Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
78. Om Rama benar-benar membuatku gila


__ADS_3

Ting! Tong!


Ting! Tong


Tiba-tiba, terdengar suara bel berdenting cukup keras. Entah siapa diluar sana, tapi Rama sama sekali tak memedulikannya. Dia fokus melakukan pemanasan sampai membuat Sisil luluh.


'Lama-lama aku bisa pipis enak lagi ini mah,' batin Sisil.


Selang beberapa menit, Sisil refleks mengangkat pinggulnya. Sebab sesuatu di dalam sana hendak keluar. Cepat-cepat Rama melepaskan ciuman, supaya dapat mendengar desahaan seksi sang istri.


"Aaahhh!" desah Sisil kencang, matanya tampak sayu dan napasnya langsung memburu.


"Enak, Dek?" kekeh Rama. Ternyata meskipun tak ada pengalaman dalam bercinta sebelumnya, Rama cukup handal juga untuk bisa memuaskan istri. "Katanya tadi nggak pengen? Kok keluar duluan."


Sisil seketika merona, kedua tangannya langsung menutupi wajah. Malu sekali rasanya, tapi dia seperti sudah kehabisan kata-kata. 'Om Rama mesum banget ih! Sebel aku sama dia.'


"Kalau malu-malu kayak gini kamu tambah menggemaskan, Dek, bawaannya aku nafsuu mulu jadinya." Rama menarik celana katun Sisil, berikut dengan celana dalamm berwarna merah mudanya.


Gadis itu masih diam membeku. Dalam hati dia ingin menolak, akan tetapi tubuhnya berkata lain. Bahkan seperti menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.


"Aku masuk ya, Dek," ucap Rama meminta izin. Dia pun membungkukkan badannya untuk mengecup kening Sisil, sembari berdo'a niat berhubungan badan dalam hati. Barulah setelah itu memasukkan burungnya ke dalam sangkar emas.


"Ah!" desah Sisil terkejut, saat merasakan inti tubuhnya terasa penuh oleh kejantanan sang suami.


Tak lama, tubuhnya dan kasur itu mulai terguncang oleh gempuran Rama. Berawal dari pelan, hingga cepat.


"Ini enak, Dek ... mmmm ...," desah Rama penuh semangat. Kedua tangannya langsung meremmas dada Sisil, lalu menyesapnya silih berganti seperti bayi yang kehausan.


Tangan Sisil yang semula menutupi wajah kini dengan sendirinya beralih untuk meremmas rambut kepala Rama. Rasanya benar-benar melayang ke udara, Sisil merasa sudah gila.


'Ini luar biasa. Om Rama benar-benar membuatku gila. Kenapa goyangan dia begitu mantap? Miliknya juga ... enak banget sih ini." Sisil membatin tak jelas. Napasnya terdengar memburu, matanya merem melek menikmati percintaan mereka.


***


Jakarta, Indonesia.

__ADS_1


Tuti berdiri di dekat tangga, dia menunggu Mbah Yahya turun.


Tadi, setelah berhasil mendapatkan foto Gugun, pria tua itu bilang ingin mandi dan menyuruhnya untuk pulang dulu.


Namun, Tuti justru tak pulang, dia malah ingin menunggu Mbah Yahya kemudian berencana ikut ke rumah prakteknya. Sebab dia juga ingin menyaksikan sendiri jika benar Gugun akan dikirim santet oleh Mbah Yahya.


"Bapak mau ke rumah praktek sekarang?" tebak.Tuti saat baru saja melihat Mbah Yahya turun dari anak tangga.


Pria itu terlihat sudah mandi dan rapih. Memakai jaket hitam, kaos hitam dan celana hitam. Hampir semuanya hitam. Hanya gigi, jenggot dan kumisnya saja yang putih sebab dia sudah gosok gigi.


"Eemm ... ya." Mbah Yahya seperti berpikir dulu sebelum menjawab. "Tapi nanti, sekarang aku ada urusan sebentar. Jadi mau pergi dulu." Mbah Yahya melangkahkan kakinya. Tuti langsung menyusul.


"Santet Pak Gugunnya kapan, Pak? Apa nanti malam? Sekarang saja," ujar Tuti yang terlihat tak sabar.


"Kan aku sudah bilang ada urusan dulu. Mending sekarang kamu pulang saja dulu, Tut. Nanti aku kabari kamu kalau mau melakukan praktek," saran Mbah Yahya. Dia menghampiri Yenny yang tengah menonton film, lalu berpamitan. "Daddy keluar sebentar, ada urusan sama pasien lama, Mom."


