Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
25. Anak Mbah dukun


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Di rumah Arya.


"Ada apa, Ar? Tumben pagi-pagi kamu meminta Opa untuk datang? Dan mau apa sekarang?" tanya Ganjar bingung.


Dia yang baru saja turun dari mobilnya langsung ditarik-tarik oleh sang cucu. Kemudian Arya membawanya ke ruang keluarga yang sudah ada Papa dan Mamanya di sana.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada Opa, Mama dan Papa," ucap Arya dengan wajah sumringah. Belum apa-apa dia sudah senang duluan, sudah membayangkan kalau bisa menikah dengan Sisil.


Arya tak peduli tentang apa yang telah terjadi pada diri gadis itu, yang terpenting dia sangat mencintainya.


Ganjar pun langsung duduk di samping anak dan menantunya.


Arga nama Papanya Arya, sedangkan Ayya adalah nama Mamanya Arya. Mereka bertiga sekarang duduk berdampingan pada sofa panjang. Sedangkan Arya duduk di sofa single.


"Sesuatu apa?" tanya Arga penasaran.


"Aku ingin menikahi Sisil pacarku, Pa, Ma, Opa," ujar Arya memberitahu.


"Pacar?" Mereka berucap bersamaan dan terlihat sama-sama heran. Sebab mereka bertiga memang tak tahu jika Arya sudah memiliki pacar.


"Sejak kapan kamu punya pacar, Ar?" tanya Arga.


"Sudah tujuh bulan lebih, Pa. Ini fotonya, kalau Papa, Mama dan Opa mau lihat." Arya mengambil ponselnya di dalam kantong celana jeans, lalu memperlihatkan foto Sisil yang tengah makan di restoran bersamanya. "Cantik, kan?"


"Cantik." Mereka bertiga mengangguk, mengakui jika Sisil memang cantik.


"Tapi kenapa musti menikah?" tanya Arga. "Maksud Papa kenapa buru-buru, Ar? Kamu 'kan masih kuliah."


"Iya. Umurmu juga baru 23." Ganjar menambahkan.


"Memang kenapa kalau umurku baru 23, Opa?" tanya Arya. "Nggak apa-apa. Aku menikahi Sisil karena aku berniat serius."


"Usia 23 bagi laki-laki itu belum matang Arya," ucap Ganjar. "Belum pas kalau menikah. Minimal 26 tahun lah."

__ADS_1


"Si Sisil pacarmu juga masih kecil itu." Ayya membuka suara. Dia sama halnya seperti Papa dan suaminya, terlihat tidak setuju. "Masa kalian menikah muda? Nanti saja setelah kamu lulus kuliah."


"Aku nggak mau." Arya menggelengkan kepalanya. "Aku mau menikah dengan Sisil secepatnya, Ma, Pa, Opa. Aku nggak mau pacaran lama-lama. Takut dosa."


"Ini kamu yang ngebet pengen nikah, apa Sisilnya yang minta dinikahi?" tanya Arga.


"Atau jangan-jangan Sisil hamil duluan, ya?" tebak Ganjar.


"Wah, apa kamu pacaran sudah sampai ke situ-situ, Arya?!" Bola mata Ayya membulat sempurna.


"Dih nggak!" bantah Arya dengan gelengan kepala. "Sisil nggak lagi hamil. Dan aku sama dia pacaran nggak pernah berlebihan!" tegasnya jujur. Lalu membuang napasnya dengan kasar. "Aku cuma ingin hubunganku serius sama Sisil. Dan menikah dengannya. Itu saja. Aku ingin kalian merestui, Pa, Ma, Opa." Arya menatap mereka bertiga secara bergantian, dengan raut wajah memohon.


"Boleh, ya? Aku menikahi Sisil?" pinta Arya sekali lagi. Ketiganya langsung saling memandang dengan alis yang sama-sama terangkat.


"Sebelum menikahinya, ada baiknya kamu kenalkan Sisil pada kita dulu, Arya," saran Ganjar lalu menatap wajah cucunya.


"Aku akan membawa Sisil ke sini dan ke rumah Opa," jawab Arya. "Tapi rencananya aku ingin melamarnya, sebelum kami menikah. Bagaimana itu?"


"Jangan pikirkan masalah melamar dulu," sahut Arga. "Benar apa yang dikatakan Opamu. Dikenalkan dulu saja Sisilnya. Cocok atau nggak 'kan kami harus tahu. Menikah itu nggak bisa main-main Arya."


"Memangnya Sisil sakit apa?" tanya Ayya.


