
"Jangan bohong kamu, Sil!" Yenny kelepasan menyeru, dan dia tampak tak percaya.
"Sumpah demi Allah, Mom." Sisil langsung menggenggam tangan kanan sang mertua. Berusaha untuk meyakinkannya. "Ngapain juga aku melakukannya, Mom. Nggak penting. Lebih baik sekarang Mommy usir Kak Arya saja, supaya dia pergi."
Yenny langsung menarik Sisil untuk keluar dari kamar mandi, kemudian mereka pun melangkah menuju pintu kamar. Namun langkahnya terhenti saat Rama bertanya.
"Mommy sama Sisil habis membicarakan hal apa? Kok kayak serius?" Rama tampak begitu penasaran, apalagi dia tak sengaja mendengar Yenny yang sempat menyeru dengan mengatakan Sisil berbohong.
"Sebentar, Ram. Mommy sama Sisil keluar dulu, nanti biar Sisil yang jelaskan padamu." Setelah mengatakan hal itu, Yenny kembali menarik Sisil untuk ikut keluar bersamanya menemui Arya.
Dia ingin, biar Sisil saja yang mengusir laki-laki itu untuk pergi. Juga untuk membuktikan ucapan dialah yang benar, bukan ucapan Arya.
"Lho ... ke mana Arya?"
Saat keluar, keduanya justru tak melihat keberadaan Arya. Malah yang ada adalah Mbah Yahya.
"Daddy kapan sampai?" tanya Yenny kepada sang suami.
"Baru tadi." Mbah Yahya meraih gagang pintu kamar Rama, lalu menutupnya dengan rapat. Sebab dia sempat melihatnya terbuka sedikit. "Apa kalian mencari Arya?"
"Iya, Dad." Yenny mengangguk. "Tadi Mommy lihat dia ada di sini, tapi kok ngilang?"
"Udah Daddy usir."
"Tadi Daddy sempat ketemu Kak Arya berarti?" tanya Sisil, Mbah Yahya mengangguk.
"Apa benar yang dikatakan Arya, kalau kamu memintanya datang ke sini untuk menjenguk Rama? Tapi buat apa?" Pertanyaan Mbah Yahya sama persis dengan pertanyaan Mommy Yenny tadi.
"Sumpah demi Allah, Dad. Aku nggak pernah minta Kak Arya untuk datang. Daddy dan Mommy harus percaya sama aku." Sisil menatap kedua mertuanya bergantian, dengan raut penuh harap.
"Duduk dulu, Daddy ingin kita ngobrol." Mbah Yahya menunjuk kursi panjang di sampingnya, lalu duduk lebih dulu.
Yenny pun mengajak Sisil ikut duduk, dan perempuan itu sekarang sudah berada di tengah-tengah antara Yenny dan Mbah Yahya.
Jantung Sisil seketika berdebar kencang, saat melihat wajah serius dari Daddy mertuanya yang menurutnya cukup seram. Rasanya dia takut salah bicara, takut juga jika pria itu tak mempercayainya.
"Daddy nggak tau, ya, antara kamu dan Arya ... siapa yang jujur. Tapi jujur saja ... Daddy itu nggak suka sekali kalau sampai Arya dan Rama bertemu. Apalagi dengan kondisi Rama yang seperti ini. Kamu ngerti 'kan pasti alasannya?" Sorotan matanya begitu tajam kepada Sisil, hingga membuat perempuan itu menundukkan wajahnya dengan tubuh yang sudah gemetaran.
__ADS_1
"Ngerti, Dad." Sisil mengangguk cepat. "Tapi aku jujur di sini, Dad. Sama sekali aku nggak meminta Kak Arya untuk datang."
"Oke, Daddy akan berusaha buat percaya. Tapi bolehkah Daddy tanya sesuatu padamu?"
"Apa itu, Dad?" Sisil menatap sebentar kepada Mbah Yahya. Hanya sebentar, dan sekarang kembali menunduk.
"Kamu nggak ada niatan ninggalin Rama, kan, terus kembali sama Arya?"
"Enggak sama sekali, Dad." Sisil menggeleng cepat, lalu menyentuh dadanya yang berdebar. Tapi kali ini debarannya bukan karena takut, tapi debaran lain. "Suamiku hanya Aa Rama, dan selamanya akan seperti itu."
"Bagus!" Mbah Yahya mengangguk puas. Dia juga tersenyum, karena suka dengan jawaban menantunya. "Daddy harap kamu akan selalu ada disamping Rama, baik senang atau pun susah. Karena disaat-saat seperti ini ... Rama sangat membutuhkan dukungan, apalagi dari istrinya. Jangan juga kamu coba-coba untuk menyakiti Rama. Karena Daddy jamin kamu akan menerima akibatnya!" Diakhir kalimat, Mbah Yahya sengaja menekankan dan seolah mengancam. Itu semua dilakukan supaya Sisil takut dan tak berani menyakiti anaknya.
