
"Mana ada p*rno sih, Om. Adegannya juga nanti bakal disensor kok," kilah Sisil.
"Disensor gimana? Kan ada adegannya. Berarti nanti kelihatan dong orang tel*anjang berdua," sahut Rama.
"Maksudnya, alat kel*aminnya nggak bakal dilihatin ke penonton. Paling ditutup gitu, atau diblur."
"Tapi tetap saja nggak boleh. Itu haram namanya, Dek. Bentar lagi puasa lho, kita, masa nonton begituan?" Rama terlihat tak setuju. Tapi memang benar apa yang dia katakan, menonton film seperti itu hanya membuat dosa jariyah. Apalagi kalau sampai benar-benar ikut ter*ngsang.
"Ah Om nggak seru!" Sisil mendengkus kesal. Tangan Rama pun langsung dia tepis di bahunya, dan bibirnya itu seketika mengerucut macam terompet.
Dia juga belum pernah menonton film yang ada adegan ranjang, maka dari itu Sisil menginginkan supaya mengobati rasa penasaran.
"Kamu ini Dek, Dek, aku 'kan ngasih tau yang bener. Kan demi kebaikan kita bersama juga. Lagian nggak ada faedahnya nonton adegan mesum orang lain, mending kita saja yang berbuat mesum," tegur Rama menasehati.
Langkah kaki Sisil pun seketika terhenti, lalu bersedekap dada. Padahal mereka sudah sampai lift, ingin naik dan menuju lantai 8. Tepat di mana bioskop itu berada.
"Kenapa, Dek? Kok berhenti?!" tanya Rama heran. Dia pun mendekat lalu merangkul lagi bahunya.
"Aku nggak jadi mau nontonnya," jawab Sisil ketus dengan gelengan kepala. Wajahnya tampak begitu cemberut sekali.
"Lho, kenapa?" tanya Rama. "Oh, apa karena nggak boleh sama aku? Boleh aja, Dek, asal carinya jangan yang ada adegan ranjang. Yang kiss-kiss mah nggak apa-apa."
'Sama aja, itu tandanya nggak boleh,' batin Sisil dengan refleks mengusap perut.
"Ayok, Dek, nanti tiketnya keburu kehabisan," ajak Rama yang menarik pelan tubuh sang istri. Akan tetapi gadis itu malah menahan kakinya supaya tak melangkah.
"Nggak deh, aku udah nggak mood nonton." Sisil kembali menggeleng cepat. Bukan hanya tidak mood nonton, tapi memang moodnya sudah jelek sekarang.
Rama menghela napasnya dengan berat. Lagi-lagi, dia harus mengalah. "Ya sudah, ya sudah, kamu boleh nonton deh, tapi hanya sekali ini saja. Habis ini tobat, ya, ayok!" ajaknya lagi. Tapi kembali, Sisil menahan kakinya.
"Aku kepengen pulang ke Indonesia saja deh, pengen nontonnya sama Citra." Sisil menepis bahu Rama, kemudian melangkah cepat menuju pintu keluar mall.
Rama langsung berlari mengejar, lalu dengan cepat menggendong tubuhnya. Sisil ini memang lebih baik dipaksa, kalau memang dengan bicara baik-baik pun sudah tak didengar.
"Ih, Om! Ngapain digendong segala?! Malu!" cicit Sisil terkejut. Wajahnya langsung merona. Antara senang karena digendong dan malu karena dilihat umum.
Rama tak menanggapi, dia segera membawanya masuk ke dalam pintu lift yang baru saja terbuka, lalu menempelkan tubuh Sisil ke dinding besi.
Cup~
__ADS_1
Secara tiba-tiba, Rama meraup kasar bibirnya dan sontak membuat Sisil terbelalak. Tapi dia tak berkutik sama sekali, malahan membalas ciuman Rama karena sesungguhnya Sisil sangat menyukai sentuhan itu.
'Kamu memang lebih nurut kalau diajak bercumbu ya, Dek,' batin Rama.
Untungnya, di dalam lift itu hanya ada mereka berdua. Jadi aman tidak ada yang tahu.
Sisil menangkup kedua pipi Rama, lalu menyesap lidah sang suami saat mulai menjulur kepadanya.
Ciuman yang mereka lakukan itu cukup panas, sampai-sampai terdengar suara decapan. Hanya saja durasinya sebentar, sebab pintu lift itu seketika terbuka.
Ting~
Rama langsung melepaskan ciumannya, lalu menurunkan tubuh Sisil dari gendongan. Setelah itu mereka sama-sama keluar dari lift sebab banyak orang yang ingin masuk.
