
"Memangnya Nona kenal, dengan adik iparku?" tanya Gugun heran.
"Enggak! Enggak kok!" Gisel langsung menggeleng cepat, supaya Gugun tak curiga.
"Terus kenapa mau ikut segala? Udah sekarang Nona turun ... aku buru-buru, Nona."
"Tapi 'kan adik ipar Mas akan jadi adik iparku juga. Dan kenapa justru aku nggak boleh ikut? Harusnya aku ikut, biar Mas bisa sekalian mengenalkanku pada keluarga Mas Gugun."
"Aku mohon ... Nona turun sekarang. Kalau memang Nona ingin aku kenalkan pada keluargaku, akan aku kenalkan. Tapi nggak sekarang." Gugun masih berusaha untuk sabar, meskipun dalam lubuk hati terdalam dia amat jengkel dengan kelakuan Gisel. Terpaksa juga dia berbohong akan mengenalkannya ke keluarganya, padahal sama sekali tidak akan Gugun melakukan hal itu. Sebab dirinya memang tak benar-benar serius dengan Gisel. "Dan aku juga paling nggak suka dengan perempuan yang nggak penurut, Nona," tambah Gugun dengan sebuah tarikan napas.
"Eemmm ... ya sudah deh." Karena tak mau Gugun marah, serta takut jika nantinya pria itu akan meminta putus lagi—Gisel pun akhirnya nurut untuk turun dari mobil. "Tapi Mas hati-hati dijalan. Aku cinta sama Mas dan aku nggak mau Mas kenapa-kenapa," ujarnya sambil melambaikan tangan.
"Iya." Gugun mengangguk dan terlihat menghela napas. Setelah itu dia pun menancapkan gas mobilnya untuk berlalu dari sana.
Melihat sang kekasih sudah pergi, Gisel pun segera berlari menuju sisi jalan untuk menstopkan sebuah taksi yang baru saja lewat.
Tidak masalah jika dia tidak ikut bersama Gugun, tapi yang pasti dia akan mengikutinya sekarang—supaya bisa tau di rumah sakit manakah Rama berada.
"Ikuti terus mobil di depan, ya, Pak! Pokoknya jangan sampai lolos!" perintah Gisel pada sang sopir taksi.
Pria berbaju telor asin itu lantas menganggukkan kepalanya. "Baik, Nona."
Drrrttt ... Drrrttt ... Drrrttt.
__ADS_1
Sebuah ponsel tiba-tiba bergetar di dalam tasnya, setelah Gisel berhasil mengambil benda pipih itu—tertera panggilan masuk dari Cemet pada layar.
Gegas, Gisel pun mengangkatnya. "Ya?"
"Nona ... tolong maafkan saya dan teman saya," ucap seseorang dari seberang sana. Nada suaranya terdengar lirih dan bersalah.
"Kenapa minta maaf?" tanya Gisel. Namun seketika saja, dia pun berpikir jika apa yang dialami Rama ada kaitannya dengan kedua anak buahnya.
"Saya dan Cimit malam ini nggak berhasil menculik Pak Rama. Tapi tolong berikan satu kali kesempatan lagi untuk kami, supaya Anda tidak membatalkan kerja sama kita."
"Kenapa nggak berhasil? Oh ... apa Mas Rama kecelakaan gara-gara kalian?" tuduh Gisel dan seketika saja emosinya naik ke ubun-ubun. "Aku bukannya sudah mengatakan kalau aku hanya meminta kalian untuk menculiknya, ya? Lalu membawanya ke hotel dalam keadaan nggak sadar. Tapi kenapa kalian justru mencelakainya?! Kurang ajar sekali kalian ini!" geram Gisel berteriak kencang. Dia betul-betul meluapkan emosinya.
"Maaf, maafkan kami. Tapi semua itu nggak akan terjadi kalau nggak ada seorang perempuan berhijab di sana, Nona, yang menarik tangan Pak Rama."
"Saya nggak tau. Tapi dia yang berusaha menyelamatkan Pak Rama saat kami sedikit lagi hampir membawanya. Harusnya semua ini berjalan sukses seperti semestinya. Tapi semua itu gagal gara-gara dia yang berusaha menolong."
"Ah payah!" Gisel berdecak kesal. "Sama perempuan saja kalian kalah. Badan kalian itu gede dan kalian dua orang. Masa kalah lawan satu cewek?!" geramnya.
"Meskipun dia cewek, tapi tonjokkannya begitu maut, Nona. Hidung saya jadi korban, sampai-sampai mimisan nggak berhenti-henti."
"Ah lebay!!" teriak Gisel dengan napas memburu. "Pokoknya, kalau sampai terjadi sesuatu pada Mas Rama ... kalian yang akan kuseret langsung ke kantor polisi!" tambahnya menggertak.
"Silahkan saja lapor, kalau berani. Paling Nona juga akan ikut terseret," ucap Cemet yang terdengar menantang.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kau ingin mengancamku, begitu, hah?!" sentak Gisel marah.
"Saya nggak mengancam. Tapi 'kan apa yang kami lakukan atas perintah Anda. Benar begitu, kan?"
"CK!!" Gisel hanya bisa berdecak, karena telah kehabisan kata-kata. Tapi apa yang dikatakan Cemet memang ada benarnya, kalau dia melaporkan anak buahnya, pasti dirinya juga ikut terseret.
Akhirnya Gisel pun memutuskan mematikan panggilan tersebut, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
*
*
*
Beberapa menit kemudian, mobil taksi yang Gisel tunggani itu berhenti di sisi jalan dekat sebuah rumah sakit besar. Dan di depannya sudah ada mobil Gugun yang berhenti duluan.
Pria berkumis lele itu pun turun dari mobil, lantas menghampiri seorang perempuan berhijab yang berdiri di dekat mobilnya.
"Siapa perempuan itu?" Gisel mengerutkan keningnya, sambil bertanya-tanya.
Yang Gugun temui tentulah seorang Tuti. Karena alasannya ke rumah sakit yang pertama adalah mengantar perempuan itu ke kantor polisi.
"Lho, apa-apaan ini?!" Gisel membulatkan matanya, ketika melihat Gugun sedang menangkup kedua pipi perempuan berhijab itu disertai senyuman yang merekah indah. Dan entah mengapa, dada Gisel pun menjadi panas sekarang.
__ADS_1
...Itu selingkuhan pacarmu, Sel 🤣 gih samperin...