Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
198. Dia tidur apa mati?


__ADS_3

"Setaaaannnnn!!" teriak Tuti menjerit ketakutan. Buru-buru dia turun dari kasur lalu menyambar hijab pashminanya, kemudian lari terbirit-birit keluar dari kamarnya.


Tuti berlari sampai keluar dari apartemen dan menghampiri seorang satpam yang menjaga gerbang. Dengan napas tersengal-sengal, dia pun langsung mengungkapkan apa yang dia lihat barusan.


"Pak! Ada setan di kamarku, Pak!"


"Setan?" Pria berseragam itu menoleh, keningnya terlihat mengerenyit.


"Iya ... setan, Pak!" Tuti mengangguk cepat. "Setan berkumis tebal. Bapak tolong usir dia dari dalam kamarku!"


"Tapi nggak mungkin ada setan, Nona." Satpam itu terlihat tak percaya.


Wajar, sebab selama ini tidak ada satu pun penghuni apartemen yang mengeluh jika di dalam kamar ada setan. Dan mungkin Tuti baru orang pertama yang mengatakannya.


"Kenapa nggak mungkin? Jelas aku melihatnya tadi kok."


"Setau saya ... bulan puasa itu 'kan setannya dipenjara. Jadi nggak mungkin ada setan, Nona."


"Aku serius, Pak, ada setan. Coba Bapak cek lebih dulu. Aku takut banget soalnya, aku nggak berani masuk ke dalam kamar," pintanya dengan raut ketakutan, lalu mengulas keringat yang bercucuran pada dahinya.


"Ya sudah, saya akan cek dulu sebentar." Satpam itu mengangguk. Tapi baru saja dia melangkah, tiba-tiba dia hentikan sendiri. Lantas menoleh ke arah Tuti. "Kok Nona diam saja? Ayok!"


"Ayok ke mana? Aku mau tunggu di sini saja, Pak, aku takut." Sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Tapi saya nggak hafal nomor kamar Nona di mana."


"Lantai 3 nomor 3, Pak," jawab Tuti memberitahu. "Tapi Bapak saja yang mengecek sendiri, aku mau tunggu di sini. Dan aku juga minta ... Bapak cek keseluruhan, jangan cuma kamar tidur. Karena bisa saja setannya ngumpet."


"Baiklah." Satpam itu mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Tuti.


"Bisa-bisanya ada setan di sini. Dan bisa-bisanya untuk pertama kali aku melihat setan." Tuti mengigit kuku ibu jarinya, sembari berjalan mondar-mandir dengan perasaan yang berkecamuk.


Namun, tiba-tiba dia pun jadi teringat dengan wajah pria yang dia anggap setan itu. Dan masih sangat jelas pada ingatannya.


"Tapi kok ... dipikir-pikir kenapa dia mirip sekali dengan Mas Gugun?" Tuti terdiam sebentar dengan gerakan kaki yang terhenti. Didetik selanjutnya dia pun menggeleng cepat.


"Ah enggak, cuma mirip. Mas Gugun kumisnya tipis, sedangkan pria tadi kumisnya cukup tebal. Dan wajahnya juga terlihat lebih tua dari Mas Gugun. Tapi kok ...." Tuti kembali mencoba mengingat-ingat.


"Apa kamu nggak benar-benar mencintai Gugun, Tut?" Pertanyaan itu kembali terbesit dalam ingatannya.


"Dia kok bisa tau Mas Gugun, ya? Dan tau namaku juga. Apa jangan-jangan dia benar-benar Mas Gugun? Tapi masa, sih, kok tubuhnya tembus begitu. Atau mungkin ...." Tuti pun jadi berpikir yang tidak-tidak dengan kondisi Gugun. Dan kembali dia geleng-geleng kepala.


"Enggak! Enggak mungkin! Mas Gugun pasti cuma sakit biasa, nggak mungkin separah itu sampai sudah menjadi arwah. Dia nggak mungkin meninggal, kan? Iya ... pasti nggak mungkin! Mas Gugun pasti masih hidup sampai sekarang!"

__ADS_1


"Nona ...," panggil seorang satpam tadi yang sudah kembali. Tuti langsung terperanjat diposisinya, lalu menatap ke arahnya.


"Bagaimana, Pak? Udah Bapak usir setannya?" tanya Tuti penasaran.


"Enggak ada setan kok, Nona. Mungkin cuma halusinasi Nona saja."


"Ih nggak, Pak!" bantah Tuti. "bener kok aku lihat setan. Itu Bapak sudah cari seluruh ruangan belum? Barangkali dia ngumpet di kamar mandi, Pak."


"Sudah saya cari kesemua ruangan, Nona, bahkan sampai kolong tempat tidur, sofa dan meja. Tapi enggak ada siapa-siapa di sana."


"Kok bisa, dia langsung menghilang begitu saja?" gumam Tuti yang merasa tak habis pikir.


***


Hari pun berganti.


Sisil keluar dari kamar Gugun, sehabis mandi dan berganti pakaian. Dilihat Gugun juga sedang tertidur karena habis sarapan dan minum obat.