"Dia sempat ingin bunuh diri. Aku pergi dulu ya, Pa, Ma, Opa. Assalamualaikum!" seru Arya kemudian berlari pergi. Ketiga orang itu langsung merasa heran mendengar jawaban Arya tadi. Keningnya sama-sama mengerenyit.


"Sempat ingin bunuh diri?" kata Ayya. "Kok bisa?"


"Mungkin dia depresi kali, karena ingin menikah sama Arya," tebak Ganjar.


"Tapi kita musti lihat dulu Sisil itu anak siapa, jangan langsung restui Arya," ungkap Arga. "Aku ingin anakku menikah dengan anak orang kaya, Pa. Apalagi Arya itu 'kan anak laki-lakiku satu-satunya," tambahnya sembari menatap Ganjar.


"Iya. Kita lihat dulu," sahutnya sambil mengangguk. "Papa juga ingin berbesanan dengan keluarga yang sepadan."


***


"Kamu mau ke mana, Ram?" tanya Mbah Yahya yang tengah ngupil di ruang keluarga. Fokusnya hilang seketika lantaran melihat Rama lewat dan tercium begitu wangi.

__ADS_1


Selain itu dia juga begitu keren. Memakai celana jeans panjang berwarna hitam. Jaket jeans berwarna army dan kaos putih kotak-kotak.


"Aku mau ke salon, Dad," jawab Rama yang baru saja menghentikan langkahnya.


"Mau ngapain ke salon? Kayak cewek aja kamu." Mbah Yahya membuang upilnya ke sembarang arah. Lalu mengusap tangannya pada celana.


"Aku mau cukur rambut. Biar keliatan fresh. Aku juga mau cari jas untuk Kak Gugun di mall, biar nanti ada alasan supaya bisa ketemu Sisil, Dad." Rama sudah mempunyai niat dari hari ini, akan mencoba membujuk dan mendekati Sisil. Dia juga berharap, kalau Sisil sudah pulang dari rumah sakit supaya kondisinya jauh lebih baik.


"Oh, jadi diganti, jasnya si Gugun sama kamu?"


"Iya." Rama mengangguk sambil tersenyum. "Lumayan juga 'kan, Dad. Ada alasan nanti aku ketemu Sisil. Pasti Kak Gugun 'kan lagi sama dia."


"Iya. Semoga berhasil ya, Ram. Daddy tunggu kabar baiknya." Mbah Yahya mengusap bahu Rama lalu tersenyum.


"Amin." Rama mencium punggung tangan Mbah Yahya kemudian mengucapkan salam dan berpamitan. Hanya saja salam itu tidak Mbah Yahya jawab.


Mungkin sekitar 30 menit, setelah kepergian Rama. Tiba-tiba seorang satpam penjaga gerbang datang menghampiri Mbah Yahya yang meneruskan aktivitas mengupilnya itu.


"Pak Yahya, maaf menganggu," ucap pria berseragam hitam itu sembari membungkukkan badannya. Mbah Yahya langsung menoleh dan mengusap tangannya di sofa.


"Apa?"


"Diluar ada dua polisi yang mencari Pak Rama. Mereka juga memberikan amplop ini kepada saya, Pak." Pria itu mengulurkan tangannya memberikan sebuah amplop putih. Segera, Mbah Yahya mengambil dan membukanya.


"Apa-apaan ini?!" teriaknya dengan kedua mata yang melotot tajam, saat dimana dia membaca isi di dalam amplop itu yang ternyata adalah surat penangkapan Rama.


Gugun melaporkan Rama dengan kasus pemerkosaan adiknya. Pria itu bisa divonis paling lama 12 tahun penjara.


"Kurang ajar sekali Gugun dan Sisil ini. Berani-beraninya bermain dengan anak Mbah Dukun!" geramnya dengan emosi yang menggebu. Kertas di tangannya itu langsung dia remass dengan kasar. "Ambilkan aku air di dalam teko, lalu bawa keluar!" perintahnya pada sang satpam. Kemudian berdiri dan melangkah cepat menuju pintu.


"Bawa air untuk apa, Pak?" Pria berseragam itu berlari mengejar sang bos.


"Aku akan menyembur Polisi diluar. Cepat ambilkan aku air!" teriaknya murka. Mbah Yahya membuka pintu utama rumahnya, kemudian berlari keluar rumah.


...Nanti mereka marah lho, Mbah🤣 nanti Mbah yang malah di penjara 😟...

__ADS_1


__ADS_2