
"Nona mau ke mana?! Aku belum selesai bicara, Nona!"
Melihat Tuti pergi begitu saja tanpa mengatakan hal apa pun, Gugun pun segera berlari mengejarnya tanpa peduli dengan lehernya yang perih akibat siraman kopi.
Tepat dipinggir jalan, akhirnya dia pun bisa menahan langkahnya.
"Semuanya udah cukup, Mas! Semuanya udah jelas! Aku kecewa sama, Mas!" berontak Tuti sambil menghentakkan tangannya, tapi karena begitu erat alhasil dia tidak berhasil terlepas dari Gugun. "Lepaskan aku! Aku mau pergi!" teriaknya.
Gugun langsung menariknya, lalu membawanya ke dalam dekapan. "Aku minta maaf, sungguh aku sangat menyesal. Tapi alasan—"
"Apa pun alasannya, harusnya Mas jangan menerima cintanya! Kalau memang Mas itu sudah lebih dulu mencintaiku!" tegas Tuti yang enggan mendengar penjelasan apalagi dari Gugun. Rasanya dia muak, hati pun terasa sangat sakit. "Atau paling tidak ... disaat Mas sudah terlanjur menjadi pacarnya, Mas jangan pernah memintaku untuk menjadi pacar Mas! Karena itu sama saja Mas bukan hanya mempermainkanku, tapi mempermainkan Gisel juga! Aku nggak nyangka ... ternyata Mas pria yang begitu tega. Mas sama sekali nggak memikirkan perasaanku akan bagaimana. Mas jahaaaatt! Hiikkss ..!!" Tak terasa, air mata Tuti bergulir membasahi kedua pipinya, dia menangis dengan masih berada dalam pelukan Gugun.
Gugun pun mempererat pelukannya, lalu mengelus puncak kerudung yang Tuti kenakan. "Aku harap kita jangan putus, Nona. Aku sangat mencintai Nona, dan aku sama sekali nggak mencintai Nona Gisel. Aku menerima cintanya karena awalnya dia memaksaku dan mengancam ingin bunuh diri, kalau aku nggak mau menerima cintanya. Salahku di sini kenapa aku malah mengiyakan, padahal jelas-jelas aku ...."
"Kita bahkan baru kemarin putus, tapi bisa-bisanya Mas sudah mendapatkan penggantiku!" teriak seseorang yang baru saja datang dengan langkah cepat. Dia tidak lain adalah Gisel.
Tuti pun langsung mendorong kasar tubuh Gugun, hingga pelukan itu terlepas. Melihat wajah Gisel, dia jadi sangat membencinya. Padahal dia sendiri tahu, kalau perempuan itu sama saja menjadi korbannya Gugun. Cuma mungkin bedanya dia selama ini setia, tidak seperti Gisel yang telah mendua.
"Silahkan kalau memang kamu ingin balikan lagi sama Mas Gugun! Karena aku bukan siapa-siapanya!" ungkap Tuti, lalu segera menyetopkan taksi yang baru saja lewat sembari mengusap air mata di pipinya.
"Nona ... Nona! Tolong berikan aku sekali kesempatan lagi untuk kita bersama!" Gugun menepuk-nepuk kaca mobil taksi, saat perempuan itu sudah masuk ke dalam sana. "Aku janji, aku akan memperbaiki semua yang telah aku lakukan padaku! Nona harus percaya padaku kali ini! Aku sangat mencintaimu!" pintanya memohon. Gugun bahkan sudah memegang gagang pintu mobil, namun sayangnya mobil taksi itu justru sudah keburu jalan dan begitu ngebut.
"Mas! Mas ini ngapain sih?!" Gisel mengerang kesal, lalu menahan tangan Gugun saat pria itu hendak melangkah.
Namun, sontak saja Gisel membulatkan mata lantaran terkejut melihat seluruh area kulit leher mantan pacarnya mengelupas dan begitu merah. Refleks dia pun merabanya dan langsung membuat Gugun meringis.
__ADS_1
"Leher Mas kenapa? Kok melepuh gini?"
"Ini bukan urusan Nona!" tegas Gugun yang tiba-tiba sewot. Dia juga langsung menarik tangan Gisel dan berjalan mundur. Tapi tatapan matanya begitu sengit. Secara tidak sadar dia menganggap Gisel lah alasan yang membuat hubungannya dengan Tuti hancur. "Aku sangat menyesal karena dulu telah menerima cinta Nona! Kalau tau akan begini, aku nggak akan melakukannya! Dan mulai sekarang sudah cukup! Kita juga sudah putus, jadi anggap saja kita nggak saling mengenal!" teriaknya kencang.