"Habis urusan Daddy beres, Daddy langsung ke rumah praktek?" tanya Yenny.


"Kayaknya sih iya."


"Iya, Sayang. Daddy juga kangen. Nanti kita tempur." Mbah Yahya seolah paham maksud sang istri. Setelah mencium keningnya dan Yenny mencium punggung tangan, barulah dia melangkah keluar dari rumah.


"Bener, ya, Bapak kabari saya. Tapi jangan malam-malam, Pak. Soalnya nanti saya pulangnya takut," ucap Tuti. Dia masih mengekori Mbah Yahya sampai mereka sama-sama berdiri di depan mobil hitam pada halaman rumah.


"Hubungan sama kamu pulang apa?" tanya Mbah Yahya bingung. Dia menoleh ke arah Tuti.


"Ya 'kan nanti saya ikut ke rumah prakteknya. Bapak ini aneh deh."


"Kamu nggak usah ikut, serahkan saja semuanya padaku." Mbah Yahya menepuk dadanya. Mencoba meyakinkan.


"Tapi nanti Bapak bohong lagi sama saya? Nggak jadi kirim santet?" Tuti tampak tak percaya, sebelum dia ikut menyaksikan. "Saya 'kan menyuruh Bapak bayar, bukan minta, Pak."


"Iya, aku tahu. Tapi siapa juga bohong, Tut? Aku 'kan orangnya jujur," jawab Mbah Yahya. "Udah, ya, kamu mending ke kantor saja. Urus pekerjaan Rama. Kan bosnya lagi bikin anak di Korea," saran Mbah Yahya. Lantas dia masuk ke dalam mobil ketika pintunya dibukakan oleh Evan. Pria itu sejak tadi memang ada di sana.


Setelah Evan ikut masuk ke dalam mobil, dia pun langsung mengemudikannya. Mobil itu melintasi jalan raya ibukota.

__ADS_1


"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Evan yang menatap Mbah Yahya dari pantulan kaca depan.


"Ke apartemen Gugun."


"Baik, Pak." Evan mengangguk.


Ting~


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi chat masuk yang berasal dari ponsel Mbah Yahya. Dia pun langsung merogoh kantong celana, lalu membuka isi chat pada ponselnya dan sontak membuatnya mengerutkan kening.


Isi chat itu adalah sebuah screenshot bukti transferan sebesar 10 juta, dari Tuti. Gadis itu juga menuliskan. [Setahu saya ... itu biaya untuk melakukan sekali santet. Kalau memang kurang, Bapak bisa kasih tau saya.]


'Serius banget ternyata si Kentut pengen santet Gugun, sampai sudah transfer. Tapi aku harus temui Gugun dulu ... untuk memastikan apa benar dia berniat melecehkan Tuti atau nggak,' batin Mbah Yahya.


Mengirim ilmu santet tentu bukan perkara yang mudah dan asal-asalan. Mbah Yahya tidak mau gegabah, apalagi itu ada hubungannya dengan rumah tangga Rama. Salah jalan sedikit, bisa-bisa Ramalah yang menjadi korban.


***


30 menit kemudian, mobil Mbah Yahya berhenti disebuah parkiran khusus mobil.


Setelah Rama dan Sisil menikah, satpam di apartemen itu tak banyak bicara atau melarangnya untuk masuk. Mungkin, Gugun sudah memberitahukan kalau dia sudah jadi bagian dari keluarganya.


"Kamu jangan ke mana-mana ya, Van. Aku hanya sebentar," ucap Mbah Yahya seraya turun dari mobilnya.


"Baik, Pak," jawab Evan.


"Eh, Pak Yahya ngapain di sini?" tanya seseorang yang baru saja turun dari mobil. Kemudian melangkah mendekat.


Mbah Yahya menoleh, kebetulan sekali dia adalah Gugun. "Aku kebetulan mau ketemu kamu, Gun. Tapi kamu habis darimana?" tanyanya balik.


"Saya habis dari kantor polisi, Pak. Ayok masuk kalau gitu," ajaknya. Pria itu melangkah lebih dulu, kemudian disusul Mbah Yahya yang langsung melangkah di sampingnya.


"Ke kantor polisi mau apa?" tanya Mbah Yahya penasaran.


...Mau apa kira-kira? 🤔...

__ADS_1


__ADS_2