
Ting, Tong!
Terdengar bunyi bel dari dalam ruangan. Tuti yang tengah sibuk dengan laptopnya itu hanya menyeru tanpa mengalihkan pandangannya.
"Masuk!"
Ceklek~
Pintu itu pun langsung dibuka, sebab memang tak dikunci. Perlahan seseorang masuk ke dalam ruangan dan kembali menutup pintu.
"Assalamualaikum, Sayang ... maaf kalau aku menganggumu," ucapnya dengan lembut.
Degh!
Jantung Tuti sontak berdegup kencang, mendengar suara yang terdengar begitu familiar. Sorotan matanya pun langsung berpindah pada pria di depannya yang ternyata adalah Gugun.
"Mas Gugun ...." Tuti membulatkan matanya, saat pria itu sudah duduk di sofa yang berada di dekat meja kerjanya. 'Kok bisa, dia ada di sini? Apa mungkin aku mimpi?' batinnya sambil mengucek kedua mata.
"Kamu kenapa, Yang? Kelilipan?" Gugun mengerutkan keningnya. Buru-buru dia bangkit lagi, lalu menghampiri pacarnya. Tangannya terulur dan menangkup kedua pipi.
"Mas ngapain ada di sini?!" tanya Tuti sedikit keras sambil menampik tangan Gugun dari pipinya. Wajahnya kini sudah memerah. Antara merona dan marah. Dadanya pun ikut bergemuruh sekarang.
"Maaf, apa Masmu ini menganggumu, Yang? Aku sengaja datang ke sini karena—"
"Keluar sekarang!" sergah Tuti cepat sembari menunjuk pintu.
__ADS_1
"Keluar?!" Kedua alis mata Gugun tampak bertaut. "Kamu mengusir ak—"
"Ya! Aku bilang keluar sekarang!" teriak Tuti sambil melotot.
Gugun langsung membulatkan mata, tentu dia terkejut sebab baru pertama kali menurutnya Tuti berteriak kepadanya serta melototinya. "Kamu kenapa, Yang? Ada apa? Apa aku punya salah sama kamu?"
"CK!" Tuti berdecak, lalu berdiri. 'Masih bisa-bisanya dia belum sadar salahnya dimana! Memang dasar pria br*ngsek Mas Gugun ini!' batinnya kesal.
"Yang ...." Gugun dengan takut-takut meraih tangan Tuti, lalu menggenggamnya dengan erat. Jujur saja, pria itu begitu takut melihat pacarnya itu marah. Firasatnya pun menjadi tidak enak. "Aku minta maaf kalau aku punya salah, tapi tolong jelaskan padaku ... apa salahku padamu, Yang? Kenapa kamu jadi berubah begini?"
Tuti langsung menampik, lalu melangkah cepat menuju pintu dan membukanya dengan lebar. Ternyata diluar sana ada dua orang satpam yang berdiri di depan pintu, mereka tampak terdiam melihat wajah masam Tuti.
Kedatangannya ke sana karena berniat mengusir Gugun, tapi keduanya memilih diam dulu sebab menunggu perintah dari Tuti secara langsung.
"Masing-masing?!" Gugun terbelalak. Dia pun langsung berlari menghampiri Tuti. "Apa maksudnya? Kenapa kayak gitu? Kita 'kan ada rencana buka bersama sekarang, Yang. Aku juga ingin mengajakmu nonton bareng."
"Aku mau kita putus, Mas!"
"PUTUS?!" Bola mata Gugun seperti hendak keluar, karena sangking terkejutnya. Jantungnya pun makin berdebar kencang. "Enggak! Aku nggak mau, Yang! Ngapain juga kita putus?!" Segera, dia pun memeluk tubuh Tuti dengan erat sembari menghirup aroma tubuhnya yang begitu wangi.
"Lepaskan aku, Mas!" teriak Tuti memberontak. "Aku bilang pergi dari sini! Aku benci sama kamu, Mas!"
"Apa salahku, Yang?! Tolong beritahu aku, jangan begini," pinta Gugun memohon.
"Tolong usir dia dari sini, Pak!" perintah Tuti menatap kedua satpam yang sejak tadi tak bergeming. Dia sengaja meminta tolong karena dirinya begitu kesusahan melepaskan tubuh Gugun yang memeluknya sangat erat.
__ADS_1
"Sayang enggak! Aku nggak mau! Jangan usir aku dan aku nggak mau kita putus!" tegas Gugun yang berusaha menahan diri, tapi akhirnya tubuhnya berhasil ditarik secara paksa oleh kedua satpam itu hingga menyeretnya keluar dari ruangan. "Aku mohon ... jelaskan apa salahku di sini, sampai kamu ingin memutuskan hubungan kita. Aku sangat mencintaimu, Yang!"
"Apakah Mas sampai detik ini belum sadar juga?!"
Ucapan dari Tuti menghentikan gerakan kaki kedua satpam itu. Begitu pun dengan tubuh Gugun yang sedang diseret.
"Itu semua karena Mas menduakanku!" teriaknya kencang penuh amarah. "Aku benci sama Mas Gugun! Sangat-sangat benci, Mas! Mas pria br*ngsek dan nggak punya hati!" tambah Tuti dengan penuh penekanan. Matanya melotot dan kedua tangannya mengepal.
"Menduakan??" Gugun tentulah terkejut mendengar apa yang Tuti lontarkan. "Siapa, siapa yang menduakanmu, Sayang? Aku nggak pernah menduakan Nona sama sekali! Aku bisa menjelaskan semua!"
Brak!!
Pintu ruangan itu langsung dibanting secara kasar oleh Tuti, pertanda jika dia benar-benar muak dan baginya penjelasan itu sudah tak ada artinya. Tuti benar-benar sudah kecewa.
"Kenapa baru sekarang, saat aku sudah mengatakan Mas menduakanku ... baru Mas ingin menjelaskannya? Kenapaaaa?!" teriak Tuti sambil menonjok pintu. Bola matanya tampak berkaca-kaca dan perlahan air matanya jatuh membasahi kedua pipi.
Tuti menangis, tubuhnya pun beringsut jatuh hingga terduduk di lantai.
"Harusnya kalau memang Mas sudah bosan padaku, tinggal bilang saja apa susahnya! Tapi nggak perlu pakai selingkuh segala. Karena aku sangat benci dengan pria yang tukang selingkuh! Mas sama saja seperti Ayah dan Kakak iparku! Sama-sama pria yang br*ngseeekkk ...!!!" jeritnya tersedu-sedu.
Kalau boleh jujur, Gugun adalah satu-satunya pria yang jadi kekasihnya yang berhasil membuat air matanya tumpah.
Terbukti jika itu semua dikarenakan rasa cintanya sangatlah besar. Atau mungkin efek pelet cinta dari Mbah Yahya? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
...Ahhh Tutt... kamu salah paham itu🤧...
__ADS_1