Gisel seketika terperanjat dalam posisinya, jantungnya pun ikut berdebar karena kaget dengan apa yang Gugun ucapkan. Dia juga tak menyangka, kalau Gugun bisa semarah itu padanya. Sampai-sampai membuat gendang telinganya sakit.
Setelah itu, Gugun lantas menaiki taksi yang baru saja lewat. Tanpa peduli dia meninggalkan Gisel seorang diri di sana.
"CK!" Gisel berdecak kesal, lalu berkacak pinggang. Sama sekali dia tak ada niat mengejar Gugun, apalagi dengan kondisinya yang terlihat emosi. "Harusnya aku di sini yang marah sama kamu, Mas! Karena selain kamu salah paham sama aku ... kamu juga tega karena sudah secepat itu mendapatkan penggantiku!"
"Pantes dulu Mas pergi ke rumah sakit tanpa mengajakku, pasti memang alasannya perempuan itu sudah merebut hatimu, kan?"
Gisel jadi teringat, saat hari dimana Rama masuk ke rumah sakit. Dia juga mengingat jelas ketika nekat mengikuti Gugun dan ternyata pria itu pergi bersama perempuan lain, yang ternyata adalah perempuan tadi.
*
*
Tuti benar-benar sudah tak mau lagi dengannya, dan tak mau memberikannya kesempatan meskipun hanya sekali.
"Apakah aku harus melepaskan Nona Tuti? Tapi aku sangat mencintainya ya, Allah. Setelah Nona Citra ... dialah perempuan yang membuatku terpikat." Bola mata Gugun berkaca-kaca, tapi segera dia mengusapnya sebab merasa malu jika menangis. Karena di depannya ada sopir taksi yang tengah mengemudi.
"Kita ke mana ini, Pak? Apa rumah sakit?" tanya sang sopir sambil menatap Gugun dari kaca depan mobilnya.
"Ke apartemenku saja, Pak. Lurus saja dulu, nanti aku beritahu," balas Gugun pelan, lalu menyandarkan punggung.
__ADS_1
"Tapi leher Bapak berdarah. Apa Bapak nggak takut infeksi?"
"Berdarah?!" Gugun langsung meraba sedikit lehernya, dan sontak dia terbelalak kala ujung ketiga jarinya itu terdapat sebuah darah segar dari kulitnya yang mengelupas. "Ah biarkan saja deh, Pak. Aku ingin langsung pulang." Gugun langsung mengusap sisa darah ditangannya ke jas, dia seakan tak peduli dengan kondisinya. Lagian apa yang terjadi juga ulah Tuti, jadi tidak masalah menurutnya.
"Kalau Bapak nggak mau ke rumah sakit, Bapak bisa pakai salep di dalam kotak obat milik saya." Karena merasa tak tega, sopir taksi itu pun akhirnya memberikan kotak obat yang dia punya di dalam dasbor.
"Enggak usah, Pak!" Nyatanya Gugun menolak. "Nanti juga kering dan sembuh sendiri," tambahnya dengan enteng.
"Tapi itu luka cukup parah, Pak. Seperti kena air keras, ya? Dan kalau nggak segera diobati bahaya lho, Pak."
"Biarkan saja lah, Pak!" Gugun menggeleng tak peduli. "Lagian kalau pun luka ini sembuh, tapi luka dihati pacarku tetap saja masih utuh!" tambahnya sambil menunjuk leher, sorotan matanya pun menjadi sendu.
"Bapak pasti sedang patah hati. Yang sabar ya, Pak." Akhirnya sopir taksi itu mengalah dan memilih untuk tidak memaksa. Meskipun sejujurnya dia tak tega, tapi dia juga takut jika lama kelamaan Gugun jadi marah dan memutuskan untuk berhenti di tengah jalan.
***
Di sebuah kamar ber-AC dengan cahaya remang-remang, Rama yang semula tengah tertidur di atas kasur kini perlahan mengerjapkan matanya yang terasa begitu berat, itu semua karena dirinya merasakan miliknya seperti tersedot sesuatu yang begitu basah.
Lantaran penasaran sekaligus tak dapat melihat dengan jelas, dia pun berinisiatif untuk menyentuhnya.
Tapi saat sudah menyentuh, bukan miliknya yang berhasil dia pegang, melainkan seperti kepala orang dan pada area rambut.
"Aahhh ... Dek, ini kamu, kan?" Rama refleks mendesaah oleh sendirinya. Sensasi yang dia rasakan benar-benar membuat sekujur tubuhnya meremmang tak karuan. "Tapi kamu sedang apa, Dek? Ngapain di bawah?"
...Waduuhh.... parah sih ini🙈...
__ADS_1