
"Boleh boleh aja. Tapi Sisilnya masih lemes nggak?" tanya Gugun menatap adiknya yang sejak tadi senyum-senyum memperlihatkan wajah Arya. "Kalau masih lemes, nggak usah dipaksa."
"Nggak kok, Kak." Sisil menggelengkan kepalanya. "Aku sudah sehat sekarang. Aku juga mau mengenal keluarga Kak Arya."
"Oh ya sudah kalau begitu." Gugun mengangguk lalu mengusap puncak rambut adiknya. "Kalian pergi saja sekarang, mumpung nggak terlalu panas. Tapi pulangnya jangan malem-malem, ya?"
"Iya." Arya mengangguk. "Paling nanti aku sekalian mengajak Sisil nonton. Soalnya mumpung hari Minggu juga, kan, Sil? Mau 'kan kamu nonton bareng sama aku?" Menatap ke arah pacarnya. Sisil langsung mengangguk pelan dengan wajah malu-malu.
"Manis banget sih kalian. Bikin Kakak iri saja," kekeh Gugun. Dia merasa ikut bahagia, melihat Sisil yang tampak bahagia. "Ya sudah, sana pergi naik taksi. Kakak mau ke kantor polisi, mau lihat perkembangan kasus Sisil."
"Iya, Kak." Arya meraih tangan Gugun dan mencium punggung tangan. Sisil juga melakukan hal yang sama tetapi sambil memeluk tubuh Gugun juga.
"Kakak do'akan aku, ya, semoga orang tua dan keluarga Kak Arya setuju," pinta Sisil berbisik. Lalu menitipkan buket bunga di tangannya kepada Gugun.
"Itu pasti. Kakak akan do'akan yang terbaik untukmu," jawab Gugun.
Setelah melepaskan pelukan. Gugun pun melambaikan tangannya ketika Sisil dan Arya melangkah menuju seberang jalan. Dia melihat duanya sampai masuk ke dalam mobil taksi dan berlalu pergi.
'Semoga semuanya berjalan lancar ya, Allah. Yang aku inginkan hanya Sisil bahagia. Hanya dia satu-satunya yang aku punya sekarang, setelah Nona Citra yang sudah dimiliki Pak Steven,' batin Gugun sambil tersenyum getir. Kemudian melangkah menuju mobilnya dan masuk.
Ting~
Terdengar bunyi notifikasi chat masuk dari ponselnya. Saat dilihat ternyata itu dari Pengacara Harun.
[Siang Pak Gugun. Saya sedang ada di kantor polisi dan ternyata pelayan restoran telah berhasil diamankan. Sebaiknya Bapak datang ke sini, karena kita akan mendengar pengakuan darinya.]
[Oke, Pak. Aku akan segera ke sana.] Gugun membalas. Pas sekali, dia memang berencana akan datang ke kantor polisi sekarang juga. Sekalian ingin tahu, Rama sudah berhasil ditangkap atau belum.
*
*
__ADS_1
Namun, sebelum Gugun sampai—Mbah Yahya lah yang lebih dulu sampai bersama seorang pengacara yang sudah dia bayar.
Sebelumnya itu, Mbah Yahya datang ke apartemen Gugun dulu. Akan tetapi tak ada dia atau pun Sisil. Jadi dia berencana ke kantor polisi saja langsung, sekaligus memberikan bukti supaya Rama tak berhasil masuk ke jeruji besi.
Baginya, ini bukan sepenuhnya kesalahan Rama. Sebagai Daddy yang baik dan menyayangi anak laki-laki satu-satunya, Mbah Yahya tentu akan berada di garda paling depan. Yang akan membantu mengatasi masalah Rama.
"Kalian telepon Gugun! Bilang padanya kalau aku ingin adu jotos!" seru Mbah Yahya sambil menonjokkan kepalan tangannya.
Datang-datang ke ruang keluhan, dia langsung marah-marah. Bicara pun sambil muncrat-muncrat.
Kedua polisi yang ada di sana, juga seorang lelaki asing yang disamping Harun, semuanya tampak terheran-heran dengan tingkahnya itu. Keempat kening mereka bahkan sama-sama mengerenyit.
"Jangan adu jotos, Pak!" balas pria berkumis tebal yang berbisik di telinga Mbah Yahya. Namanya Idris, dia adalah pengacaranya.
"Kenapa emang?" Mbah Yahya berbalik tanya dengan nada rendah.
"Nanti Bapak yang ada ditangkap. Kan kita datang supaya Pak Rama berhasil dibebaskan oleh tuduhan," jelas Idris.