"Hanya sekali saja ya, Dek, kita nonton film beginian. Besok-besok nggak boleh, apalagi bulan puasa," tegur Rama saat keduanya melangkah menuju tempat pembelian tiket. Sisil langsung memeluknya, lalu menciumi dada Rama yang beraroma wangi. Benar-benar sangat memabukkannya.
'Kenapa, ya, kok semakin hari aku kayaknya kepengen deket-deket mulu sama Om Rama? Apa mungkin efek kita masih pengantin baru?' batin Sisil bingung. 'Tapi kadang, aku masih suka ngerasa takut ... kalau suatu hari nanti aku akan kehilangan Om Rama.'
***
Jakarta, Indonesia.
"Bagus. Cepet juga kerjamu, Van," puji Mbah Yahya seraya mengambil. Lantas dia pun berdiri dari duduknya.
"Iyalah, Pak, Evan gitu lho!" seru Evan dengan bangga seraya menepuk dadanya.
"Sekarang kita langsung ke rumah praktek. Aku ingin cepat menerawangnya." Mbah Yahya sudah melangkah lebih dulu menuju pintu rumahnya. Dan Evan segera berlari menyusul.
*
*
*
30 menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai ditujuan. Sudah banyak sekali orang yang mendaftar, ingin melakukan pengobatan. Semuanya menunggu dikursi yang sudah disediakan.
"Sini kamu!" Mbah Yahya menggerakkan tangannya pada pria berbaju Koko hitam. Dia duduk dikursi bersama temannya yang mengatur urutan pasien.
"Selamat pagi Mbah," sapanya sambil membungkuk sopan saat sudah berdiri di depan. Lalu dia pun menatap ke arah Evan. "Pagi Bang Evan."
__ADS_1
Sebagai asisten pribadinya, tentunya Evan juga dihormati di sana.
"Pagi, Pak." Hanya Evan yang menjawab. Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Jam segini udah berapa yang daftar?" tanya Mbah Yahya kepada pria berbaju koko. Dia juga sambil menatap jam dinding besar yang menempel di tembok. Di sana menunjukkan pukul 10 pagi.
"50 orang, Pak," jawabnya.
"Pendaftarannya langsung ditutup hari ini, ya, soalnya aku ada urusan," titah Mbah Yahya.
Biasanya kalau tidak langsung ditutup bisa-bisa mencapai ribuan lebih perhari. Itulah sebabnya kadang Mbah Yahya sampai tidak bisa pulang dan memilih menginap di sana.
"Baik." Pria itu mengangguk. Setelah itu dia melihat Mbah Yahya dan Evan melangkah masuk ke dalam kamar prakteknya.
Evan langsung menghamparkan tikar pandan untuk Mbah Yahya duduk, kemudian dia meletakkan alat-alat untuk praktek di depannya, yang awalnya diambil dari meja kayu dipojok kamar itu.
Setiap hari, itulah pekerjaan utama Evan. Dan kalau bahan-bahan dasar untuk praktek Mbah Yahya sedikit lagi mau habis, dia juga yang akan bertanggung jawab.
"Saya permisi ya, Pak. Mau ke rumah sakit," ucap Evan pamit.
"Mau ngapain ke rumah sakit? Kamu sakit?" tanya Mbah Yahya seraya mengganti pakaian, dengan memakai jubah hitam.
"Saya ingin mengecek kondisi Nona Gisel, soalnya saya membuatnya pingsan lalu saya tinggal di rumah sakit, Pak."
"Kok kamu bisa buat dia pingsan?!" Mbah Yahya perlahan duduk bersila di atas tikar, kemudian menaruh kedua foto Gisel dan foto KTP-nya di samping tempat menyan.
"Kalau nggak digituin ... mana bisa saya mendapat identitasnya, Pak."
"Oh ya sudah, tetap awasi. Tapi dari kejauhan saja biar nggak ketahuan."
"Baik, Pak." Evan mengangguk sambil membungkuk sopan, kemudian melangkah keluar dari sana dan menutup pintu.
Sebelum memulai praktek penerawangan, Mbah Yahya lebih dulu memerhatikan foto KTP milik Gisel. Kemudian membaca nama lengkapnya.
"Gisella Erlangga," ucapnya, lalu mengerutkan kening heran. Sebab nama belakang Gisel, sepertinya sama dengan nama belakang Ganjar. "Kok bisa sama, ya? Apa mungkin hanya kebetulan?" tebaknya.
Mbah Yahya pun langsung membakar menyan di atas tumpu tempatnya, kemudian meraih foto Gisel sambil berkumat-kamit membaca mantra. Setelah itu dia pun mulai memejamkan mata dan berkonsentrasi.
...Hari Senin, nih, jangan lupa hadiah dan votenya Guys 🤧...
__ADS_1