
"Saya mengenal Nona Gisel sudah lama, Pak. Semenjak Pak Rama belum menikah dengan istri pertamanya," jawab Evan.
"Kenal di mana, Van?"
"Bukan kenal di mana. Saya sendiri tidak berkenalan secara langsung, tapi saya tau ... kalau Nona Gisel itu sejak dulu terobsesi dengan Pak Rama."
"Terobsesi?" Kening Gugun terlihat mengerenyit. "Jadi Nona Gisel juga kenal sama Rama, Van?" Tentu ini adalah hal baru yang dia tahu, sebab Gisel sendiri memang tak cerita.
"Tentu kenal dong, Pak. Kan saya sudah bilang ... kalau dia terobsesi dengan Pak Rama. Sedari dulu dia suka sama Pak Rama, tapi tidak kesampaian. Jadilah dia seperti ini."
"Jadilah dia seperti ini itu maksudnya gimana, Van? Aku nggak ngerti." Gugun terlihat makin bingung dengan apa yang diucapkan Evan.
"Dia mencoba mendekati Bapak, sengaja karena ingin menganggu rumah tangga Pak Rama dengan Nona Sisil." Meskipun Evan belum tahu tentang fakta yang jelas, tapi dia yakin sekali—jika asumsinya itu benar. Sebab sejauh ini tebakannya tentang beberapa hal tak pernah meleset.
"Masa sih, Van?" Gugun masih tampak bingung. Antara yakin dan tidak yakin.
"Iya. Aku yakin itu, Pak. Mangkanya aku bilang sama Bapak buat hati-hati. Karena aku nggak mau, kalau nantinya Bapak menyesal."
"Tapi dia bilang ... dia mencintaiku, Van. Malah dia mau bunuh diri, kalau sampai aku putusin dia."
Secara tidak sadar, apa yang dikatakan Gugun membuat Evan tahu tentang hubungannya dengan Gisel yang sudah ditahap pacaran.
"Lho ... katanya Bapak dan Nona Gisel nggak pacaran? Kok bawa-bawa putus segala?"
__ADS_1
"Maaf, yang tadi itu aku berbohong, Van."
"Yang mana yang bohong?" Alis mata Evan bertaut.
"Yang bilang nggak pacaran. Sebenarnya aku memang pacaran sama dia, Van."
"Akhhh Bapak ...!" Evan mengerang pelan, tapi tampak jelas jika wajahnya itu menandakan rasa kesal. Dadanya pun seketika menjadi panas. "Putusin aja sekarang, Pak!"
"Caranya gimana, Van?"
"Lha, ngapain nanya? Tinggal ngomong aja putus, Pak, beres. Bapak telepon dia sekarang."
"Kan aku udah bilang tadi, kalau dia itu nggak mau aku putusin, Van. Kalau sampai itu terjadi ... dia nekat mau bunuh diri."
"Iya."
"Kenapa percaya? Dia pasti ngancem doang, Pak."
"Enggak ngancem, Van." Gugun menggelengkan kepalanya. Tentu dia ingat, momen dimana Gisel berlari menuju jalan, yang seolah-olah ingin menabrakkan diri. "Itu beneran. Dia pernah ingin nabrakin diri."
"Di mana?"
"Dijalan, dimobil. Dan sempat aku cegah."
__ADS_1
"Alaaah ... itu pasti pura-pura," cicit Evan dengan bibir yang menggeriting. "Bapak juga harusnya bisa membedakan dong, mana ucapan jujur dan mana ucapan bohongan. Itu cuma tipu daya wanita, Pak! Dan kita sebagai laki-laki harus berwaspada!" tegasnya dengan ngotot.
"Terus menurutmu, aku musti bagaimana, Van? Jujur ... aku juga mau putus sama Nona Gisel sebenarnya. Cuma aku bingung caranya gimana, supaya dia setuju dan nggak menyakitinya. Aku takut dia bunuh diri."
"Dia nggak mungkin bunuh diri, Pak!" Evan sedikit berteriak, karena gemasnya kepada Gugun yang terus mengatakan hal itu. Jelas dia yakin—jika Gisel tak akan bunuh diri hanya karena diputusi olehnya.
"Itu 'kan asumsi kamu, Van. Tapi aku sendiri nggak mau ambil resiko. Takutnya dia benar-benar nekat."
Evan langsung mengelus dada sembari membuang napasnya dengan gusar. 'Pak Gugun sepertinya nggak percaya dengan ucapanku. Padahal aku yakin banget, kalau Nona Gisel ada maksud lain mendekatinya. Dan jujur aku juga nggak rela ... kalau Nona Gisel berpacaran dengan orang lain,' batinnya.
"Kalau memang kamu benar-benar yakin, Nona Gisel ada maksud lain kepadaku. Setidaknya kamu harus bantuin aku dong, Van," ucap Gugun tiba-tiba yang menepis keheningan beberapa saat.
"Bantuin buat apa, Pak?"
"Ya biar aku bisa putus sama Nona Gisel. Tapi caranya bukan memintaku hanya sekedar menyuruh putus, karena itu nggak bakal ampuh."
"Maksudnya, Bapak memintaku untuk memikirkan sebuah rencana?"
"Ya apa pun itu, intinya kamu bantuin aku."
"Eemm ...." Evan langsung terdiam, mencoba mencari ide dan solusi disini. Tentu ini juga menguntungkannya. Karena dengan putusnya Gugun, dia bisa mendekati Gisel. "Bagaimana ... kalau kita jebak Nona Gisel saja, Pak?" usulnya yang sudah mendapatkan sebuah ide cemerlang.
"Menjebak? Menjebak gimana, Van?" tanya Gugun penasaran.
__ADS_1
...Naahh ... gimana tuh??😳...