rengek Gisel dengan gelengan kepala. Bibirnya langsung mengerucut. "Eemm ... begini saja deh, aku akan memberikan Mas Gugun waktu selama 3 hari. Mas boleh pikirkan hal ini. Mau menerimaku atau nggak, bagaimana?"


"Ya sudah, oke." Gugun mengangguki ucapan Gisel. "Tapi kalau misalkan saya menolak, Nona jangan marah, ya? Dan harus menerimanya."


"Aku berharap sih Mas menerimaku. Mangkanya dipikir baik-baik nanti. Tapi mulai sekarang kita temenan, dulu, ya? Aku seneng banget soalnya, bisa temenan sama Mas Gugun." Gisel mengangkat jari kelingking sebelah kanannya ke udara, Gugun pun segera menautkannya. "Terima kasih ya, Mas. Mas memang pria yang baik dan pengertian."


"Iya," jawab Gugun. Secara tiba-tiba, gadis itu pun memeluk tubuhnya. Dan sontak membuat semua pasang mata yang lewat terkejut. Mereka juga langsung saling berbisik satu sama lain, seperti menggosipi keduanya. "Sekarang Nona pulang, ya, saya mau kerja lagi," ucap Gugun seraya merelai pelukan. Dia juga merasa tak nyaman karena menjadi pusat perhatian.


"Iya." Gadis itu mengangguk. "Mas Gugun kerjanya hati-hati dan semangat."


Kemudian, secara tiba-tiba Gisel pun berjinjit dan dengan beraninya mengecup pipi kiri Gugun tanpa permisi.


Cup!


Pria itu sontak membelalakkan matanya. Antara terkejut dan heran, sebab yang dilakukan Gisel sangat cepat dan mendadak. Tapi tak dipungkiri, jantungnya pun seketika berdebar kencang.

__ADS_1


...Aku tau, banyak yang ga suka sama part-nya Gisel. Tapi mohon maaf, ya, karena ini memang udah alurnya. Soalnya bentar lagi akan memasuki konflik pertama 😂...


...Kalau ada yang mau baca diskip juga terserah, tapi palingan nanti bingung ke depannya 🤭...


__ADS_2