Karena dengan menyakiti Rama—itu sama saja menyakiti dirinya.
"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Aa, Dad. Aku janji," ucap Sisil dengan sungguh-sungguh.
"Daddy pegang janjimu ya, Sil. Ya sudah ... sana kamu masuk lagi dan temani Rama," titahnya.
"Iya, Dad." Sisil mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya dan buru-buru masuk ke dalam kamar rawat Rama.
"Saat ketemu Arya, apa yang Daddy katakan?" tanya Yenny penasaran, dia juga menggeser bokongnya supaya lebih dekat dengan Mbah Yahya.
"Daddy tau sejak kapan Arya mantannya Sisil? Dan berapa lama memangnya mereka pacaran?"
"Daddy nggak tau, mereka pacaran berapa lama. Cuma yang Daddy tau ... saat Rama memperk*sa Sisil, itu posisi dia sama Arya masih pacaran, Mom," jelas Mbah Yahya.
Yenny memang tidak tahu apa-apa tentang hal itu, sebab yang menjadi saksi perjuangan Rama mendapatkan Sisil adalah Mbah Yahya.
"Ooohhh ... terus Sisil minta putus dong, Dad. Atau Aryanya yang mutusin, pas tau Sisil udah nggak suci?"
"Mereka nggak ada yang mau putus awalnya. Arya bahkan ingin bertanggung jawab, meskipun tau Rama telah memperk*sa Sisil. Tapi ujungnya hubungan mereka kandas terhalang restu dari keluarga Arya, Mom."
"Keluarga Arya nggak setuju, Sisil menikah sama Arya? Apa karena Sisil nggak suci lagi, Dad?"
"Alasan pastinya Daddy kurang tau. Cuma yang Daddy inget ... dulu Daddy sempat ketemu Opanya Arya, terus dia mengatakan kalau Rama jangan sampai menikah dengan Sisil. Karena kemungkinan Sisil akan menguras hartanya."
"Daddy kenal sama Opanya Arya? Siapa?"
__ADS_1
"Namanya Ganjar. Dia salah satu pasien Daddy dulunya, Mom."
"Ooohhh ... jadi berarti keluarganya Arya nggak setuju karena berpikir Sisil matre ya, Dad?"
"Iya." Daddy mengangguk.
"Tapi ada bagusnya juga sih, mereka nggak setuju, Dad. Jadi Rama akhirnya menikah dengan Sisil." Yenny mengulum senyum.
"Iya. Tapi Daddy merasa curiga, Mom."
"Curiga sama siapa?"
"Sama Sisil dan Arya. Daddy juga takut mereka main belakang, apalagi Arya sepertinya masih suka sama Sisil. Buktinya dia sampai nekat ke sini segala."
"Coba Daddy nasehati Arya, minta dia untuk jangan mendekati Sisil lagi," saran Yenny.
"Dulu Daddy sudah sempat ngomong sama Opanya, suruh nasehatin Arya. Tadi juga Arya sih bilang datang cuma karena Sisil yang minta. Tapi nggak tau ... bener nggaknya, Daddy sendiri nggak percaya. Apalagi Sisil sendiri nggak ngaku. Cuma mungkin habis ini Daddy akan minta sama Evan buat awasi Arya juga."
Secara otomatis, pekerjaan Evan akan bertambah. Selain mengawasi Gisel dan mencari jantung perawan, dia juga akan mengawasi Arya.
"Aa ...," panggil Sisil seraya duduk kembali ke kursi kecil di samping ranjang.
"Tadi kamu sama Mommy ngomongin apa sih, Dek? Kayak serius banget," tanya Rama penasaran.
"Tadi ada ...." Sisil tiba-tiba menghentikan ucapannya sendiri. Itu semua karena dia ragu, serta takut jika menyebut-nyebut nama Arya akan membuat Rama sakit hati. Terakhir kali Sisil melihat Rama berubah, yaitu karena masalahnya dengan Arya.
"Tadi ada apa, Dek?" Rama jadi makin penasaran.
"Eemmm ... aku ingin ngomong jujur, tapi takut." Sisil menelan salivanya, lalu mengenggam tangan Rama.
"Kenapa takut? Bicara saja, Dek."
"Tapi Aa musti janji dulu."
"Janji untuk apa?"
"Janji jangan marah sama aku. Jangan juga cuekin aku, karena rasanya nggak enak banget tau, A," pintanya sedikit manja, lalu mengelus pipi Rama.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^