
"Enggak, Pak," jawab Evan dengan gelengan kepala. "Tapi mobil yang Nona Gisel tunggani warnanya putih."
"Berapa plat nomornya?"
"Saya nggak memerhatikan, Pak."
"Tapi ada?"
"Apanya?"
"Plat nomornya."
"Ada." Evan mengangguk.
Mbah Yahya terdiam sebentar. Sembari mengingat pelaku yang menculik Rama. Warna mobilnya memang berbeda, apalagi tak ada plat nomor. Tapi meski begitu, entah mengapa dia jadi mencurigai Gisel sekarang.
"Kenapa kamu nggak ikutin terus mobil itu sih, Van, sampai kamu tau siapa yang mengemudi?"
"Kan Bapak telepon saya, minta saya cepat datang dan membelikan sate. Jadi saya langsung ke sini, Pak."
"Aku nggak tau, kalau kamu lagi mengawasi Gisel hari ini. Tapi besok-besok ... kamu awasi terus Gisel, ya, Van. Entah mengapa aku jadi curiga sama dia."
"Curiga?!" Kening Evan terlihat mengerenyit. Dia tampak tak mengerti. "Curiga kenapa, Pak?"
"Curiga, kalau ternyata Gisel dalang dari kecelakaannya Rama."
"Tapi bukannya kata Bapak pelakunya seorang pria, ya? Dua pria 'kan?"
"Iya. Emang dua pria. Tapi bisa saja dia orang suruhan. Kan kamu juga tau sendiri ... kalau Gisel itu terobsesi sama Rama. Bisa saja 'kan dia berbuat nekat?"
"Iya juga, sih." Evan mengangguk. Bahkan dia juga awalnya orang yang pernah mencurigai Gisel. 'Tapi semoga saja bukan. Ya kalau memang ternyata benar Nona Gisel pelakunya ... itu berarti Nona Gisel masih mengharapkan Pak Rama. Jadi Nona akan terima akibatnya dariku,' batin Evan sambil mengepalkan kedua tangannya di atas paha.
***
__ADS_1
Di rumah Mbah Yahya.
Sekitar jam 12 malam, Rama keluar dari kamarnya dan berniat turun untuk menemui Yenny. Sebab dia mendengar suara televisi yang masih menyala.
Mendadak Rama merasa khawatir kepada Sisil, ditambah rindu juga karena sampai sekarang perempuan itu belum pulang.
"Mom ... Sisil sama Daddy kok belum pulang, ya? Jam berapa kira-kira mereka pulangnya?" tanya Rama yang sudah menghentikan langkahnya di depan Yenny. Perempuan itu sedang menonton film india, sambil mengunyah kacang.
"Eh, Ram." Yenny langsung menoleh, lalu tersenyum. "Nggak usah nungguin mereka pulang, Ram. Tadi Daddy soalnya telepon Mommy ... ngasih tau kalau mereka mau menginap di rumah sakit."
"Lho, kok nginep sih?" Rama terlihat kecewa. "Terus Sisil tidur sama siapa di sana? Nggak mungkin sama Daddy, kan?"
"Ya nggak mungkin lah, Ram. Aneh-aneh saja kamu ini." Yenny terkekeh.
"Aku kepengen ke sana, Mom. Atau kita berdua saja gimana?"
"Enggak usah, Ram." Yenny menggeleng. "Kita di sini saja. Mending sekarang kamu tidur gih, udah malam! Besok 'kan kita sahur."
Rama perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu membuka ponselnya dan kembali menelepon Sisil.
Namun sayangnya, nomor perempuan itu tidak aktif. Dan memang sejak terakhir telepon tadi, nomornya sudah tidak aktif.
"Ke mana sih kamu, Dek? Apa kamu nggak kangen, ya, sama aku?" Rama perlahan meraba miliknya, yang memang sedari tadi bangun.
Sekelebatan dia jadi mengingat momen dimana Sisil menyedot miliknya. Aahhh ... jadi merinding bulu kuduknya sekarang, tubuhnya pun ikut meremmang tak karuan.
***
Di tempat berbeda, Sisil juga merasakan rindu yang sama. Alasan nomornya tidak bisa dihubungi karena memang benda itu mati, akibat kehabisan daya.
Bisa saja dia pinjam ponselnya Gugun, untuk menelepon Rama. Tapi dia memilih tidak melakukannya, sebab nantinya dia justru makin merindukannya.
Kalau boleh jujur, sekarang pun dia sedang menahan gejolak hasratnya. Karena memang hampir setiap hari aktivitas itu rutin dilakukan, jadi sehari saja tidak melakukan—rasanya sangat hampa.
__ADS_1
"Kok kamu nggak tidur, Sil?" Gugun terbangun dari tidurnya, lalu menatap ke bawah pada Sisil.
Perempuan itu tengah berbaring di atas kasur lantai seorang diri, dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
"Iya, Kak. Belum ngantuk aku." Sisil langsung menatap Gugun, lalu mengulas senyum. "Kakak sendiri kenapa bangun? Kakak kepengen apa?" Dia pun perlahan bangkit, lalu duduk dikursi kecil di samping Gugun.
"Kakak nggak kepengen apa-apa." Gugun menggeleng pelan. "Kalau kamu kangen sama Rama, kamu pulang saja, Sil." Dia seakan bisa membaca pikiran adiknya, padahal Sisil sendiri tidak mengatakan hal itu.
"Masa aku pulang? Enggaklah, Kak." Sisil menggeleng, lalu mengenggam tangan Gugun. Tak mungkin juga dia meninggalkan Kakaknya dengan kondisi seperti ini. Tidak tega. Meskipun saat ini dia memang sangat merindukan suaminya. "Aku mau nemenin Kakak di sini, sampai Kakak sembuh dan keluar dari rumah sakit."
"Besok Kakak pasti sudah sembuh." Gugun tersenyum. Perlahan dia pun mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi kanan Sisil. "Tapi kamu musti tidur, Sil. Perempuan hamil itu nggak boleh begadang."
***
Ternyata, bukan hanya Sisil dan Rama saja yang kesulitan tidur malam ini. Melainkan Tuti juga.
Entahlah, padahal dia tidak sedang memikirkan apa pun. Tapi mendadak perasaannya jadi tak tenang dan membuatnya sedari tadi tak mengantuk.
"Ish! Kok mata belum ngantuk juga, sih? Padahal besok 'kan aku musti berangkat pagi buat wakilin Pak Rama yang mau bagi-bagi THR." Tuti pun memejamkan matanya kembali, lalu memeluk guling.
"Apa kamu nggak benar-benar mencintai Gugun, Tut?"
Degh!
Jantung Tuti tiba-tiba berdebar kencang, saat telinganya mendengar jelas ada yang bertanya padanya. Kedua matanya itu langsung terbuka dengan lebar, lalu menoleh ke arah kanan tepat pada asal suaranya tadi.
"Astaghfirullahallazim!" Sontak, dia berlonjak dari posisinya, lantaran kaget saat melihat sesosok pria yang sudah berdiri di hadapannya.
Wajahnya mirip seperti Gugun, hanya saja bedanya kumisnya terlihat begitu tebal.
"Ngapain Mas ada di sini? Katanya Mas sakit? Keluar dari sini sekarang!" teriaknya mengusir. Tuti juga sampai melayangkan bantal ke arahnya, tapi sontak dia terkejut lantaran bantal itu langsung tembus begitu saja pada tubuhnya.
...Hayo lho, Tut ....🙈🙈...
__ADS_1