"Maaf, Bapak siapa dan ada perlu apa?" tanya salah satu polisi yang menatap ke arah mereka berdua. "Kenapa datang langsung marah-marah?"
Mbah Yahya melangkah mendekat ke arah meja Pak Polisi. Kemudian menarik lengan lelaki yang duduk di samping Harun supaya dia menyingkir dari kursi.
Padahal, lelaki itu adalah pelayan restoran, yang baru saja berhasil ditangkap. Kedua tangannya saja saat ini sudah diborgol.
Mbah Yahya langsung duduk di kursi bekas bokong lelaki tadi, kemudian berkata, "Namaku Yahya Ardiyansyah. Kalau umur ... aku sendiri lupa, aku lahir juga nggak tahu dimana tapi yang pasti oleh dukun beranak. Aku mempunyai istri bernama—"
"Lho, kok Bapak memberitahu tentang biodata Bapak, sih?" Pak Polisi itu berdecak kesal mendengar apa yang diucapkan pria berjenggot putih itu. Baginya, itu tidak penting. Tidak perlu juga untuk diperjelas.
"Kan Bapak tadi tanya aku siapa? Ya aku jelaskan lah," balas Mbah Yahya dengan wajah keki.
"Iya. Tapi cukup nama saja, nggak perlu umur dan sebagainya."
__ADS_1
"Sekarang, alasan Bapak datang ke kantor polisi itu apa?" tanya Pak Polisi yang satunya. Yang memiliki tahi lalat di dagu.
Mbah Yahya langsung menoleh ke arah Idris yang berada di sampingnya. "Berikan surat penangkapan dan hasil cek Rama, Dris," titahnya.
Sang pengacara mengangguk. Dia lantas membuka tas jinjing berwarna hitam miliknya, kemudian memberikan surat penangkapan Rama dan sebuah amplop putih. Menaruhnya di atas meja.
Salah satu polisi itu membaca apa saja yang Idris berikan. Akan tetapi, dia merasa heran dengan alasan Mbah Yahya menyerahkan semua itu.
"Maksudnya apa ini, Pak?" tanyanya bingung.
"Tadi pagi, ada dua polisi dari Kapolsek ini yang datang ke rumah untuk menangkap Rama anakku. Gugun lah yang melaporkannya," jawab Mbah Yahya. "Sekarang ... aku ingin memberikan bukti dari hasil tes kesehatan Rama. Yang membuktikan Rama ini impoten. Bapak pasti mengerti apa itu impoten, kan?"
"Burungnya nggak bisa bangun?" Polisi itu menyahut dengan sebuah pertanyaan. Mbah Yahya langsung mengangguk cepat.
"Ya. Memang Rama selama ini mempunyai penyakit impoten. Tapi pada malam dia bertemu Sisil yang sedang mabuk ... burungnya justru berdiri. Itu semua karena Sisil lah yang lebih dulu menggoda Rama. Dia membuka seluruh pakaiannya hingga bugil! Dia juga yang duluan mencium bibir Rama hingga Rama ikut terbuai, Pak! Jadi di sini bukan Rama lah yang memperkosa Sisil. Tapi Sisil lah yang menggoda sampai mereka bercinta dan mendessah bersama!" jelas Mbah Yahya panjang lebar.
Sebenarnya, dia tak mau dan merasa malu jika memberitahu Rama impoten. Hanya saja menurutnya, cuma ini jalan satu-satunya Rama untuk bisa terbebas dari jeratan hukum.
Apa yang diungkapkan pria itu bertepatan dengan Gugun yang baru saja datang. Jelas sekali dia mendengarnya.
"Enak saja Bapak kalau bicara! Sisil nggak mungkin berbuat seperti itu!" tegasnya dengan mata melotot. Gugun tampak tak terima adiknya dianggap menggoda Rama. Padahal, memang itulah kenyataannya. "Sisil adalah perempuan baik-baik. Dia nggak mungkin menggoda seorang pria apalagi pria tua macam Pak Rama!"
"Jaga bicaramu, Gun!" teriak Mbah Yahya murka. Dia sama-sama tak terima. Segera dia berdiri dan melangkah cepat menghampiri pria berkumis lele itu. Kemudian tak lama, sebuah tamparan maut dia lakukan pada pipi kiri Gugun.
Plak!!
"Aaakhh!" ringis Gugun.
Sakit, panas dan perih bercampur menjadi satu. Bahkan sudut bibir kiri Gugun sampai mengeluarkan darah segar karena sangking kuatnya tamparan itu.
...Bagaimana rasanya, Om Gugun? Enak? 🤣...
__ADS_1