"Dad ... aku titip Kakak dulu sebentar, ya?" pinta Sisil pada Mbah Yahya. Pria itu berada dikursi panjang seorang diri, sedang bermain ponsel.


"Memang kamu mau ke mana? Pulang?" Mbah Yahya langsung mengalihkan pandangan.


Sisil mengangguk. "Iya, aku mau pulang sebentar, Dad. Nanti ke sini lagi."


"Daddy di sini saja. Jagain Kakak."


"Daddy akan minta tolong Suster buat jagain Kakakmu. Ayok kita pulang dulu," ajaknya, lalu meraih tangan Sisil. Tapi perempuan itu malah menahan kakinya dan tidak mau melangkah.


"Daddy di sini saja, soalnya aku takut lama. Sebelum sampai rumah aku mau mampir ke kantornya Aa dulu."


"Mau ngapain ke kantornya Rama? Memang Rama udah kerja lagi?"


"Bukan. Tapi aku mau menemui Mbak Tuti, Dad."


"Mau ngapain nemuin Tuti?"


"Aku mau nanya, kenapa dia dari kemarin nggak datang buat jengukin Kakak. Aku chat pun nggak dibalas, padahal kata Aa ... dia sudah memberitahu kalau Kakak masuk rumah sakit. Eh tapi Mbak Tuti justru merespon dengan cuek. Aku jadi makin curiga ... kalau mereka sebenarnya sudah putus."


"Kamu udah nanya belum sama Gugunnya? Paling mereka itu lagi berantem masalah sepele."


"Udah, tapi Kakak nggak ngaku. Sedangkan akunya penasaran, Dad."


"Ya udah, mending kita—"

__ADS_1


"Pagi Sil, Pak Yahya," sapa Hersa yang baru saja datang menghampiri mereka. "Bagaimana dengan keadaan Gugun?"


Dia datang karena ingin menjenguk Gugun, bahkan tangannya pun kini memegang parsel buah.


Keduanya itu langsung menoleh.


"Pagi juga, Kak." Yang menjawab hanya Sisil. "Kebetulan ada Kak Hersa. Aku titip Kakakku sama Kakak saja, ya? Soalnya aku sama Daddy mau pulang dulu sebentar buat ngambil baju ganti."


"Oh gitu. Iya, Sil." Hersa mengangguk, lalu menatap ke arah pintu kaca.


"Kakak langsung masuk saja, tapi jangan berisik. Soalnya Kakakku baru aja tidur. Dia semalam kurang tidur."


"Iya, Sil." Hersa mengangguk, kemudian perlahan membuka pintu. "Kalian hati-hati dijalan."


"Iya, Kak." Sisil pun langsung melangkah, kemudian disusul oleh Mbah Yahya.


*


Setelah kepergian Mbah Yahya dan Sisil, serta masuknya Hersa ke dalam kamar, tak lama Tuti pun datang bersama seorang suster yang mengantarkannya untuk memberitahukan letak kamar rawat Gugun.


Dia tahu Gugun dirawat di rumah sakit itu karena Sisil semalam mengirim chat padanya, memberitahukan. Hanya saja tidak dengan letak kamarnya.


Ingin bertanya pun rasanya gengsi, terlebih alasan Tuti datang cuma sekedar ingin melihat Gugun saja, ingin memastikan jika kondisinya baik-baik saja. Karena dia juga masih kepikiran setan yang mirip dengan Gugun.


"Ini kamar rawat Pak Gugun Adiguna, Nona," ucap Suster sambil menunjuk.


"Iya, Sus, terima kasih."


"Sama-sama." Suster itu tersenyum, kemudian berlalu pergi.


Tuti pun melangkah dengan perlahan mendekat pada pintu, lalu melihat ke arah pintu kaca dan melihat Gugun dari dalam sana.


'Kok Mas Gugun merem? Dia tidur apa mati?' batin Tuti yang tiba-tiba takut. Otomatis kalau pria itu mati, setan yang semalam dia lihat memanglah benar arwahnya Gugun.


Tuti pun dengan nekat karena masih penasaran akhirnya membuka pintu kamar itu, lalu masuk ke dalam. Gugun terlihat hanya seorang diri, tidak ada siapa pun di sana.


"Kok dia sendirian? Di mana Nona Sisil dan Pak Rama? Apa mereka pergi sebentar?" gumamnya sambil celingukan.


Dengan ragu-ragu, Tuti pun melangkah menuju ranjang. Tangannya pun perlahan terulur di dekat hidung Gugun. Dia hanya sekedar ingin mengetahui jika pria itu masih bernapas atau tidak.


"Alhamdulillah ...." Tuti pun menghembuskan napasnya dengan lega, saat masih ada udara yang dia rasakan. Tapi sorotan matanya itu langsung terjatuh pada leher Gugun yang terlihat mengelupas. "Kenapa dengan lehernya? Kok merah?" tanyanya pada diri sendiri, sembari mengerutkan dahi.


"Eemmm ...." Gugun tiba-tiba bergumam dan sontak membuat Tuti terperanjat. Kemudian pria itu terlihat mulai membuka matanya.

__ADS_1


...Pasti Om Gugun langsung berbinar-binar nih 🤣🤣...


__ADS_2